/kê.rung/
1. lekuk (pada sendok dan sebagainya)
2. lubang berbentuk bulat dalam suatu benda
***
Obstacles are those frightful things you see when you take your eyes off your goal.
– Henry Ford
***
Karina larut dalam musik yang terhentak di headphone. Tangannya diangkat ke atas dan menirukan gerakan yang terpampang di layar laptop. Di saat itulah pintu kamarnya terbuka.
"Kenapa nggak ngetuk?" tanya Karina.
Arina melangkah masuk dan duduk di atas kasur Karina untuk yang pertama kalinya. "Udah ngetuk, kok. Kamu yang ga denger."
Karina menghentikan video yang tengah ia tonton. Fokusnya berpusat pada gadis yang tengah membuka fotokopi buku asing dan pensil di tangan.
"Tumben ke sini," Karina berujar sambil menutup pintu.
"Jangan ditutup!" pinta Arina.
Karina mengernyit. "Aku lagi nari-nari gini. Rasanya ga enak kalau pintunya ga ditutup."
"Aku juga nggak mau di sini. Pengap." Arina menghela napas. "Ayah ke sekolah. Nanya kita berantem apa nggak."
Bola mata Karina membulat. "Tau dari siapa?"
"Guru pembimbing ekskul Jepang." Arina melemparkan buku ke kasur. "Sebel banget. Ga sering ngobrol aja dibilang berantem."
Karina mengambil buku Arina. Ia dihadapkan dengan rumus matematika asing. Tanpa berkedip, ia berkomentar, "Mau gimana lagi. Hobi kita beda."
"Makanya!" Arina mengeluh. "Aku di sini dulu aja, biar keliatan bareng kamu. Biar pas Mama atau Ayah pulang, mereka liat kita lagi bareng."
"Tapi aku lagi keringetan gini, lo. Aku ga akan buka buku sama sekali. Nggak apa-apa kalau kita cuma hang out ga jelas?"
"Harusnya nggak apa-apa, tapi nggak tau juga. Usaha dulu, deh."
Karina tak menjawab. Ia langsung memasang headphone dan kembali pada kesibukannya.
Pintu pagar terbuka. Tak lama kemudian, Mama melesat ke lorong rumah dan muncul di depan kamar Karina.
"Ngapain Arina di sini?" tanya Mama.
"Lagi ngobrol sama Karina," jawab Arina.
Mama melirik Karina yang masih menghapal koreografi cheerleader.
"Kamu sadar, nggak, sih, kamu lagi ganggu Karina?" ungkap Mama.
"Ganggu gimana?" tanya Arina.
"Karina lagi ngapalin koreo. Kamu malah di sini, ngebagi fokus Karina."
Arina memalingkan muka. Karina bahkan tak sadar akan kehadiran Mama. Mau tak mau, Arina menepuk punggung Karina.
"Ah, ada Mama," ucap Karina.
"Karina, kamu keganggu sama Arina di sini, ya?" tuduh Mama.
"Arina dari tadi duduk aja, kok, Ma. Dia ngerjain buku olimpiade matematika. Kita sesekali ngobrol aja, seandainya aku lagi bosen ngapalin koreo," bela Karina. "Kenapa emangnya, Ma? Arina nggak boleh duduk di sini?"
"Ya boleh sih." Mama menggaruk kepala. "Mama khawatir Karina jadi nggak fokus aja."
Arina menyela, "Karina baru sadar Mama datang setelah aku tepuk punggung."
YOU ARE READING
[2/3] Padmasana
CintaBuku kedua dari trilogi Wanantara. . Dalam bahasa sansekerta, Padmasana berarti 'singgasana'. Satu minggu adalah waktu yang cukup untuk menelan dan memaknai perubahan. Sayangnya, kepala Arina kalut menghadapi realita yang terus berganti. Ayahnya nya...
![[2/3] Padmasana](https://img.wattpad.com/cover/188974574-64-k664004.jpg)