/sa.hih/
sah; benar; sempurna; tiada cela (dusta, palsu); sesuai dengan hukum (peraturan)
***
Truth can hurt; truth can be confronting; truth doesn't change; and no lie will ever come from the truth.
― H.C. Roberts
***
Kembali, Arina membuka mata. Pedih menusuk matanya yang sembab akibat air mata yang bersimbah.
Memorinya memutar kondisi tatkala ia dipisahkan dengan Ayah. Ia mengingat Karina yang erat merengkuhnya, lalu Papa yang menepuk pundak Ayah. Entah apa kata-kata yang tertutur di antara Papa dan Ayah, namun Arina tak sempat menangkapnya.
Seketika, Arina termenung. Karina terlelap di sebelahnya.
Karina tak meinggalkannya di kala temaram.
Arina berusaha memejamkan mata, namun kantuk tak juga mengetuk. Alhasil, ia terkulai di kasur.
Pagi baru dimulai setelah Karina terjaga. Mereka hanya sempat shalat Shubuh. Tiba-tiba, Arina diminta untuk bersiap dan diseret keluar oleh Karina dan Papa. Ungkap mereka, Karina akan mengunjungi rumah kakek dan nenek dari pihak Mama. Alhasil, Arina terpaksa terjaga dengan mata bengkak.
Di jalan, duka menyelubungi Arina. Tanpa suara, Karina kerap melirik kaca dashboard dan mengamati saudaranya yang masih lunglai.
Entah berapa lama perjalanan berlangsung. Arina memejamkan mata. Kantuk tak terbit, namun mata terlalu perih untuk menyambut hari.
Resah.
Kepalanya disandarkan ke kaca mobil. Mobil yang bergetar membuat Arina duduk tegak. Sayangnya, ia tak punya energi untuk menjaga pose sempurna. Alhasil, ia merebahkan diri di jok belakang.
Arina merasakan kecepatan mobil yang turun. Sepertinya, mereka sudah dekat dengan rumah kakek dan nenek Karina.
Tiba-tiba, Karina berseru, "Kenapa ada mobil Ayah di depan rumah Kakek?"
Arina bahkan tak memiliki tenaga untuk duduk tegak dan mengecek. Saat mobil berhenti, Karina langsung membuka pintu dan turun.
Sepertinya, Karina langsung masuk ke rumah Kakek dan Nenek. Papa belum terdengar keluar dari mobil.
"Arina mau di mobil aja?" tawar Papa.
Arina membuka mata.
"Kalau masuk, ada Ayah sama Mama kan?" tanya Arina.
"Kalau Arina masuk, ada Papa. Ada Karina. Ada Kakek. Nenek juga masak kue dan bikin nasi kuning. Papa sama Karina emang sengaja belum sarapan, mau makan di sana." Papa berhenti berbicara. "Ada air putih juga. Arina haus, kan?"
Papa benar. Terlalu banyak menangis membuat tenggorokan Arina kering.
Lemah, Arina bangkit. Papa menunggu Arina turun dan mengunci pintu mobil. Bersama, mereka masuk ke rumah Kakek dan Nenek.
Di dalam, Arina melihat Karina berdiri di dekat meja makan. Suara Karina meninggi.
Melihat Papa dan Arina mendekat, Ayah berdiri dan merentangkan tangan, seolah hendak menyambut putrinya. Karina langsung menepis tangan Ayah.
"Karina, jangan bikin ribut," peringat Ayah.
"Siapa yang mulai?" Karina berkata, penuh amarah.
"Udah udah," Kakek mengingatkan. "Jangan berantem di sini. Belum sarapan pagi, kan? Ayo makan."
YOU ARE READING
[2/3] Padmasana
Ficción GeneralBuku kedua dari trilogi Wanantara. . Dalam bahasa sansekerta, Padmasana berarti 'singgasana'. Satu minggu adalah waktu yang cukup untuk menelan dan memaknai perubahan. Sayangnya, kepala Arina kalut menghadapi realita yang terus berganti. Ayahnya nya...
![[2/3] Padmasana](https://img.wattpad.com/cover/188974574-64-k664004.jpg)