Zayyan terperanjat. Ia segera menaruh kompres dinginnya di atas meja dan berlari ke arah pintu, sebelum mamanya melakukan sesuatu yang tidak membuat keadaan semakin baik.
"Zar, gue aja," Zay menepuk pundak Hayzar. Hayzar mengangguk, kemudian mundur, membiarkan Zayyan mengambil tempatnya.
"Kenapa, Ma?" Zayyan perlahan keluar dari kamar, menutup pintu kamarnya agar percakapannya dengan sang mama tidak sampai terdengar ke dalam.
"Ada masalah apa?" tanya mama Zayyan tegas. Ini adalah versi mama yang paling Zayyan tak sukai. Keras dan mengintimidasi.
"Nothing. Cuma salah paham," balas Zayyan tenang. Ia berusaha tak terlihat kisruh di hadapan mamanya --walau sebetulnya ia kacau luar dalam.
"Is it necessary sampai harus tonjok-tonjokan?" mama Zayyan berusaha meraih dagu Zayyan. Namun, remaja itu berkelit.
"Aku udah gede, Ma. I'll solve it myself. Tolong Mama nggak usah bilang siapa pun, apalagi Mizz Iren. Don't make this problem bigger, Ma."
"But you did! Kamu yang buat semua masalahnya jauh lebih besar dan ruwet! Seantero akademi akan ngomongin kamu sekarang!" bentak mama Zayyan tertahan, "Obey me, Zayyan. Pindah."
Zayyan menggeleng, "Mama yang ajarin aku nggak boleh lari dari masalah. Here I did. Aku nggak akan pindah sampai salah satu temenku yang ngusir, Ma. Aku harap Mama paham dan stop ke sini dulu, Mama narik perhatian akademian yang lain. Zayyan masuk dulu, Ma," Zayyan menutup pintu kamarnya perlahan, menyisakan mamanya yang masih berdiri di depan kamar.
Ia berbalik, menyenderkan punggungnya pada kusen pintu. Tubuhnya beringsut dan jatuh terduduk di sana. Wajahnya ditenggelamkan di kedua lututnya.
Ia benci keadaan seperti ini. Dimana segalanya sudah tidak bisa diulang atau diperbaiki. Dimana semua yang terjadi seolah anti-berpihak pada diri.
Sementara Jeff yang melihatnya, hanya bisa mengembuskan napasnya berat, merasa menyesal di satu sisi sebab emosi begitu menguasai dirinya tadi.
Hayzar tetap duduk, ia berusaha tenang dan berpikir secara rasional, tetapi kini ia coba mempertimbangkan segalanya dari berbagai sisi, seperti apa yang pernah Jeff katakan.
Demi Tuhan, rasanya ini jauh lebih membingungkan daripada penugasan ambigu yang kerap diberikan kakak tingkat selama Ospek teknik mesin dahulu.
Mereka hanya diam, diselimuti keheningan yang rasanya begitu kelam, dihantui rasa pilu yang begitu kejam. Seumur hidupnya, Hayzar tak pernah menyangka akan ada di posisi yang sulitnya melebihi ujian fisik masuk akademi.
Peningnya semakin terasa. Ia sudah katakan dari sebelum masuk kamar bahwa ia tak mau berpikir terlalu ngoyo saat ini. Namun, lihatlah segala hal yang ada di hadapannya. Semua seolah tak membiarkan Hayzar tenang dan sempat melahap sarapannya yang bahkan perannya sudah tergantikan makan siang.
"Biar gue obatin dulu luka lo," Hayzar memecah keheningan dengan berpindah duduk di samping Jeff. Ia mengambil obat merah dan cottonbud dari kotak P3K dan perlahan mengobati luka basah di pipi atas Jeff.
"Perih sedikit, tahan dulu," ucapnya sebelum mengoleskan obat merah yang ada di kepala cottonbud.
"Ah, perih!" Jeff mengerang pelan. Hayzar mengoleskan obatnya lebih pelan sembari meniup luka di pipi Jeffan agar rasa perihnya sedikit berkurang.
KAMU SEDANG MEMBACA
End(less) Rainbow (HeeJake)
FanfictionHanya perihal Hayzar, si remaja hitam putih yang bertemu Jeff, seseorang yang memberi corak warna pada gurat monokromnya, lewat sebuah nampan makan siang.
