Hayzar berlari pelan, menyusuri lorong gedung asrama hingga tiba di depan konter bagian informasi asrama. Sebelum keluar, ia harus meminta izin dan mengonfirmasi ke bagian informasi asrama karena di situlah pusat segala perizinan akademian terjadi.
"Selamat malam, Maam. Mohon maaf, saya mau izin keluar sebentar, mencari teman saya di cafe seberang," ucap Hayzar. Wanita yang berjaga di dalam menatap Hayzar.
"Boleh. Tulis nama di buku perizinan, ya. Kembali sebelum jam sepuluh malam. Okay?"
"Baik, Maam," Hayzar bergerak mengambil pulpen lalu menuliskan namanya pada buku perizinan itu.
"Anyway, mau cari siapa?" tanya wanita paruh baya itu halus. Sorot matanya begitu hangat, garis senyumnya seperti umpan yang dilayangkan agar orang yang menjadi lawan bicaranya dapat selalu berada dalam keadaan bahagia.
"Jeffan, Maam. Akademian dari kamar 202."
"Jeffan? Jeffan Shaka?" tanya wanita itu, keningnya sedikit berkerut.
"I-iya, Maam. Maam kenal dia? Tadi dia izin kemana, ya?" Hayzar balik bertanya.
"Kenal, dia teman kamarnya anak Maam, tadi izinnya memang ke cafe seberang itu. Dia juga tulis izin di buku itu. Coba cari di sana."
Hayzar sedikit melongo, "Berarti Maam ini mamanya Zayyan, ya?"
Wanita itu lalu mengangguk, "Iya, kamu akademian baru? Baru ketemu Maam sekali ini, ya?"
Hayzar membungkukkan badannya sedikit, sebagai isyarat kesopanan pada mama teman kamarnya. "Iya, Maam. Saya teman kamarnya Zayyan juga. "
"Oh, kamu Hayzar yang baru saja masuk, ya? Wah, senang ketemu dengan Hayzar. Waktu Hayzar urus administrasi waktu itu, Maam lagi ada urusan di luar, tapi Maam tahu ada akademian baru namanya Hayzar," mama Zay bercerita antusias. Bibirnya tersenyum cerah. Mama Zay lalu memberikan secarik kertas izin pada Hayzar.
"Wah, terima kasih, Maam. Senang bisa bertemu dengan Maam juga. Hayzar mohon bantuannya selama di sini, ya, Maam. Oh iya, kalau gitu, Hayzar izin dulu, takut keburu malam."
Setelah menerima sepucuk balasan dari mama Zay, Hayzar langsung melaju menyusur malam, melewati halaman senyap akademi. Langkah kakinya bergema pada pijakan semen halaman, bekerja seiring dengan putaran otaknya yang dipenuhi kalimat mengapa Hayzar harus begitu peduli?
Kalau dipikirkan lagi, memang sepantasnya pikiran itu harus ada. Begini, Hayzar dapat dikatakan baru beberapa hari yang lalu mengenal Jeff, itu pun hanya sekadar nama, nama lengkap --yang sebenarnya juga tak begitu dihapalkannya-- dan satu kegemarannya untuk duduk di taman dekat gedung A yang sejuk itu.
Lainnya? Hayzar mana pernah tahu. Ah, lebih tepatnya, belum tahu. Jeff sudah tahu beberapa hal mengenainya, tetapi Hayzar belum banyak mengetahui mengenai pribadi Jeff sendiri.
Di tengah ketidaktahuan itu, sebuah hal yang begitu wajib dipertanyakan adalah mengapa Hayzar sulit-sulit mencari keberadaan Jeff saat ini? Hayzar bahkan masih dikatakan buta peta. Academy tour saja baru kemarin dilakukannya, pun belum ia hapal semua tepat lokasinya. Dan kini, ia diharuskan untuk keluar akademi dan mencari Jeff yang entah di mana persis posisinya?
Tunggu, memang ada yang mengharuskannya mencari Jeff?
Kenapa ia harus sebegitu pedulinya? Wong, Jeff adalah akademian yang sudah setahun di sini, tidak ada alasan untuknya tersesat pulang ke asrama. Toh, Hayzar juga baru saja mengenal Jeff, terbatas nama dan sebuah kegemaran yang mungkin semua orang juga mengetahuinya, lalu buat apa dia mengambil risiko besar hanya untuk mencari teman sekamarnya?
KAMU SEDANG MEMBACA
End(less) Rainbow (HeeJake)
أدب الهواةHanya perihal Hayzar, si remaja hitam putih yang bertemu Jeff, seseorang yang memberi corak warna pada gurat monokromnya, lewat sebuah nampan makan siang.
