🔗R. 202, Dormitory of National Academy Of Aviation, 07.40
Sinar sang surya sudah tanpa malu-malu memencarkan diri. Merayap ke setiap sudut kaki dunia, memastikan tak ada sepucuk bagian pun yang masih dirundung kegelapan.
Cahaya tipis-tipis yang masuk melalui ventilasi kamar 202, disambut lumayan baik oleh ketiga penghuninya. Hayzar yang paling awal mengerjapkan matanya. Menyesuaikan cahaya yang menembus retinanya setelah sekian jam mengalami kegelapan.
Dilanjutkan oleh Zayyan yang perlahan menggeliatkan tubuhnya. Semalaman tidur dengan posisi miring memeluk Shaka, sangat cukup membuat punggung juga tangannya kebas dan pegal. Sementara Shaka yang berada dalam pelukan Zay, sontak ikut terbangun ketika merasakan gerakan pada guling bernyawa yang dipeluknya.
Hayzar masih dengan mata setengah tertutupnya berjalan ke arah kamar mandi. Setiap kamar memiliki dua buah kamar mandi dalam. Biasanya, setiap pagi, Hayzar akan melakukan ritual rutin sesuai dengan jam pengeluaran sampah dari tubuhnya.
"Lo mau ikut kelas Mr. Cakra pagi ini?" tanya Zay sembari mengusak pelan rambut Shaka, berusaha mengambil atensi Shaka yang masih setengah ada setengah hilang.
Shaka menggeleng, "Nggak. Willy juga ambil kelas itu, males ketemu dia."
Zay terkekeh pelan, "Ya udah nanti gue izinin. Gue mandi dulu," Zay merangkak lalu turun dari ranjang tingkatnya berjalan menuju sebuah kamar mandi yang masih kosong.
Shaka mengangguknya kepalanya pelan, membalas ucapan Zay, walaupun ia sendiri juga tak yakin Zay dapat melihatnya. Masa bodoh, ia masih mengantuk rasanya.
Beberapa menit kemudian, orang terakhir mulai mengerjapkan matanya. Jeff menggeliatkan tubuhnya, tangannya merogoh bawah bantal dan meraih ponselnya. Pukul 08.00.
Mati. Jeff punya kelas pagi pukul setengah sembilan nanti. Jeff segera bangkit dan berlari meraih handuknya.
Ya. Sungguh pagi yang sangat menyebalkan, kedua kamar mandi itu dipakai oleh kawan sekamarnya. Sial, apa yang harus ia lakukan?
Hingga salah satu pintu kamar mandi terbuka. Menampakkan Hayzar hanya dengan balutan handuk di pinggangnya, rambutnya basah, tetapi pada penglihatan Jeff, itu hanya basah air biasa. Sepertinya Hayzar baru membasahi rambutnya untuk keramas.
"Eh! Jeff, lo ngapain di sini?!" pekik Hayzar terkejut. Bukan apa-apa, masalahnya dirinya saat ini bertelanjang dada di hadapan orang yang baru saja ia kenal. Tidak ada perasaan lain selain malu yang menghinggapi diri Hayzar saat ini.
"Lah, lo sendiri ngapain keluar-keluar topless begitu?" Jeff membalikkan pertanyaan Hayzar.
"Gue mau ambil sampo, mau keramas, tapi lupa bawa sampo gue. Gue udah terlanjur basahin rambut," jawab Hayzar.
"Udah pake sampo gue aja ini. Tapi mandinya bareng, ya," Jeff melangkahkan kakinya mendekati Hayzar yang masih berdiri di dalam kamar mandi.
"HAH? Jeff! Jangan aneh-aneh!" pekik Hayzar. Ia berusaha menghadang Jeff agar tidak masuk ke kamar mandi.
"Gue ada kelas, Zar, pagi ini. Tega lo liat gue dihukum? Lagian lo sama gue sama-sama cowok, Zar, nggak kenapa-kenapa, kan?" Jeff menyingkirkan rentangan tangan Hayzar yang menutup jalannya. Dengan mudahnya ia menyelusup ke dalam kamar mandi dan mengunci pintunya dari dalam.
'Bagi gue, itu kenapa-kenapa, Jeff.'
🌹🌹🌹
"Lo kenapa nggak bangunin gue, sih?" gerutu Jeff dalam perjalanannya menuju gedung A. Di sampingnya, Zay berjalan sambil sesekali membenarkan tas punggungnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
End(less) Rainbow (HeeJake)
FanfikceHanya perihal Hayzar, si remaja hitam putih yang bertemu Jeff, seseorang yang memberi corak warna pada gurat monokromnya, lewat sebuah nampan makan siang.
