25) Someone

288 17 14
                                        

"Selamat siang, dengan penolong korban tabrakan yang tadi?"

"Iya, Sus."

"Pasien dalam keadaan darurat, kami harus melakukan transfer pasien ke ruangan operasi darurat untuk dilakukan prosedur lebih lanjut. Permisi."

Shaka terperangah. Ya Tuhan, siapa remaja malang yang harus mengalami rentetan kejadian seperti ini?

Kala netranya kemudian menangkap sosok yang terbaring tak berdaya di atas ranjang crank dengan empat orang perawat di sekelilingnya, seluruh tulangnya seolah meluruh, ototnya tak ayal hanya jadi sebuah jaringan tanpa arti dan fungsi.

Kakinya terasa tak lebih kuat daripada agar-agar. Shaka jatuh berlutut, tetapi matanya terus menatapi raga yang mengarah menuju ruang operasi darurat.

Itu Zayyan.

Dengan sekian banyak luka sobek menganga yang menampilkan warna merah segar di dalamnya. Bercak cokelat khas obat antiseptik terlihat samar di tepian luka-luka yang Shaka bahkan tak sampai menghitung berapa banyak. Dengan sebuah masker oksigen yang menempel pada batang hidung Zayyan, segalanya sungguh membuat Shaka mati rasa.

Sekadar meratap pun ia tak sanggup. Peristiwa itu terasa hanya sekelibat dan otak Shaka masih belum mampu --dan mau-- mencerna semuanya.

"Den?" Mbak Nis ikut berlutut dan merangkul pundak Shaka erat.

Shaka terdiam. Air matanya menetes deras, tetapi bibirnya tak sanggup mengalirkan kalimat walau sekilas. Shaka menolak percaya pada apapun yang dilihatnya bahkan secara jelas.

Dari sekian milyar manusia di dunia, kenapa harus Zayyan yang mengalaminya?

"Den? Itu Zayyan, temen Den Shaka, kan, Den?" tanya mbak Nis. Ia menepuk halus bahu Shaka untuk mencari fokusnya kembali.

Tristan dan Nichol menatap keduanya dengan raut wajah yang panik. Mereka nol besar untuk memahami apa yang tengah terjadi. Perasaan shock yang mereka alami belum saja habis menguap dan kini yang mereka lihat justru Shaka yang bak terambil jiwanya kala melihat crank korban itu melintas di hadapannya.

Shaka mengambil ponselnya. Tangannya yang bergetar menekan beberapa kali layar ponselnya hingga ponsel tersebut kemudian ditempelkan pada telinga sisi kanannya.

"Jeff? Zayyan ada di akademi, kan?" tanya Shaka perlahan. Baginya, masih ada sepercik asa yang dapat ia bumbungkan sebelum nantinya habis dimakan kenyataan.

"Zayyan? Nggak..., Zayyan nggak di sini."

Tanpa menekan tombol untuk mengakhiri telepon, Shaka menjauhkan ponselnya dari telinga. Ia tak mau berhadapan dengan pertanyaan-pertanyaan yang mungkin akan Jeff lontarkan perihal segala hal yang jadi kemungkinan.

Kenapa dunia begitu senang menyiksanya?

🐾🐾🐾

Waktu terus bergulir sampai tepat di masa mentari akan menyingkir. Mbak Nis, Shaka, Tristan, dan Nichol masih menunggu entah untuk berapa jam lagi lamanya.

Shaka masih belum menghubungi siapa pun lagi, termasuk mama Zayyan, atau Jeff, atau mungkin Hayzar untuk mengabarkan mengenai apa yang dilihatnya. Shaka sudah bilang, kan, ia tak mau percaya pada apa pun yang dilihatnya hanya dalam kurun waktu kurang dari sepuluh detik?

"Den," mbak Nis menyentuh tangan Shaka. Mengambil remaja yang seperti tengah kehilangan petunjuk untuk hidup.

Shaka menoleh sekilas, perlihatkan jelas raut wajah yang seratus persen kacau balau. Ada perpaduan rasa sedih, khawatir, takut, bingung, dan panik --setidaknya hanya perasaan itu yang bisa mbak Nis identifikasi-- di sana.

End(less) Rainbow (HeeJake)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang