15) Reaction

366 38 2
                                        

"Hayzar, habis turun ini langsung ke tempat Shaka, ya?" tanya Jeff kala bulatan berongga bianglala mereka tepat berada di bagian paling atas.

"Shaka? Boleh. Ada Zay juga, kan?"

Jeff menimbang. Antara iya dan tidak perlunya topik ini dibicarakan.

Jelas, semua orang tahu bahwa topik seperti ini masih menjadi hal tabu di masyarakat, lebih-lebih lagi di akademi di mana Jeff dan teman-temannya berburu ilmu. Persetan kalau seorang pembesar bilang bahwa di sini ada kesetaraan hak asasi manusia yang membebaskan individu jatuh cinta kepada siapa pun, persetan kalau ada seorang paruh baya menyatakan bahwa cinta itu tidak perlu mengenal gender. Demi Tuhan, persetan bagi Jeff karena nyatanya segala pembenaran yang cukup kokoh berpondasi itu selalu mampu diruntuhkan oleh hujatan, hinaan, dan makian orang-orang yang entah mendasarkan hatinya pada apa.

Ketika dirasa jawaban iya lebih memberatkan pundaknya, Jeff nyatakan hal tersebut dalam temaram tenangnya, rangkaian lugasnya, dan tangguh niatnya.

"Zay pulang duluan, Zar," balas Jeff tertahan, "I think you must see this."

Kedipan mata berulang dan juga setipis relung bibir yang membuka. Hanya itu yang dapat Jeff tangkap dari wajah Hayzar sebagai reaksi atas menfess yang baru saja dilihatnya di base.

"Is this kind of people actually exist? They're so horrible. Scary," gumam Hayzar, tetapi masih cukup dapat didengar oleh rungu Jeff, "Kalau emang mereka nggak suka, kenapa harus reply hal-hal yang merendahkan gitu, sih."

"Zay pergi duluan? Is it because this menfess?" lanjut Hayzar lagi.

"I think so. Apapun alasan utama perginya dia, menurut gue pergi duluan emang pilihan paling tepat, sih, buat sekarang. Instead of being photograped like this again."

Hayzar mengangguk pelan. Mata rusanya masih berkedip beberapa kali seiring dengan kinerja otaknya yang terus berpanjar. Kasus ini, memang masih tabu di masyarakat, menurutnya pun. Hayzar pun cukup paham alasan Jeff sempat terdiam beberapa saat kala Hayzar menanyakan keberadaan Zay. Mungkin ia pun bingung antara iya dan tidak harus menyatakan topik ini.

Bulatan kamar bianglala mereka mulai turun dan kini hampir berada di sudut 90°. Jeff masih sibuk melihat ponselnya, membaca balasan-balasan yang jelas dominan akan menyakitkan hati bila dibaca oleh kedua empunya raga yang tercipta dalam jepret nyaris pigura.

Sementara Hayzar sibuk melihat ke arah luar, pemandangan rumput dan pepohonan rindang yang hijau, cukup banyak mengarahkannya pada pikiran yang tak kunjung usai.

"Kenapa, ya, orang-orang jahat banget? Apa mereka nggak bayangin gimana kalau jadi Zay dan Shaka yang fotonya diambil tanpa izin, udah gitu dikata-katain bahkan sampe gue yang cuma sohib mereka emosi bacanya," gerutu Jeff. Ia tak tegaskan bicara pada siapa, ia sekadar ingin mengeluarkan uneg-uneg di dalam kepalanya saja.

Hayzar menoleh, dapati Jeff jauhkan ponselnya, tetapi jelas terlihat bahwa di ponselnya masih terbuka aplikasi twitter dan masih tetap berada di kolom reply menfess yang tadi.

"Lingkungan kita emang nggak bisa nerima kayak gini, nggak, sih? Dari dulu, selalu topik kayak gini jadi perdebatan, bahkan jadi ajang menghina orang," balas Hayzar sekenanya. Namun, ia arahkan pandangan pada Jeff, sebagai upaya agar nantinya tak terjadi kesalahpahaman atas kelakar yang ia lontarkan barusan.

Jeff menengok ke arah Hayzar.

"Iya kalau emang apa yang mereka omongin itu bener, tapi kalau enggak? Bukannya cuma ngerugiin Zay sama Shaka aja? Mana sampe dikata-katain gitu, mau temenan aja kenapa susah banget," lanjut Hayzar.

End(less) Rainbow (HeeJake)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang