Mentari di waktu pagi menjelang siang ini sedang gencar-gencarnya mengombakkan cahaya. Menguarkan energi panas yang cukup untuk membuat terik suasana. Shaka baru menyadari ketika melihat tetesan keringat dari rambut depannya, bahkan ketika ia baru sekian menit berada di luar mobil untuk mengeluarkan barang yang kemarin dibawa.
Namun, faktanya, matahari yang sudah seterang ini tetap tak bisa mengalahkan gemuruh yang terus menggelegar dalam hati Shaka. Bohong kalau Shaka bilang ia tak khawatir, tak takut, tak gentar, dan segala macam "tak" yang dapat ia elukan untuk menyelimuti dirinya dalam ketenangan sementara.
Mamanya memang jelas membelanya di hadapan mama Zayyan, tetapi Shaka tak berani memberi garansi kalau mamanya akan bersikap sama ketika di dalam rumah. Shaka bahkan rasanya masih sukar percaya bahwa orang yang ia lihat membelanya di hadapan mama Zayyan adalah mamanya sendiri, wanita yang ia rasa tak pernah tahu apa-apa.
"Den, ngapain diem di sini? Ayo masuk," mbak Nis menyenggol lengan Shaka, kemudian menatapnya sembari mengangguk tipis.
Shaka terbuyar dari lamunannya. Ia menatap sebuah tas ransel besar yang ia sampirkan pada pundak bagian kanan.
Sedikit ragu, ia melangkah memasuki rumah yang akan jadi saksi atas apa pun yang terjadi selepas ini. Tak ada kesempatan lagi untuknya menghindari sesuatu yang mutlak akan terjadi. Entah itu kini, atau suatu saat nanti, satu yang sudah pasti, ia tak bisa lari.
Mamanya berhenti di ruang makan, mengambil segelas air dari teko dan menegaknya dengan cepat. Gelas itu kemudian diletakkan dengan sedikit kasar hingga denting bahan kacanya yang beradu dengan keramik meja makan meruak bising. Masih dengan gelas yang ada dalam gapaian, mama Shaka terdiam, menatap kosong ke atas meja makan dengan segala printilan yang sebenarnya tertata seperti biasa.
Shaka menatapnya dari jarak cukup jauh. Ia berniat untuk melangkah ke kamarnya, tetapi ia sengaja coba mengulur waktu untuk memberikan kesempatan pada mamanya jika memang ingin berbicara kepada Shaka, entah sekadar untuk mengonfirmasi, memastikan, mendapat jawaban, atau apa pun itu terkait kejadian sebelumnya antara Zayyan dengan Shaka di lorong rumah sakit.
Shaka sebetulnya tak mau untuk menaruh perspektifnya perihal sikap sang mama. Mengenai apakah mamanya mengetahui eksistensi menfess yang membuatnya menjadi laki-laki paling populer dalam waktu sekejap --terlepas dari kepopuleran yang memang sudah digaetnya dari jangka waktu sebelumnya--, apakah mamanya mengetahui masalah apa yang membuatnya dan Zayyan berada dalam posisi yang seperti ini, atau mungkin apakah mamanya mengetahui pelukan Shaka dan Zayyan bukanlah hanya pelukan sepasang sahabat yang ingin berbaikan, tetapi ia-ia yang ingin melanjutkan hubungan.
Shaka serba tak yakin, tak pasti. Sebab itu, baginya, lebih baik menjelaskan kejadian yang sebenar-benarnya dan mati sekalian di detik ini daripada harus menahan ketakutan di dalam kamar sepanjang hari.
Shaka memutuskan untuk berjalan pelan, menyeret langkahnya, menunjukkan eksistensinya sebagai objek hidup yang sudah siap dihajar dengan senjata apa pun --contohnya lidah.
Mbak Nis menengok dari arah dapur, menatap bingung pada Shaka yang seperti sengaja menarik perhatian dengan langkahnya yang seberat isi alam semesta.
"Ibu, sudah makan?" Mbak Nis mendekati mama Shaka di meja makan.
"Saya nggak laper, Mbak. Saya masuk kamar dulu," mama Shaka berjalan menuju kamarnya, tanpa memedulikan Shaka yang berdiri kurang dari satu meter dalam jangkauannya.
Shaka menatap mbak Nis, ia mengembuskan napasnya berat.
"Mbak, kenapa mama tiba-tiba bisa sampai ke rumah sakit, ya?" Shaka melempar tanya. Masih mengganjal dalam benaknya perihal sang mama yang mengambil peran utama secara tiba-tiba bak superhero dalam film yang kala kecil dahulu biasa ditontonnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
End(less) Rainbow (HeeJake)
FanfictionHanya perihal Hayzar, si remaja hitam putih yang bertemu Jeff, seseorang yang memberi corak warna pada gurat monokromnya, lewat sebuah nampan makan siang.
