Jeff dan Hayzar mengucapkan sepatah salam pamit pada Zayyan dan mengangguk pelan pada mama Zayyan. Mereka berlalu dari bangsal itu, meninggalkan Zayyan bersama mamanya untuk meripuhi urusan keluarga mereka sendiri.
Tepat di kursi panjang depan bangsal, mereka menemukan salah seorang laki-laki --yang tadi sempat masuk bersama mbak Nis. Hayzar dan Jeff berhenti sejenak, sama-sama berpikir haruskah mereka kembali ke asrama dan berpamitan, tetapi berpamitan kepada siapa juga mereka tidak tahu.
Di sepanjang pandangan mereka, tidak ada eksistensi Shaka maupun mbak Nis --orang yang setidaknya mereka kenal. Dengan tata krama yang mendasari naluri, mereka menganggukkan kepala sekilas untuk menyapa laki-laki muda yang tadi sempat mereka lihat sekilas.
"Temen-temennya Shaka, ya?" tanya laki-laki itu. Hayzar dan Jeff mengangguk hampir bersamaan.
"Kenalin, nama kakak Nichol," laki-laki itu tersenyum manis, "Sini, duduk dulu," ajaknya sembari menepuk kursi di sebelah kanannya.
Prinsip "tidak enak untuk menolak" yang dianut keduanya, membuat Hayzar dan Jeff menuruti ajakan Nichol. Mereka duduk berdampingan di sebelah Nichol dengan Jeff yang berada di bagian tengah.
"Kakak yang nolong Zayyan, ya?" tanya Jeff membuka percakapan. Rasanya, hanya ia yang bisa diandalkan, mengingat Hayzar yang lebih suka bicara seperlunya saja.
"Iya, dan kebetulan umm...," kalimat Nichol menggantung di ujung lidah, ia melirik ke arah Hayzar dan Jeff sekilas, hanya sorot mata ingin tahu kedua remaja itu yang memenuhi ruang pandangnya, "Kakak punya relasi dengan mbak Nis," lanjut Nichol. Main aman saja karena ia jujur masih ragu untuk mengatakan apa adanya kepada remaja-remaja yang baru saja diketahuinya. Oh ya, bahkan ia belum tahu nama mereka.
"Oh ya, nama kalian siapa?"
"Aku Jeffan, Kak, panggil aja Jeff. Yang ini Hayzar," ucap Jeff diikuti oleh senyum sapaan dari Hayzar.
"Oh, Jeff sama Hayzar. What a good name," puji Nichol.
Jeff tersenyum kecil, "Makasih, Kak."
"By, Shaka ada di balkon, tolong jagain, ya, siapa tahu dia butuh apa-apa. Aku ke bawah dulu."
Jeff dan Hayzar sontak melempar pandang. Memastikan bahwa penggalan kata yang mereka dengar adalah sama.
Sementara Nichol terlihat tersenyum geram menatap Tristan yang bisa-bisanya memanggil dengan panggilan sayang di depan orang lain. Entah ada apa lagi dengan pola pikirnya itu.
"Iya iya, udah sana," jawabnya sembari mendorong Tristan.
"Loh, ini temennya Shaka, ya?" tanya Tristan sedetik ketika ia tak sengaja memandang Jeff dan Hayzar.
"Iya, Kak."
Tristan tersenyum malu, ia menatap Nichol yang seolah akan memakannya habis saat itu juga, "O-oke, kakak ke bawah dulu, ya."
Nichol memegang kepalanya, sedikit-- tidak, sangat pusing dengan tingkah laku kekasihnya itu. Masalahnya, Tristan bukan sekali berulah seperti ini. Berkali-kali ia luput memperhatikan sekitar dan asal saja memanggil Nichol dengan panggilan sayangnya seolah hubungan "tersembunyi" mereka tak ada urgensinya.
Dan berulang kali juga Nichol yang harus menyelesaikan kekacauan itu. Benar-benar cocok menjadi pasangan. Tristan bagian berulah, Nichol bagian membereskan.
"Itu... Tadi...," ucap Nichol tertahan. Ia sedang berpikir bagaimana harus merapikan kekacauan yang satu ini. Bagaimana pun, panggilan itu jelas sekali terdengar dan rasanya tidak bisa dianggap jadi sesuatu yang bukan apa-apa. Apalagi di depan remaja-remaja seperti mereka yang tentu pendengaran dan pemikirannya masih tajam.
KAMU SEDANG MEMBACA
End(less) Rainbow (HeeJake)
FanficHanya perihal Hayzar, si remaja hitam putih yang bertemu Jeff, seseorang yang memberi corak warna pada gurat monokromnya, lewat sebuah nampan makan siang.
