Hanya perihal Hayzar, si remaja hitam putih yang bertemu Jeff, seseorang yang memberi corak warna pada gurat monokromnya, lewat sebuah nampan makan siang.
Kamar 202 terdengar senyap nyaris tanpa suara kala matahari hampir menuruni pijakannya. Hayzar menyesap cokelat hangatnya dengan tenang ketika sebuah pesan tiba-tiba masuk ke ponselnya. Hayzar menaruh cangkir dari genggamannya, beralih menuju ponsel yang tergeletak di atas meja.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Hayzar terkesiap, foto tangkapan layar dari akun base akademi terpampang pada layar ponselnya, dikirim oleh sang mama. Ketika semua masalah ia rasa sudah tertata rapi pada titik perkaranya, sang mama malah baru mengirimkannya dan bertanya mengenai tweet antara Shaka, Zayyan, dan ayunan taman raya yang sudah sekian hari belakangan menciptakan berbagai cabang keruwetan di sana sini. Hayzar terdiam sejenak, mencari jawaban yang kiranya pas untuk disampaikan. Haruskah ia bilang bahwa ia tak tahu apa-apa?
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Laki-laki mata rusa itu putuskan untuk coba bersembunyi di balik bentangan fakta dan kejadian yang sebenarnya begitu transparan. Mungkin saja –Hayzar masih mencoba berpikir yang baik-baik, mamanya hanya ingin tahu mengenai tweet yang dapat dibilang cukup viral dan menarik perhatian di akademi tempat putranya akan menimba wawasan.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Boom. Pesan terakhir adalah tanda keruntuhan bagi segala pola pikir–cenderung baik yang Hayzar sempat benamkan. Mamanya bukan buta huruf, mamanya adalah orang yang sangat teliti. Satu kata, seremeh apa pun, tak akan mungkin terlewat dari kajian mata mama Hayzar.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.