🔗 National Academy of Aviation, 07.00
Waktu sudah legal berjalan ke hari berikutnya. Namun, semua rincinya, tetap hampir sama. Kelabu.
Pun di mata Hayzar dan Jeff, selaku teman dan pihak netral yang sampai sekarang tak berhenti kelu berikan semangat untuk Shaka yang tertinggal di asrama bersama mereka.
Dari kemarin, tak ada perubahan signifikan dari Shaka. Jujur, hal itu buat mereka ikut terluka, saksikan bagaimana dua orang yang pernah sangat dekat dan saling ada, kini terpisah sejauh-jauhnya.
Hayzar dan Jeff putuskan untuk duduk dan mengobrol di cafetaria asrama setelah membelikan Shaka sarapan --yang sebenarnya tak dimakan juga olehnya.
"Kita harus apa, ya, Zar?" Jeff menyesap kopi susu di papercup miliknya, "Nggak mungkin kita diem aja, 'kan?"
Hayzar sempatkan tatap manik hitam Jeff yang penuh kekisruhan. Meski baru beberapa saat menetap bersama ketiganya, Hayzar tahu betul, Jeff, Shaka, dan Zay itu sahabat yang sangat dekat. Dan kemarin, Jeff sendiri menyatakan bahwa sebelumnya tak pernah terjadi masalah berarti di antara mereka --sebab itu Jeff pun tak tahu bagaimana penyelesaian bila terjadi masalah-- Sekarang malah Hayzar, si anak baru, sudah terbaur di sini dan langsung tak langsung ikut terlibat dalam masalah Zay dan Shaka.
"Kita tetep butuh Zayyan," balas Hayzar pelan, "Dia kuncinya. Kalau dia ada di sini, masalahnya bisa diomongin. Entah apa pun hasil akhirnya, itu udah keputusan kedua belah pihak. Tapi, kalau cuma Shaka sendiri yang di sini, sampe kita botak mikirin cara bantu mereka gimana, that's not gonna work. Karena nggak ada pihak satunya."
Jeff terdiam. Cukup mengagetkan bagi dirinya untuk mengikuti cara pandang Hayzar terhadap suatu masalah. Hayzar begitu tenang, terus berusaha paham secara penuh, dan tak pernah terburu-buru dalam mencari jawaban.
Begitu berkebalikan dengan dirinya yang kerap terlampau panik dan khawatir, memikirkan satu belah pihak, dan tak jarang terburu-buru seolah keputusannya akan habis dikejar waktu.
"Shaka butuh Zay juga, 'kan, pasti?" tanya Hayzar kemudian. Yang lanjutnya hanya diangguki oleh Jeff sebagai jawaban.
"Gue bisa lihat, kok, dari awal gue masuk asrama, kalau Zay sama Shaka itu saling butuh dan saling sayang banget. Gue masih inget, waktu itu Shaka diem aja kayak tivi rusak, ternyata karena abis putus, terus Zay repot-repot ngurusin dia sampe bikin bubur bayi, deh, kalau gue nggak salah inget. Terus Shaka juga tidurnya sering di ranjang Zay, 'kan, bukan di ranjangnya sendiri?" jabar Hayzar, "Kayaknya nggak mungkin, ya, kalau Zayyan pergi gitu aja ninggalin Shaka di tengah masalah ini?"
"Iya, gue pikir juga nggak mungkin. Tapi kita nggak tahu orang gimana, 'kan, Zar?" balas Jeff.
"Gue takut aja Zay ngilang ninggalin Shaka di tengah kondisi yang sama sekali nggak kondusif kayak gini. Ngeliat gimana perilaku mama Zay ke Shaka kemarin, make everything more and more unclear," lanjut Jeff. Semalam, Shaka memang sempat menyinggung perihal mama Zay yang memilih mengacuhkannya saat mengambil makanan dari Yuna.
Hayzar mengangguk pelan. Ya, benarnya, manusia memang tidak bisa ditebak.
"Apa gue mending hubungin Zay, ya? Tapi gue terkesan ikut campur, nggak, ya, Zar?" tanya Jeff sembari menatap ponselnya.
Jeff sendiri juga bingung perihal mengapa ia harus meminta pendapat Hayzar mengenai langkah yang boleh ia ambil atau tidak. Tidak tahu, tidak jelas. Yang pasti, Jeff merasa Hayzar adalah orang yang tepat untuk diajak berdiskusi dan dimintai pendapat.
Ia nyaman.
"I don't know too Zay bakalan mikir gimana, tapi seharusnya kalau dari sisi sahabat, dia ngerti, kok, lo nggak bermaksud ikut campur. Lo pure pengen bantu selesaiin masalah sahabat lo semaksimal yang lo bisa."
KAMU SEDANG MEMBACA
End(less) Rainbow (HeeJake)
Fiksi PenggemarHanya perihal Hayzar, si remaja hitam putih yang bertemu Jeff, seseorang yang memberi corak warna pada gurat monokromnya, lewat sebuah nampan makan siang.
