Revisi ~
Wajahnya yang sempurna itu kini terlihat jauh berbeda. Mata merah menyala itu menatapku tajam, seperti seseorang yang kelaparan, seolah aku bukan lagi manusia di matanya, tapi hanya mangsa yang siap ditelan bulat-bulat.
Aku menggigil ketakutan. Aku menyadarinya sejak awal ada yang aneh dengan pria ini, tapi aku tidak pernah membayangkan... bahwa dia bukan manusia.
"Ku mohon... lepaskan..." lirihku, hampir tanpa suara.
Lucas akhirnya menarik wajahnya, melepaskan taring yang masih tertanam di leherku. Rasa perih menyengat, dan aku bisa merasakan cairan hangat merembes dari luka itu, mengalir perlahan menuruni bahuku.
Darahku...
Aku ingin berteriak, ingin menangis, tetapi suaraku tersangkut di tenggorokanku. Jantungku berdetak liar di dadaku seperti akan menembus tulang rusukku sendiri.
Lucas menatapku lurus, tatapan matanya kosong, tetapi ada sesuatu yang bergejolak di sana. Aku tidak bisa menebak pikirannya. Dia bahkan tidak berkedip, hanya diam memandangku dengan tatapan yang membuat tubuhku semakin lemas.
Lalu, aku melihatnya.
Tetesan darah menetes dari sudut bibirnya. Darahku.
Ya Tuhan... Bau amis darah masih tercium di hidungnya, Eveline ingin meyakinkan jika ini hanya mimpi.
Tenggorokanku terasa kering, dan tanpa sadar, aku melangkah mundur, berharap ada jarak yang cukup untuk melarikan diri. Tapi kaki ini terlalu gemetar, seakan kehilangan tenaga.
"Apa... sebenarnya kau ini makhluk apa...?" tanyaku hati-hati. Suaraku bergetar, seakan takut jika pertanyaanku justru mengundang bencana yang lebih besar.
Dia tidak menjawab. Hanya menatapku lebih dalam.
Lalu tiba-tiba, dia bergerak.
Terlalu cepat.
Tangannya terangkat, menyentuh pipiku dengan lembut. Aku terlonjak, buru-buru menarik kepalaku ke belakang, tetapi jari-jari panjang kedua tangannya langsung menangkup wajahku, membuatku tak bisa menghindar dari tatapannya.
"A-Apa yang kau-"
Aku tidak sempat menyelesaikan kalimatku.
Lucas menarik tengkukku dengan kasar, lalu menempelkan bibirnya ke bibirku.
Duniaku seakan berhenti berputar.
Tidak waras. Menjijikkan.
Aku menegang, tubuhku bergetar hebat. Bukan karena ciumannya, tetapi karena sesuatu yang lebih menjijikan sekaligus mengerikan.
Bau darah.
Mulutnya masih basah oleh cairan merah yang baru saja dia renggut dariku. Rasa anyir itu menyapu bibirku, mengisi rongga mulutku dengan kehangatan yang memuakkan.
Aku ingin berontak, tapi dengan cepat dia menahan tanganku dengan cara memelukku dan tangan ku erat, seperti tambang yang membelenggu. membuatku tak berdaya dalam genggamannya.
"Mmngh... L-Lepaskan...!" Aku menggumam di sela-sela bibirnya, mencoba menolak, tetapi tidak ada celah untuk melarikan diri.
Lucas tidak mengindahkan protesku. Ciumannya semakin menekan, seolah ingin memakan ku hidup-hidup. Lidahnya menyapu bibirku, memaksa masuk lebih dalam.
Aku hampir kehabisan napas ketika dia akhirnya menarik diri.
Segera, aku mendorongnya dengan seluruh tenaga yang kupunya. Napasku terengah-engah, dan tanpa berpikir panjang, aku mengusap bibirku dengan punggung tangan, mencoba menghapus rasa anyir yang masih tertinggal di sana.
Hish! Bau darah!
Aku ingin muntah.
***
Maaf ya kalo menurut kalian FL nya terlalu menye-menye. karena ini dari draft cerita lama aku hanya merevisi kalimat tanpa mengubah alur/karakter.
Makasihh udh mampir 💕
Tbc
KAMU SEDANG MEMBACA
The Sacred Connection [TAMAT]
Fantasy[sebagian chapter diprivat mohon follow dahulu] Eveline, seorang putri konglomerat, menjalani hidup tanpa batasan. Tidak ada tuntutan dari orang tuanya, tidak ada tekanan untuk bekerja, dan tidak ada dorongan untuk mencari pasangan. Sayangnya, kebeb...
![The Sacred Connection [TAMAT]](https://img.wattpad.com/cover/210257834-64-k948484.jpg)