Revisi ~
***
Beberapa bulan kemudian, sejak Eveline mulai menerima Lucas. Hubungan mereka berkembang secara alami, tidak lagi sekadar keterikatan terpaksa karena ikatan mate, tetapi lebih seperti sepasang kekasih yang saling mencintai.
Selama waktu itu, Eveline mulai terbiasa dengan lingkungan mansion tempat mereka tinggal. Ia menyadari bahwa rumah ini sebenarnya begitu sunyi. Tidak ada penghuni lain selain mereka berdua. Para maid hanya datang jika dipanggil untuk membersihkan rumah, dan para bodyguard hanya muncul saat Lucas benar-benar membutuhkan mereka.
Saat pertama kali datang ke sini, mansion ini terasa kosong. Tidak ada seorang pun yang menyambutnya, tidak ada tanda-tanda kehidupan selain keberadaan Lucas. Awalnya, Eveline merasa aneh, tetapi seiring berjalannya waktu, ia mulai terbiasa.
Namun, meski kehidupannya bersama Lucas terasa semakin akrab dan nyaman, ada satu hal yang terus mengusik pikirannya.
Keluarganya.
Eveline memiliki keluarga yang menyayanginya. Dan selama ia tinggal disini, Eveline belum pernah menghubungi mereka. Tidak satu pun pesan ia kirimkan, tidak satu pun panggilan ia lakukan. Ia juga belum berbicara dengan kedua sahabatnya, Max dan Sean.
Apakah mereka mencarinya?
Apakah mereka mengkhawatirkannya?
Pikiran itu terus menghantuinya.
Eveline tinggal bersama ayah kandung dan ibu sambungnya, yang selama ini memperlakukannya dengan penuh kasih sayang. Ibu kandungnya meninggal saat ia baru berusia dua tahun dan saat usianya lima tahun ayahnya menikah lagi dengan seorang wanita yang sangat baik.
Ibu sambungnya tidak pernah memperlakukannya seperti anak tiri. Ia menerima dan memperlakukan Eveline seperti darah dagingnya sendiri. Kini, di usianya yang 23 tahun, Eveline juga memiliki seorang adik laki-laki berusia 14 tahun, hasil pernikahan ayahnya dengan ibu sambungnya.
Hubungan mereka cukup akur, meskipun seperti kakak-adik pada umumnya, terkadang ada pertengkaran kecil.
Dan tentu saja, ada Max dan Sean dua sahabatnya yang ia kenal sejak sekolah menengah atas. Yang eveline ketahui max dan Sean, mereka berdua berteman sejak taman kanak-kanak, dan hubungan mereka sangat erat. Bahkan, Eveline sering kali meragukan apakah hubungan Max dan Sean hanya sebatas pertemanan biasa, mereka sudah seperti saudara kandung.
Hahh…
Eveline mendesah pelan.
Sudah beberapa bulan sejak ia menyatakan perasaannya kepada Lucas. Sejak saat itu, hari-harinya dipenuhi dengan kebersamaan mereka berdua. Ia mulai memasak untuk mereka, menghabiskan waktu bersama di berbagai sudut rumah, di balkon saat matahari terbenam, di kamar sambil berbincang santai, di halaman yang luas, bahkan di ruang baca yang jarang mereka datangi.
Namun, ada satu hal yang mulai mengganggunya.
Apa yang sebenarnya dilakukan Lucas setiap hari?
Eveline merasa bahwa Lucas selalu berada di rumah. Tidak pernah keluar untuk bekerja atau melakukan aktivitas lain.
Setiap kali ia menatap pria itu, Lucas selalu ada, entah itu bersantai di sofa, duduk di meja makan, atau membaca buku di ruang kerja. Seolah-olah tidak ada kewajiban lain dalam hidupnya selain bersamanya.
Awalnya, Eveline tidak terlalu memikirkannya. Tapi semakin lama, semakin aneh rasanya.
Lucas memang bukan manusia biasa. Ia iblis. Tapi tetap saja, bahkan iblis pun membutuhkan sumber pendapatan, bukan?
Apa dia benar-benar pengangguran?!
Bagaimana bisa mereka membangun kehidupan yang stabil kalau Lucas tidak memiliki pekerjaan?!
Eveline menggigit bibirnya, pikirannya semakin kusut.
Apakah ia harus bertanya?
Tapi kalau ia bertanya, apakah Lucas akan tersinggung?
Atau mungkin Lucas memiliki pekerjaan rahasia yang tidak ia ketahui?
Arghhhhh!
Sementara itu, Lucas, yang berada di ruang kerjanya, bisa merasakan kegundahan Eveline.
Ia tidak bisa membaca pikiran Eveline secara langsung, tapi sejak mereka tinggal bersama, ia mulai bisa merasakan emosinya. Meski tidak selalu, kadang-kadang ia bisa merasakan jika Eveline sedang cemas, bahagia, atau gelisah.
Dan saat ini…
Lucas bisa merasakan perasaan tidak tenang yang berputar-putar di dalam hati Eveline.
Ia tidak tahu pasti apa yang membuatnya gelisah, tapi ada sesuatu yang mengganggu pikirannya.
Lucas menutup dokumen yang sedang ia baca, lalu menghela napas panjang. Ia meregangkan tubuhnya, menyandarkan punggungnya ke kursi dengan ekspresi berpikir.
Kemudian, tiba-tiba, sebuah pemikiran muncul dalam benaknya.
Selama ini, ia telah terlalu lama membiarkan Eveline terkekang di mansion ini. Ia tidak pernah memberinya akses ke ponselnya, tidak membiarkannya menghubungi siapa pun, dan tidak mengizinkannya pergi keluar tanpa dirinya.
Tapi anehnya…
Eveline jarang mengeluh tentang hal itu.
Lucas menatap gadis yang kini tengah memperhatikannya dari seberang ruangan.
Tatapan itu… penuh pertanyaan. Seolah-olah Eveline sedang menimbang sesuatu dalam pikirannya, tapi tidak tahu bagaimana cara mengungkapkannya.
Lucas tersenyum kecil.
Mungkin, sudah waktunya ia memberikan kebebasan yang lebih untuk gadis itu.
Lucas menatapnya dalam-dalam sebelum akhirnya berkata,
"Mau mengunjungi keluargamu?"
***
Tbc~
KAMU SEDANG MEMBACA
The Sacred Connection [TAMAT]
Fantasy[sebagian chapter diprivat mohon follow dahulu] Eveline, seorang putri konglomerat, menjalani hidup tanpa batasan. Tidak ada tuntutan dari orang tuanya, tidak ada tekanan untuk bekerja, dan tidak ada dorongan untuk mencari pasangan. Sayangnya, kebeb...
![The Sacred Connection [TAMAT]](https://img.wattpad.com/cover/210257834-64-k948484.jpg)