chapter 28⚜️

6.2K 343 2
                                        

Happy Reading ~

Revisi~°•

***

Eveline melirik Lucas yang duduk di sampingnya sebelum membuka mulut untuk menjawab.

Namun, sebelum sempat berkata apa pun, Sean lebih dulu memotongnya.

"Aku minta maaf karena sudah menyuruhmu pergi ke hutan Eldermyst," ucapnya dengan wajah penuh penyesalan.

Max, yang duduk di sebelahnya, ikut menganggukkan kepala, menunjukkan bahwa ia juga meminta maaf.

Eveline mengangkat alis, sedikit terkejut. Ini pertama kalinya ia melihat kedua sahabatnya benar-benar merasa bersalah atas tantangan yang mereka berikan.

Lucas, yang sejak tadi mengamati interaksi mereka, akhirnya ikut berbicara.

"Apa tantangan itu masih berlaku?" tanyanya, suaranya terdengar datar, tapi ada sesuatu di balik nada bicaranya yang sulit diartikan.

Max dan Sean bertukar pandang, lalu menatap Lucas.

"Sebagai permintaan maaf, tantangan itu masih berlaku," ujar Sean, dan Max langsung mengiyakan dengan anggukan.

Lucas tersenyum kecil-senyum penuh arti yang membuat Eveline penasaran.

Tiba-tiba, ia mengeluarkan sesuatu dari balik jaketnya dan meletakkannya di atas meja.

"ANGGREK BULAN?!"

Seruan itu keluar bersamaan dari mulut Eveline dan Sean.

Mata mereka membesar penuh keterkejutan.

Bagaimana mungkin?

Bunga yang membuat Eveline tidak pulang selama ini, bunga yang hampir mustahil ditemukan di hutan Eldermyst, kini tergeletak begitu saja di atas meja.

Max tertawa kecil, seolah tidak terkejut dengan hal itu.

"Sejak kapan kau membawanya, Luke?" tanya Eveline, masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ia langsung menoleh ke arah Lucas, mencari penjelasan.

Lucas hanya mengangkat bahunya santai.

"Sebelum kita pergi bertemu orang tuamu, aku sudah mengambilnya," jawabnya tenang, seolah hal itu bukan sesuatu yang luar biasa.

Sean masih terpaku, matanya tidak lepas dari anggrek bulan yang kini berada di hadapan mereka.

Sementara itu, Max, yang sudah bisa menebak arah pembicaraan, akhirnya tertawa pelan, lalu berkata, "Baiklah, Eve. Kami akan menepati perjanjian awal."

Eveline yang mendengar itu langsung tersenyum lebar, matanya berbinar penuh kebahagiaan.

Sean akhirnya ikut tertawa kecil, meskipun masih terkesan takjub dengan kehadiran anggrek bulan itu.

"Sepertinya kau beruntung, Eve," katanya sambil menggeleng pelan.

"Lebih dari sekadar beruntung," Eveline tertawa, tangannya tidak bisa diam, terus menyentuh kelopak bunga anggrek bulan itu dengan lembut.

Setelah itu, mereka melanjutkan obrolan. Malam semakin larut, tapi mereka masih berbicara banyak hal, sesekali tertawa, sesekali bernostalgia tentang berbagai tantangan yang pernah mereka lakukan sebelumnya.

Hingga akhirnya, waktu mulai menunjukkan saatnya untuk pulang.

Di dalam mobil, suasana begitu tenang, namun terasa indah dalam kesunyian.

Lampu-lampu kota berkelap-kelip, menciptakan pemandangan malam yang memesona.

Lucas sengaja memperlambat laju mobil, menikmati momen ini bersama Eveline.

Tangan kanannya masih berada di kemudi, sementara tangan kirinya menggenggam tangan Eveline, jemarinya sesekali mengusap punggung tangannya dengan lembut.

Eveline, di sisi lain, tidak bisa berhenti tersenyum.

Tantangan itu masih berlaku.

Itu berarti...

Ia akan mendapatkan apartemen dan mobil sesuai kesepakatan awal!

Pikirannya dipenuhi kebahagiaan, seolah-olah hari ini adalah hari terbaik dalam hidupnya.

Ahhh, hari ini benar-benar sempurna!

Merasa begitu bersyukur, Eveline perlahan mendekat ke Lucas.

Tangan kanannya terangkat, lalu menyentuh pipi pria itu dengan lembut.

Lucas sedikit terkejut dengan tindakan mendadaknya, tapi ia tetap membiarkan Eveline melakukan apa yang ia inginkan.

Dan sebelum Lucas bisa bertanya...

Cupp.

Eveline mengecup pipinya.

Lucas terdiam, merasakan sensasi hangat dari bibir Eveline yang menyentuh kulitnya.

Mereka beradu pandang, mata mereka saling mengunci, seolah dunia di sekitar mereka menghilang sejenak.

Tatapan Eveline begitu teduh, matanya berbinar, dan dengan gerakan lembut, ia mengusap pipi Lucas perlahan.

Untungnya, lampu lalu lintas di depan mereka sedang merah, memungkinkan Lucas menikmati momen itu tanpa harus buru-buru kembali fokus ke jalan.

"Terima kasih, Luke," ucap Eveline dengan suara lembut, lalu perlahan menjauhkan wajahnya.

Lucas masih belum bisa berhenti tersenyum.

Matanya tetap menatap Eveline, penuh dengan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.

Ia sendiri tidak tahu sudah berapa kali jatuh cinta pada wanita ini.

Tanpa berkata apa-apa, Lucas mengangkat tangannya, lalu mengusap puncak kepala Eveline dengan lembut.

Seolah ingin mengatakan bahwa ia juga berterima kasih, tanpa perlu mengucapkannya.

Mereka kembali terdiam, tapi kali ini bukan karena canggung, melainkan karena sedang menikmati momen ini dengan cara mereka sendiri.

Dan saat lampu hijau menyala...

Lucas kembali menjalankan mobilnya, namun senyuman itu tidak pernah lepas dari wajah mereka berdua.

Malam ini, bukan hanya Eveline yang mendapatkan apa yang ia inginkan.

Tapi Lucas juga...

Ia mendapatkan kepastian bahwa wanita yang duduk di sampingnya adalah orang yang tidak akan ia lepaskan.














~To Be continued

The Sacred Connection [TAMAT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang