Revisi~
***
Setelah menyelesaikan makanannya, Eveline menyandarkan punggungnya pada kursi, mencoba mengatur napas. Makanan yang disantapnya begitu lezat, namun bukan itu yang mengganggu pikirannya sekarang. Ia harus segera pulang dan menyelesaikan tantangan ini.
Eveline menoleh ke arah Lucas yang tampak santai menikmati secangkir kopi. Dengan sedikit ragu, ia akhirnya membuka suara.
"Lucas-"
"Tidak."
Eveline terdiam, keningnya berkerut. Ia bahkan belum mengatakan apa pun, tetapi pria itu sudah menolaknya begitu saja.
"Hah? Aku bahkan belum bicara," protesnya dengan nada bingung.
Lucas menoleh, tatapan tajamnya menelusuri wajah Eveline. Sudut bibirnya terangkat dalam senyum penuh misteri.
"Tidak tetap tidak, sayangku."
Eveline memutar bola matanya, mengabaikan panggilan aneh yang diberikan Lucas kepadanya. Ia menghela napas dalam sebelum kembali berbicara.
"Tapi kenapa? Kau sudah berjanji akan mengantarku pulang!" Nada suaranya sedikit meninggi, mencoba menunjukkan ketegasan.
Lucas menghela napas pelan, meletakkan cangkir kopinya di meja, lalu menatap Eveline dengan ekspresi yang sulit diartikan.
"Kau masuk terlalu dalam, Eve," ucapnya.
Eveline menegakkan tubuhnya, menatap Lucas dengan kening berkerut.
"Apa maksudmu?"
Lucas menatapnya dalam sebelum melanjutkan. "Kau masuk ke bagian hutan yang tidak ada di peta."
Jantung Eveline berdetak lebih cepat. Tidak ada di peta? Apa maksudnya?
Lucas melanjutkan dengan suara lebih pelan, hampir terdengar seperti bisikan. "Siapa pun yang sudah masuk ke dalam hutan itu... tidak akan bisa kembali."
Eveline menahan napasnya. Kedua tangannya mengepal di atas paha, berusaha memahami perkataan pria di depannya.
"Apa yang kau bicarakan? Itu tidak masuk akal," gumamnya, meski hatinya mulai merasakan ketakutan yang merayap.
Lucas tidak menjawab. Alih-alih, ia menjentikkan jarinya.
Dalam sekejap, dunia di sekitar Eveline berputar. Tubuhnya terasa ringan, lalu tiba-tiba...
Ia sudah berada di pangkuan Lucas.
"Apa-" Eveline membelalakkan matanya, tubuhnya menegang. Jantungnya berpacu cepat dalam dadanya.
"Apa yang kau lakukan?!" Ia tergagap, mencoba berontak, tapi tangan Lucas menahannya dengan kuat.
Lucas hanya tersenyum tipis sebelum perlahan mencondongkan wajahnya mendekat.
Dan sebelum Eveline bisa menyadarinya-
Cup.
Lucas menciumnya.
Matanya melebar, tubuhnya membeku di tempat. Rasa hangat menjalar dari bibirnya ke seluruh tubuh, menyadarkannya dari keterkejutan.
Refleks, tangannya terangkat.
Plak!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Lucas.
Lucas tidak bereaksi selama beberapa detik. Ia hanya diam, menatap Eveline yang masih terengah-engah dengan mata terbelalak.
Namun, saat ia kembali menatapnya...
Warna matanya berubah.
Dari cokelat kehitaman yang dalam, perlahan berubah menjadi hitam pekat-keseluruhannya.
Aura di sekitar pria itu berubah drastis. Udara di ruangan seolah menjadi lebih berat, menyesakkan. Eveline bisa merasakan bulu kuduknya berdiri, tubuhnya mulai gemetar tanpa ia sadari.
Ketakutan menjalar di setiap inci tubuhnya. Keringat dingin membasahi dahinya.
"Ma... maaf," ucapnya dengan suara kecil, menundukkan kepala.
Namun Lucas tidak berkata apa pun.
Tangan besarnya terangkat, menarik tengkuk Eveline dengan satu gerakan cepat.
Sekali lagi, ia mencium Eveline.
Tapi kali ini, lebih dalam. Lebih menuntut.
Jari-jarinya yang kuat menahan kepalanya agar tidak bisa menjauh, seolah menegaskan kepemilikannya. Eveline bisa merasakan napasnya tercekat, tubuhnya melemas dalam genggaman Lucas.
Perlahan, warna hitam di mata pria itu memudar.
Lucas menjauhkan wajahnya, menatap Eveline yang masih terdiam, terkejut. Ia mengusap ujung bibir gadis itu dengan ibu jarinya, seolah menandai wilayahnya.
"You are mine."
Suara Lucas terdengar dalam dan intens, menusuk masuk ke dalam benaknya.
"Only mine."
Eveline masih kaku di tempat, tidak berani mengangkat kepalanya.
"Forever mine."
Lucas menatapnya dengan tatapan kepemilikan yang jelas.
Sementara itu, Eveline masih menunduk, wajahnya merah padam. Tangannya perlahan terangkat, menyentuh bibirnya yang masih terasa hangat.
'C-ciuman pertamaku...'
Jantungnya masih berdegup kencang, kepalanya terasa panas.
Ia tidak tahu harus bereaksi bagaimana terhadap semua ini.
***
Guys maaf yaa aku unpub, aku ovt ngeliat jumlah vote timpang banget sama jumlah pembaca. Aku ngerasa ceritanya g seseru itu, jadi aku rencana ngeperbaiki part part yang kurang menarik💐❤️
Kalo ada apa apa terkait cerita ini bisa komen disini atau di wall aku yaa, lop yu❤️
BERSAMBUNG...
PLEASE VOTE AND COMMENT...
KAMU SEDANG MEMBACA
The Sacred Connection [TAMAT]
Fantasia[sebagian chapter diprivat mohon follow dahulu] Eveline, seorang putri konglomerat, menjalani hidup tanpa batasan. Tidak ada tuntutan dari orang tuanya, tidak ada tekanan untuk bekerja, dan tidak ada dorongan untuk mencari pasangan. Sayangnya, kebeb...
![The Sacred Connection [TAMAT]](https://img.wattpad.com/cover/210257834-64-k948484.jpg)