Revisi~
***
Perjalanan menuju rumah besar Eveline memakan waktu 40 menit. Selama di dalam mobil, Eveline duduk dengan gelisah, sesekali menggigit bibirnya dan melirik Lucas yang tetap fokus menyetir.
Pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan. Bagaimana reaksi ayah dan ibunya nanti? Apakah mereka akan marah karena ia pergi begitu lama tanpa kabar? Apakah mereka akan kecewa?
Perlahan mobil mendekati gerbang besar rumahnya, Eveline semakin gugup.
Lucas menurunkan kaca jendela dan berbicara sebentar dengan penjaga gerbang, yang kemudian mengangguk hormat sebelum membukakan pagar. Mobil melaju perlahan memasuki pekarangan luas rumah keluarga Eveline.
Lucas memberhentikan mobilnya tepat di depan teras.
Eveline menggenggam dadanya, merasakan jantungnya berdebar kencang. Ia menarik napas dalam, lalu menghembuskannya kasar, berusaha menenangkan diri.
Lucas keluar terlebih dahulu, lalu berjalan ke sisi Eveline untuk membukakan pintu mobil.
"Sudah siap, honey?" tanyanya dengan senyum menenangkan.
Eveline menelan ludah. Tangannya sedikit gemetar saat ia menyambut uluran tangan Lucas.
"Aku... aku takut." Suaranya terdengar kecil dan ragu.
Lucas mengusap lembut pinggangnya, memberikan rasa aman. "Tenang saja, honey. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Aku di sini bersamamu."
Dengan sedikit ragu, Eveline akhirnya mengangguk. Mereka berdua berjalan menaiki beberapa anak tangga menuju pintu utama. Lucas menekan bel pintu, dan beberapa detik kemudian terdengar sahutan dari dalam.
Pintu terbuka, memperlihatkan seorang wanita paruh baya yang masih tampak anggun dan cantik. Begitu melihat siapa yang berdiri di depannya, matanya langsung membulat.
"Ya Tuhan! Eve sayang!" serunya dengan suara bergetar sebelum langsung menarik Eveline ke dalam pelukan erat.
"Ibu..." Eveline balas memeluknya, matanya terasa panas. Ia benar-benar merindukan sosok ini.
Dari dalam rumah, terdengar suara langkah kaki tergesa-gesa menuruni tangga.
"Putriku dan menantuku sudah datang rupanya."
Eveline mengenali suara berat itu. Ia langsung mendongak dan melihat pria paruh baya berwibawa berdiri di dekat tangga dengan senyum hangat di wajahnya.
"Ayah!" Eveline hampir berlari ke arahnya sebelum melompat memeluknya erat.
"Aku merindukanmu!" bisiknya.
Damian, ayah Eveline, tertawa kecil dan membelai kepala putrinya. "Dasar anak nakal. Bisa-bisanya kau menghilang begitu lama tanpa kabar."
Eveline tersenyum canggung sebelum melepaskan pelukan itu. Saat ia menoleh ke arah Lucas, ia melihat ayahnya menatap Lucas dengan penuh arti.
"Dan lebih parahnya lagi, kau menyembunyikan kekasihmu selama ini."
Eveline membeku.
"Ayah kenal dengan Lucas?" tanyanya, jelas terkejut.
Damian tertawa lepas, ekspresinya seolah menikmati kebingungan Eveline.
"Tentu saja. Lucas adalah rekan kerja ayah sebelumnya. Beberapa yang lalu, dia menghubungi ayah dan memberitahu bahwa kau, kekasihnya, sedang berlibur dengannya selama sebulan."
"Apa?!" Eveline menoleh tajam ke arah Lucas, matanya melebar.
Lucas hanya tersenyum tenang, jelas sudah menduga reaksi Eveline.
Jadi selama ini... Lucas bukan pengangguran?
Ya Tuhan, malu sekali rasanya!
Selama ini, ia berpikir bahwa Lucas tidak memiliki pekerjaan, dan ia bahkan sempat memikirkan bagaimana masa depan mereka secara finansial. Namun ternyata Lucas bukan hanya memiliki pekerjaan, tapi juga seorang yang diakui oleh ayahnya sebagai rekan kerja.
Dasar Lucas! Kenapa tidak memberitahuku sejak awal?!
Lucas melangkah maju dan menyalami Damian dengan ramah.
"Apa kabar, Ayah?" tanyanya santai.
Eveline menganga.
Sejak kapan Lucas memanggil ayahnya ‘Ayah’?
Damian tertawa lagi sebelum menepuk bahu Lucas. "Baik, menantuku."
Eveline semakin terkejut. Menantu? Sejak kapan ayahnya sudah menganggap Lucas sebagai bagian dari keluarga?
Di sudut ruangan, ibunya 'Anna' hanya tersenyum geli, melihat reaksi Eveline yang masih kebingungan.
"Kemarilah, sayang." Anna merangkul putrinya dan membawanya ke dalam rumah.
Hari mulai menjelang siang.
Anna meminta semua orang untuk makan siang bersama. Eveline, sebelum duduk di meja makan, langsung mencharge handphone-nya.
Saat duduk, ia melihat sekeliling. Ruang makan masih sama seperti dulu hangat dan penuh kenangan.
Namun ada sesuatu yang terasa kurang.
"Dimana Alister, Ibu?" tanyanya sambil menatap ibunya. Ia menyadari bahwa adik laki-lakinya tidak terlihat sejak tadi.
Eveline menjatuhkan diri ke kursi di sebelah ibunya, menunggu jawaban.
Anna menghela napas. "Anak itu semalam bilang akan menginap di rumah temannya untuk bermain game."
Eveline tertawa kecil. Itu sangat khas Alister.
Sementara itu, ayahnya duduk di kursi kepala keluarga, sedangkan Lucas duduk berseberangan dengan Anna.
Eveline masih melirik Lucas dengan curiga. Ia belum selesai dengan kejutan yang baru saja diterimanya.
Lucas menyadari tatapan itu dan hanya tersenyum tipis seolah berkata Kita bahas nanti, honey.
Eveline mendengus pelan.
Baiklah.
Ia akan membahas ini nanti, setelah makan siang selesai.
***
Sebagai orang yang suka perdamaian susah banget mau bikin konflik.
Kenapa para author bisa bikin konflik yang bener bener ngena banget dihati.
Maaciw udh baca🤍
To be continued~
KAMU SEDANG MEMBACA
The Sacred Connection [TAMAT]
Fantasy[sebagian chapter diprivat mohon follow dahulu] Eveline, seorang putri konglomerat, menjalani hidup tanpa batasan. Tidak ada tuntutan dari orang tuanya, tidak ada tekanan untuk bekerja, dan tidak ada dorongan untuk mencari pasangan. Sayangnya, kebeb...
![The Sacred Connection [TAMAT]](https://img.wattpad.com/cover/210257834-64-k948484.jpg)