Revisi~
Eveline berdiri membeku, napasnya tersengal. Pagar besi di belakangnya terasa dingin menempel di punggungnya. Ia tak bisa lagi mundur.
Di depannya, Lucas berjalan perlahan, seolah sedang memangsa buruannya. Seringai di wajahnya terlihat menakutkan, dan auranya berubah lebih gelap dari sebelumnya. Mata hitamnya bersinar tajam dalam kegelapan malam, membuat Eveline merasa seperti kelinci yang terjebak di hadapan serigala.
Jantung Eveline berdegup kencang, ketakutan menjalar ke seluruh tubuhnya.
Lucas terus melangkah hingga jaraknya hanya beberapa sentimeter darinya. Tubuhnya yang tinggi menunduk, sejajar dengan wajah Eveline. Seringainya memudar, digantikan oleh tatapan tajam yang seolah bisa menusuk ke dalam jiwanya.
Eveline menelan ludah, tangannya mencengkeram pagar di belakangnya. Ia tidak berani menatap Lucas secara langsung. Entah kenapa, matanya terasa panas, dan air mata menggenang tanpa bisa ia tahan.
“I-ini tidak seperti yang kau pikirkan...” suaranya bergetar, nyaris seperti bisikan ketakutan.
Lucas tidak menjawab. Sebaliknya, ia menundukkan badannya lebih dalam, hingga tubuhnya benar-benar dekat dengan Eveline.
Bruk!
Dalam sekejap, Eveline terangkat dari tanah, tubuhnya dilempar ke bahu Lucas seperti karung beras.
"Lucas! L-letakkan aku!" Eveline meronta, tapi sia-sia.
Lucas tetap berjalan masuk ke dalam mansion dengan langkah mantap.
"Kau akan mendapatkan hukumanmu, sweetheart," ucapnya datar, tanpa emosi.
Eveline semakin ketakutan. Tubuhnya gemetar, dan air matanya akhirnya jatuh tanpa bisa ia tahan.
“Ma-maafkan aku... hiks... a-aku janji tidak akan kabur lagi...,” Eveline terisak, suaranya pecah di antara tangisannya.
Lucas tidak memberikan jawaban. Ia terus menaiki undakan tangga, membawanya ke lantai atas.
Eveline semakin panik. Apa yang akan terjadi padanya? Apakah Lucas akan menyiksanya? Atau lebih buruk lagi—apakah dia akan dibunuh?
Pikiran-pikiran mengerikan memenuhi benaknya, semakin memperparah ketakutannya.
Plak!
Eveline terkejut saat merasakan pukulan keras di bokongnya.
Tangisannya berhenti sesaat karena rasa kaget.
“Diam,” suara Lucas terdengar dalam dan mengancam.
Eveline menahan napas, tak berani melawan.
Klik.
Pintu kamar terbuka, dan Lucas masuk tanpa repot-repot menyalakan lampu. Dengan kasar, ia melempar Eveline ke atas kasur, membuat tubuhnya terpantul di atasnya.
Eveline tersentak, ingin segera duduk, tapi tubuhnya terasa kaku. Ia hanya bisa terbaring dengan dada naik-turun karena ketakutan. Lucas berdiri di ujung tempat tidur, matanya tetap menatapnya dengan intens.
"Kau akan mendapatkan hukumanmu, sweetheart," ulangnya, suaranya lebih rendah dan berbahaya.
Lucas berbalik menuju walk-in closet. Eveline hanya bisa menoleh, matanya mengikuti gerakan pria itu dengan perasaan waspada.
Ia ingin kabur, tapi badannya terasa berat.
Tak lama, Lucas keluar dari closet dengan sesuatu di tangannya.
Mata Eveline membesar saat melihat benda yang ia bawa.
Alat pembuat tato.
Lucas berjalan mendekat, meletakkan alat itu di atas nakas dengan gerakan tenang seolah sedang menata secangkir teh. Lalu, ia menoleh ke Eveline, memberikan senyum manis—senyum yang justru membuat Eveline semakin takut.
Lucas menunduk, wajahnya semakin dekat dengan Eveline. Bibirnya menyentuh dahi gadis itu dalam kecupan lama yang membuat tubuh Eveline semakin membeku.
Tangannya kemudian bergerak, meraih baju Eveline.
"You are mine," bisiknya, suaranya terdengar penuh kepemilikan.
Srett!
Kain itu terkoyak di tangannya.
Srett!
***
Publish Ulang
BERSAMBUNG
PLEASE VOTE AND COMMENT...
KAMU SEDANG MEMBACA
The Sacred Connection [TAMAT]
Fantasy[sebagian chapter diprivat mohon follow dahulu] Eveline, seorang putri konglomerat, menjalani hidup tanpa batasan. Tidak ada tuntutan dari orang tuanya, tidak ada tekanan untuk bekerja, dan tidak ada dorongan untuk mencari pasangan. Sayangnya, kebeb...
![The Sacred Connection [TAMAT]](https://img.wattpad.com/cover/210257834-64-k948484.jpg)