chapter 9 ⚜️

11.4K 665 4
                                        

Revisi~

Eveline berjalan menyusuri lorong-lorong luas dalam mansion yang terasa asing baginya. Dinding-dindingnya tinggi dengan ukiran detail, lampu gantung kristal menghiasi langit-langitnya, dan jendela besar memperlihatkan pemandangan hutan yang lebat. Namun, meskipun tempat ini megah, ia merasa seperti burung yang dikurung dalam sangkar emas.

Yang lebih mengesalkan, Lucas tidak pernah melepaskannya, selalu merangkul bahunya seolah menegaskan kepemilikannya.

“Luke, kumohon… aku ingin menemui temanku!” pinta Eveline dengan suara penuh harap.

Lucas menatapnya sekilas, lalu menjawab dengan nada dingin.

“Tidak.”

Eveline menggigit bibirnya, menahan kesal. “Tapi, Luke, aku harus—”

“Anggrek bulan di tasmu sudah kubuang.”

Eveline terdiam. Jantungnya mencelos.

“Apa…?” suaranya hampir berbisik, tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.

Lucas menatapnya dengan ekspresi datar, seolah tidak terjadi apa-apa. “Aku membuangnya. Tidak ada gunanya bagimu.”

Darah Eveline mendidih. Ia menepis tangan Lucas yang merangkulnya, lalu berbalik menatap pria itu dengan mata menyala penuh amarah.

“Kau… kau tidak tahu seberapa berharganya bunga itu bagiku!” bentaknya, menunjuk Lucas dengan jari gemetar karena emosi.

Lucas tetap diam, tatapannya tidak berubah. Namun, udara di sekeliling mereka perlahan berubah.

Dingin.

Mencekam.

Aura gelap yang semula terkendali kini mulai merembes keluar dari tubuh Lucas, membuat Eveline merinding meskipun ia mencoba menahannya.

Dalam sekejap, Lucas bergerak cepat. Ia mendorong Eveline ke tembok, tubuhnya yang tinggi menjulang di hadapan gadis itu.

“Ah!” Eveline tersentak, punggungnya membentur dinding dengan keras.

Sebelum ia bisa berbuat apa-apa, Lucas sudah mencengkeram kedua pergelangan tangannya dan menekannya ke dinding di atas kepalanya.

Eveline menatap pria itu dengan mata membelalak, napasnya memburu.

Lucas mencondongkan wajahnya lebih dekat, hingga Eveline bisa merasakan hangatnya napas pria itu di kulitnya.

“Kau milikku,” ucapnya pelan, suaranya dalam dan menggetarkan. “Aku tidak akan membiarkanmu pergi.”

Eveline menelan ludah. Ia ingin berteriak, ingin melawan, tapi tatapan Lucas begitu menusuk, begitu mendominasi hingga membuat tubuhnya gemetar tanpa bisa dikendalikan.

Namun, meskipun ketakutan, Eveline tetap menegakkan dagunya dan menatap Lucas balik. Ia tidak mau tunduk begitu saja.

Lucas mempererat cengkeramannya. “Sebulan lagi, kita menikah.”

Eveline terkesiap. “Apa?! Tidak!”

Ia mencoba menarik tangannya, berusaha melepaskan diri, tapi Lucas tidak bergeming.

Lucas hanya tersenyum miring, penuh kepastian. “Apa yang keluar dari mulutku barusan adalah mutlak. Aku tidak menerima penolakan.”

Dengan itu, ia melepaskan Eveline dan melangkah pergi, meninggalkannya dalam kebingungan dan kemarahan.

Lucas berhenti sejenak di ambang pintu, menoleh sedikit ke belakang.

“Dan jangan coba-coba keluar dari rumah ini.”

Suara Lucas terdengar seperti peringatan, tajam dan berbahaya.

Eveline hanya bisa berdiri di tempatnya, dadanya naik turun, tangannya mengepal kuat.

Sekarang ia sadar satu hal.

Ia memang sudah masuk ke dunia yang tidak seharusnya.



BERSAMBUNG...
PLEASE VOTE AND COMMENT...

The Sacred Connection [TAMAT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang