Revisi ~
Eveline mengerutkan kening, matanya menyapu setiap sudut kamar dengan cermat. Dia yakin tadi kucing itu mengikutinya dari kamar mandi, tapi sekarang menghilang begitu saja tanpa jejak. Bahkan setelah mencari di bawah tempat tidur, di balik tirai, hingga ke kamar mandi lagi, tetap tidak ada tanda-tanda keberadaannya.
“Di mana kucing itu?” gumamnya pelan, masih berusaha mengingat apakah tadi ia benar-benar melihatnya atau hanya berhalusinasi.
Lucas, yang sedari tadi memperhatikannya dengan senyum penuh arti, akhirnya melangkah mendekat. Dengan gerakan santai, ia merangkul Eveline, menariknya mendekat ke tubuhnya yang besar dan hangat.
“Lupakan saja,” ucap Lucas dengan suara lembut yang menggelitik telinga Eveline. “Lebih baik kita sarapan.”
Eveline terdiam, tubuhnya sedikit menegang dalam pelukan pria yang baru ia kenal. Ia mencoba melepaskan diri dengan sedikit tarikan, namun bukannya melonggarkan pelukannya, Lucas justru semakin mengeratkannya.
“Lucas, bisa lepaskan aku?” tanyanya pelan, setengah memohon.
Namun pria itu hanya tersenyum tipis dan menggeleng. “Tidak.”
Eveline menghela napas, memilih untuk menyerah daripada menghabiskan tenaganya melawan pria dengan tubuh hampir dua kali lipat dari dirinya. Saat Lucas akhirnya melepaskannya, Eveline buru-buru berjalan menuju meja makan, matanya langsung membulat saat melihat hidangan yang tersaji.
Di depannya, terhidang berbagai macam makanan dengan tampilan yang menggugah selera. Meski sering menikmati hidangan mewah di rumahnya, ada beberapa menu yang belum pernah ia coba, membuatnya sedikit bersemangat. Tanpa pikir panjang, Eveline langsung berjalan cepat, mendahului Lucas, dan menarik kursi untuk duduk.
Lucas memperhatikannya dengan ekspresi geli. Bibirnya melengkung membentuk senyum yang sulit ia tahan. “Menggemaskan sekali calon istriku,” batinnya, sembari menutup mulut dengan tangannya untuk menahan tawa.
“Harusnya tuan rumah yang duluan, Eve,” kata Lucas sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Eveline yang baru sadar akan sikapnya hanya cengengesan, menundukkan kepala beberapa kali sebagai permintaan maaf. Lucas duduk di kursi tepat di sampingnya, masih dengan senyumnya yang tak kunjung hilang.
“Selamat makan,” ujar Eveline ceria, lalu mulai menyantap makanannya dengan lahap.
Lucas menaikkan sebelah alis, terhibur dengan cara Eveline makan seperti orang yang sudah menahan lapar seharian.
“Apa kau tidak makan sejak kemarin?” tanyanya santai.
Eveline mengangguk cepat tanpa menghentikan kunyahannya. “Sejak siang kemarin,” jawabnya dengan mulut penuh makanan.
Lucas hanya tersenyum kecil, lalu ikut mengambil sendok dan mulai makan.
Kini meja makan hanya diisi oleh dentingan sendok dan garpu yang beradu dengan piring. Sementara Eveline sibuk menikmati makanannya, Lucas diam-diam menatapnya lekat-lekat—seakan ingin menghafal setiap ekspresi yang dibuat wanita di sampingnya.
BERSAMBUNG...
PLEASE VOTE AND COMMENT...
KAMU SEDANG MEMBACA
The Sacred Connection [TAMAT]
Fantasy[sebagian chapter diprivat mohon follow dahulu] Eveline, seorang putri konglomerat, menjalani hidup tanpa batasan. Tidak ada tuntutan dari orang tuanya, tidak ada tekanan untuk bekerja, dan tidak ada dorongan untuk mencari pasangan. Sayangnya, kebeb...
![The Sacred Connection [TAMAT]](https://img.wattpad.com/cover/210257834-64-k948484.jpg)