°•°•°•°•°•°•°•°
"LUCAS! Pegang anakmu sebelum mereka menghancurkan rumah ini!"
Suara Eveline menggema di seluruh rumah, diiringi suara sesuatu jatuh keras ke lantai.
Lucas, yang baru saja pulang kerja seraya melepas jasnya, langsung bergegas ke ruang keluarga. Matanya membelalak saat melihat keadaan rumah mereka lebih mirip zona perang. Sofa terbalik, mainan berserakan, gorden hampir patah dan penuh dengan coretan spidol. Di tengah kekacauan itu, tiga anak laki-laki berusia lima tahun sedang berlarian sambil tertawa.
"ZACK! ALEX! LIAM! Berhenti sekarang juga!" Eveline mencoba mengejar mereka, tapi ketiga bocah itu terlalu lincah.
Zack, si sulung yang paling cepat, langsung melompat ke atas meja dengan ekspresi penuh kemenangan. "Kami tidak akan menyerah, Ibu! Tangkap kalau bisa!"
Alex, si pemberani yang sedikit lebih iseng dari kakaknya, malah menyeringai dan menyalakan senjata mainannya, pistol air yang entah bagaimana sudah diisi dengan susu.
Sementara itu, Liam, si bungsu yang tampaknya paling polos, malah memanjat punggung Lucas dan berbisik, "Ayah, selamatkan aku dari Ibu! Dia menyeramkan!"
Lucas menatap anak bungsunya dengan ekspresi frustasi. "Anakku sayang... kalian bertiga yang menyeramkan."
Tiba-tiba, tanpa aba-aba, Alex menembakkan pistol airnya ke arah Eveline.
Susu dingin menetes dari rambut Eveline ke wajahnya. Ia berdiri diam di tempat dengan ekspresi kosong. Lucas mundur selangkah, tahu persis kalau istrinya sedang berada di ambang batas kesabaran.
Zack dan Liam yang melihat situasi itu langsung menggigit bibir mereka, sadar bahwa mereka sudah melewati batas. Tapi Alex, bocah tak berdosa itu, justru tertawa terbahak-bahak. "Ibu terlihat lucu sekali! Hahaha"
Seketika, Eveline mengambil bantal sofa dan melemparnya ke Alex dengan kecepatan tinggi.
Bugh!
Tepat kena kepala.
"LARI!" Zack langsung menarik tangan saudara-saudaranya, dan mereka bertiga kabur ke lantai atas.
Lucas menatap punggung anak-anaknya yang menghilang ke tangga, lalu kembali menatap Eveline yang masih berdiri dengan rambut penuh susu.
"...Sayang, kau baik-baik saja?"
Eveline menutup wajahnya dengan kedua tangan. "Lucas... aku ingin cuti jadi ibu selama satu bulan. Bisa?"
Walaupun selama seminggu sekali ada waktu dimana Eveline bebas menjadi ibu dan istri. Ia merasa lelah. Lucas juga pasti kelelahan setiap pulang kerja menghadapi keadaan rumah yang selalu tidak baik baik saja. Tapi Lucas dan Eveline wajib bertanggung jawab atas rumah tangga mereka, ia dan Lucas sepakat jika urusan rumah dan anak bukan hanya urusan istri saja, tapi urusan bersama.
Lucas terkekeh, lalu menarik istrinya ke dalam pelukan. "Kalau aku bilang tidak bisa?"
"Kalau begitu, aku akan kabur ke spa dan meninggalkanmu sendirian dengan tiga bocah setengah iblis itu."
Lucas menegang. "Eveline, teganya kau."
Eveline melepaskan pelukan Lucas dan menatap suaminya dengan wajah penuh kelelahan. "Mereka itu punya energi tak terbatas. Aku bahkan tidak bisa ke kamar mandi karena takut ada yang menyalakan kompor atau menyiram tanaman dengan bensin."
Lucas menghela napas panjang. Ia mencintai anak-anaknya, walaupun tidak sebanding rasa cintanya ke sang istri. Tapi memang benar, mereka adalah tiga bocah dengan level kenakalan yang tak masuk akal.
Tiba-tiba, terdengar suara benturan keras dari lantai atas.
"YA AMPUN, KAMAR KITA!!!"
Eveline langsung berlari ke atas. Lucas menyusulnya, dan ketika mereka sampai di kamar tidur, mereka berdua hampir menangis.
Bantal-bantal berhamburan di lantai, kasur mereka sudah penuh dengan jejak kaki, dan lebih parahnya lagi, tembok yang semula putih bersih sekarang penuh dengan coretan krayon warna-warni.
Tiga bocah nakal itu berdiri di tengah kamar dengan senyum manis, tangan masih memegang krayon dan spidol.
Liam mengangkat tangannya dan berkata polos, "Kami menggambar keluarga kita! Bagus, kan?"
Lucas dan Eveline saling pandang. Antara marah dan ingin tertawa, mereka benar-benar bingung harus bereaksi bagaimana.
Lucas menghela napas panjang. "Baiklah. Setelah ini, kalian bertiga kena hukuman."
Ketiga anak itu langsung berteriak bersamaan. "TIDAKKKK!!!"
Dan seperti biasa, mereka berlari menghindari hukuman.
Lucas memijat pelipisnya. "Sayang, bagaimana kalau kita kirim mereka ke pelatihan militer?"
Eveline mendesah. "Lucas... mereka masih lima tahun."
"Tapi kalau tidak sekarang, kita tidak akan bertahan sampai mereka dewasa."
Eveline hanya bisa tertawa pahit. Satu hal yang pasti, hidup mereka tidak akan pernah tenang dengan tiga bocah iblis itu di rumah.
Tapi, di balik semua kenakalan mereka, Lucas dan Eveline tahu satu hal...
Mereka tidak akan menukar kekacauan ini dengan apapun di dunia.
°•°•°•°•°•°•°•°
Extra part tamat•°
•••°°°•••
Nyonya kepikiran buat side story Max & Sean, tapi baru akan ditulis kalau spam komentar tembus 200.
Kenapa segitunya?
Karena cerita ini udah 4x dilirik penerbit, tapi nyonya milih tetep di Wattpad, biar bisa dinikmati siapa aja. Semoga nyonya ga berubah pikiran sampai harus unpublish atau pindahin cerita ini ke tempat lain ya, soalnya nyonya ngerasain jadi pembaca kere😭😭.
Tapi menurut kalian lebih menarik buat side story Max & Sean (shoinen ai) atau side story Alves?
Fyi : Nyonya masih bingung mau buat gendre apa buat cerita mereka. Max itu manusia ☠️ , Sean itu Siluman Rubah 🦊, Alves itu Elf 🧚.
MAKASIH UDAH BACA SAMPE SEJAUH INI
*LOVE U READER'S*
KAMU SEDANG MEMBACA
The Sacred Connection [TAMAT]
Fantasy[sebagian chapter diprivat mohon follow dahulu] Eveline, seorang putri konglomerat, menjalani hidup tanpa batasan. Tidak ada tuntutan dari orang tuanya, tidak ada tekanan untuk bekerja, dan tidak ada dorongan untuk mencari pasangan. Sayangnya, kebeb...
![The Sacred Connection [TAMAT]](https://img.wattpad.com/cover/210257834-64-k948484.jpg)