Revisi~
Pintu kamar mandi terbuka, dan seorang pria keluar dengan pakaian lengkap. Rambutnya masih sedikit basah, meneteskan air yang menambah kesan segar dan semakin membuatnya tampak mempesona.
Eveline, yang masih terduduk di ranjang, mengamati dirinya sendiri. Ia mengangkat lututnya, menyentuhnya perlahan, dan terkejut menemukan kulitnya mulus tanpa luka sedikit pun.
Dia masih hidup. Tidak ada bagian tubuhnya yang hilang.
Rasa syukur membanjiri dadanya, dan tanpa sadar, senyum lebar merekah di wajahnya.
Eveline langsung berdiri dan membungkukkan badannya. "Terima kasih, Tuan, sudah menyelamatkan saya. Saya akan membalas kebaikan Anda suatu hari nanti."
Pria itu tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Eveline dalam diam, seolah menyimpan sesuatu di balik pikirannya. Lalu, tiba-tiba, bibirnya melengkung membentuk senyuman.
Tatapan itu... ada sesuatu yang membuat Eveline merinding.
Tapi sebelum ia bisa memahami perasaan aneh itu, pria tersebut melangkah mendekat dan tanpa peringatan, menggenggam tangannya.
"Maukah kau menjadi istriku, Eve?"
Dunia Eveline berhenti.
Matanya membelalak. Otaknya berusaha mencerna kata-kata yang baru saja ia dengar.
Apa dia tidak salah dengar?
Seorang pria tampan-yang agak sedikit gila, pikirnya-baru saja melamarnya?
Padahal, mereka bahkan baru bertukar beberapa kata!
Yang lebih mengejutkan lagi, bagaimana pria ini bisa mengetahui namanya?
Eveline berdeham ringan, mencoba menjaga ketenangannya meskipun jantungnya berdebar kencang. Ia melirik pria itu yang masih memegang tangannya dengan erat, ekspresinya penuh keyakinan.
Ia menegakkan tubuh dan mendongak, karena pria ini sangat tinggi hingga ia harus menatapnya ke atas. "Siapa namamu, Tuan?"
Pria itu tersenyum lebih lebar. "Lucas."
Eveline menelan ludah. Cara pria itu mengatakannya terdengar begitu percaya diri, seolah namanya saja cukup untuk membuat dunia bertekuk lutut di hadapannya.
"Maaf, Tuan..." Eveline menarik tangannya perlahan, berusaha melepaskan genggaman mereka. "Mengapa Anda tiba-tiba melamar saya? Dan bagaimana Anda bisa mengetahui nama saya?"
Lucas menatapnya tanpa berkedip, seolah pertanyaan itu adalah hal yang bodoh.
"Tentu saja aku harus mengetahui semua hal tentang orang yang kucintai."
Eveline merinding mendengar jawabannya. Suara Lucas begitu tenang, tapi justru semakin membuatnya merasa tidak aman.
Bagaimana bisa pria ini mengatakan hal semacam itu tanpa ragu?
Eveline mundur selangkah, mencoba mencerna semua informasi yang ia terima. Tapi Lucas masih menatapnya dengan intens, seolah dia adalah sesuatu yang sangat berharga baginya.
Bagaimana bisa seseorang jatuh cinta dalam waktu singkat seperti ini...?
Atau mungkin-
Sudah sejak lama dia mengamatiku?
Eveline menggelengkan kepalanya, mengusir pemikiran itu sebelum ia semakin takut. Ia memutuskan untuk tidak menyinggung lebih jauh dan memilih bersikap sopan terhadap pria yang sudah menyelamatkannya.
Ia menarik napas dalam, lalu berkata, "Bolehkah aku mengetahui namamu sekali lagi, Tuan?"
Lucas menyipitkan matanya, lalu tersenyum. Tapi ada sesuatu dalam senyumannya yang membuat Eveline menegang.
"Tentu saja," katanya dengan nada rendah. "Kau boleh mengetahui segala hal tentangku, gadisku."
Lucas mendekat, suaranya terdengar lebih lembut tapi berbahaya. "Namaku Lucas. Tapi kau harus memanggilku Luke. Dan jangan sekali-kali memanggilku 'Tuan'."
Eveline tidak punya pilihan selain mengangguk. Pria ini sudah menyelamatkannya dan mengizinkannya menginap semalaman, jadi setidaknya ia harus menghormatinya.
"Aku mengerti... L-Luke," ucapnya dengan sedikit canggung.
Lucas tersenyum sangat lebar. Terlalu lebar, hingga Eveline merasa semakin tidak nyaman.
Pandangan Eveline kemudian beralih ke meja nakas, tempat tas selempangnya tergeletak. Ia menatapnya lama, mengingat alasan mengapa ia datang ke tempat ini.
Cukup sudah. Dia sudah tidak peduli dengan batas waktu yang ditentukan temannya.
Setelah semua yang ia lalui-dikejar serigala dan hampir kehilangan nyawanya-tidak mungkin ia menyerah begitu saja. Ia akan menagih hadiahnya, tidak peduli apa pun yang terjadi.
Lucas mengikuti arah pandangannya, lalu tiba-tiba berkata, "Bersiaplah. Aku akan mengantarmu pulang."
Eveline menoleh dengan mata berbinar.
Lucas menatapnya dalam diam, merasakan jantungnya berdebar keras hanya karena melihat senyumannya.
Tentu saja, dia berbohong.
Mana mungkin dia membiarkan pasangan hidupnya pergi begitu saja?
Lucas menyuruh Eveline pergi membersihkan diri. Setelah itu, katanya, ia akan mengantarnya.
Eveline mengangguk senang, lalu masuk ke kamar mandi dengan membawa pakaian yang sudah disiapkan Lucas. Pandangan pria itu mengikutinya sampai pintu tertutup.
Begitu Eveline menghilang, Lucas menyeringai.
Dalam hitungan detik, tubuhnya berubah menjadi seekor kucing hitam mungil.
Tanpa suara, ia melompat dan menyelinap masuk ke dalam kamar mandi sebelum pintunya tertutup rapat.
Eveline mengerutkan kening ketika melihat seekor kucing hitam kecil tiba-tiba ada di kamar mandi bersamanya.
Dari mana dia datang...?
Tapi begitu ia melihat mata bulat menggemaskan dan bulunya yang lembut, seluruh kewaspadaannya menghilang.
"Oh, Tuhan..." Eveline berbisik, mendekat perlahan. "Bagaimana bisa ada makhluk semanis ini di kamar mandi?"
Dia melirik sekeliling, memastikan tidak ada yang melihatnya. Kemudian, tanpa bisa menahan diri, ia meraih kucing itu dan memeluknya erat.
"Kau sangat menggemaskan," gumamnya, lalu mulai menciumi kepala kucing itu berkali-kali.
Kucing itu mengeong kecil, tapi ada sesuatu di matanya yang tampak... tidak biasa.
Eveline tidak menyadarinya.
Setelah puas, ia menaruh kucing itu di wastafel. "Diam di sini, jangan ke mana-mana!" katanya sebelum beranjak ke bawah pancuran.
Ia tidak tahu bahwa kucing itu-yang sebenarnya adalah Lucas-sedang menatapnya dari wastafel dengan seringai licik di wajah mungilnya.
***
Setelah selesai mandi dan mengenakan pakaian yang diberikan Lucas, Eveline berbalik ke wastafel. Kucing itu masih ada di sana, duduk dengan tenang.
Ia tersenyum, lalu membawanya keluar dari kamar mandi.
Namun, saat ia berjalan beberapa langkah, ia tidak lagi mendengar suara langkah kecil mengikutinya.
Eveline menoleh ke belakang-dan matanya membelalak.
Di sana, bukannya kucing kecil yang mengikutinya...
Tapi seorang pria dewasa.
Lucas berdiri tegap, masih mengenakan pakaian yang sama seperti sebelumnya.
Eveline merasa bulu kuduknya meremang.
"Luke..." suaranya sedikit bergetar. "Apa kau melihat kucing hitam keluar dari kamar mandi?"
Lucas menatapnya dengan ekspresi tenang, tetapi ada kilatan geli di matanya.
"Tidak."
BERSAMBUNG...
PLEASE VOTE AND COMMENT...
KAMU SEDANG MEMBACA
The Sacred Connection [TAMAT]
Fantasy[sebagian chapter diprivat mohon follow dahulu] Eveline, seorang putri konglomerat, menjalani hidup tanpa batasan. Tidak ada tuntutan dari orang tuanya, tidak ada tekanan untuk bekerja, dan tidak ada dorongan untuk mencari pasangan. Sayangnya, kebeb...
![The Sacred Connection [TAMAT]](https://img.wattpad.com/cover/210257834-64-k948484.jpg)