Revisi~
Eveline membuka matanya perlahan, merasakan sinar matahari yang menembus celah gorden, menyilaukan penglihatannya. Ia mengangkat sebelah tangan untuk menghalangi cahaya itu, lalu mengerjapkan mata beberapa kali.
Udara di kamarnya terasa hangat dan nyaman. Tidak ada rasa sakit, tidak ada beban di tubuhnya. Ia mengguling-gulingkan badannya di atas kasur dengan senyum sumringah. Rasanya begitu ringan, seolah semua yang terjadi semalam hanyalah mimpi buruk yang telah berlalu.
Tunggu... semalam?
Eveline mengernyit, mencoba mengingat. Samar-samar ada sesuatu yang membuat dadanya terasa sesak. Lucas. Tatapan tajamnya. Sentuhan dinginnya. Dan-
Eveline mendadak terduduk di tepi ranjang, matanya beralih ke jam dinding. Jarum pendek menunjuk angka 5, sementara jarum panjang hampir mencapai angka 12.
Sore?
"Apa aku tidur selama itu?" gumamnya pelan.
Perlahan, ia bangkit dan meregangkan tubuhnya, lalu berjalan menuju kamar mandi dengan langkah santai. Ia tidak terlalu memikirkan kejadian semalam. Lagipula, tubuhnya tidak merasakan sakit sedikit pun.
Setibanya di wastafel, Eveline mendongak menatap bayangannya di cermin besar. Namun, yang pertama kali menarik perhatiannya bukanlah wajahnya yang sedikit pucat, melainkan pakaian yang ia kenakan-atau lebih tepatnya, yang tidak ia kenakan.
Matanya membelalak saat menyadari tubuhnya hanya berbalut bra. Panik, ia segera menutupi dirinya dengan kedua tangan. Tapi, sebelum bisa merasa malu lebih jauh, sesuatu yang lain mencuri perhatiannya.
Di atas dadanya, sedikit di sebelah kiri, ada sesuatu yang tidak seharusnya ada.
Sebuah tato.
Dengan tangan gemetar, Eveline mendekat ke cermin, berusaha memastikan apa yang ia lihat.
'Lucas's'
Nama itu terukir jelas di kulitnya, seperti tanda kepemilikan yang tidak bisa dihapus.
Jantungnya berdetak kencang. Tidak. Tidak mungkin. Lucas tidak mungkin-
Eveline dengan panik mulai menggosok tato itu dengan telapak tangannya, berharap tinta itu akan pudar. Tapi semakin ia menggosok, semakin kulitnya memerah. Rasa perih mulai muncul, namun tulisan itu tetap bertahan di sana, seolah mencemoohnya.
"TIDAK! HILANGLAH!!"
Tapi sia-sia.
"Miaw."
Eveline terlonjak kaget. Dengan napas terengah, ia menoleh ke samping dan melihat seekor kucing hitam duduk diam di sudut kamar mandi, menatapnya dengan tatapan seolah sedang menilai reaksinya.
"Kau lagi?" gumamnya.
Itu adalah kucing yang sama yang ia temui sejak pertama kali berada di tempat ini. Entah mengapa, melihat kucing itu mengingatkannya pada Lucas. Tatapan tajamnya, sikap misteriusnya...
Eveline menggelengkan kepala, mengusir pikiran aneh itu.
"Dasar kucing mesum," gerutunya, lalu mengangkat hewan itu dan membawanya keluar dari kamar mandi.
Setelah memastikan kucing itu tidak akan kembali mengintip, Eveline mengembuskan napas dan kembali ke wastafel. Ia memejamkan mata sejenak, mencoba menenangkan diri.
"Ini hanya tato..." bisiknya. "Tidak ada yang perlu dipikirkan..."
Dengan pikiran yang masih kacau, ia berjalan ke arah shower dan mulai menjalani ritual mandinya.
Eveline keluar dari kamar mandi dengan bathrobe putih yang menutupi tubuhnya. Ia mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil sambil melirik ke sekeliling kamar.
Kucing itu sudah menghilang. Lagi.
Mata Eveline menyipit. Ia semakin yakin tempat ini bukanlah dunia manusia biasa.
Namun, alih-alih memikirkannya lebih jauh, ia berjalan menuju walk-in closet dan memilih pakaian yang nyaman. Setelah sedikit berpikir, ia memilih dress berwarna ungu dengan motif bunga yang sederhana namun elegan.
Baru saja ia selesai mengenakan pakaian, suara dalam yang dalam dan dingin menggema di kamarnya.
"Kau tampak seksi."
Eveline membeku.
Jantungnya berdebar tak karuan saat ia perlahan menoleh ke arah sumber suara.
Di sana, di depan pintu, Lucas bersandar dengan santai, kedua lengannya bersedekap di dada. Matanya menatapnya tajam, tapi di sudut bibirnya ada seringai menggoda.
"Se-sejak kapan kau di sana?" suara Eveline bergetar.
Lucas mengangkat bahunya dengan ekspresi tak terbaca. "Sebelum kau masuk, aku sudah ada di sini lebih dulu."
Panas langsung menyebar ke wajah Eveline. Pipinya memerah sampai ke telinga.
Sial.
Lucas sudah ada di sini sejak tadi?! Itu berarti dia-
Eveline mengepalkan tangannya.
Marah.
Ia masih marah pada pria itu. Kemarin dia sudah memperlakukannya dengan kasar, dan sekarang berani-beraninya dia muncul dengan santai seolah tidak terjadi apa-apa?!
Dengan cepat, Eveline melangkah mendekat, tangan kanannya sudah mengepal erat.
Dia sudah menetapkan sasaran.
Lucas harus merasakan akibatnya.
Hidung mancung pria itu akan menjadi target tinjunya.
Tinggal dua sentimeter lagi sebelum tinjunya mengenai Lucas-
Srett!
Eveline membelalakkan mata.
Tangan kanannya berhenti di udara.
Tidak bisa bergerak.
Tidak hanya itu, tubuhnya pun terasa kaku, seolah ada kekuatan tak terlihat yang mengikatnya.
Lucas tersenyum manis. Senyum yang anehnya justru membuat Eveline semakin gugup.
Jantungnya berdetak lebih cepat dari sebelumnya.
"Apa... yang kau lakukan padaku?" Eveline berusaha bergerak, tapi sia-sia.
Lucas mendekat, memperkecil jarak di antara mereka. Wajahnya hanya berjarak beberapa inci dari wajah Eveline.
"Aku tidak melakukan apa-apa," bisiknya dengan nada penuh teka-teki.
Eveline menelan ludah.
Dengan sisa tenaga yang masih bisa ia kumpulkan, ia berusaha berbicara.
"Siapa kau... sebenarnya?" desisnya, matanya menatap tajam pria di depannya.
Lucas hanya tersenyum lebih lebar.
Dan itu saja sudah cukup untuk membuat Eveline semakin yakin-
Lucas bukan manusia biasa.
BERSAMBUNG...
PLEASE VOTE AND COMMENT...
KAMU SEDANG MEMBACA
The Sacred Connection [TAMAT]
Fantasy[sebagian chapter diprivat mohon follow dahulu] Eveline, seorang putri konglomerat, menjalani hidup tanpa batasan. Tidak ada tuntutan dari orang tuanya, tidak ada tekanan untuk bekerja, dan tidak ada dorongan untuk mencari pasangan. Sayangnya, kebeb...
![The Sacred Connection [TAMAT]](https://img.wattpad.com/cover/210257834-64-k948484.jpg)