chapter 17⚜️

9.1K 510 9
                                        

Revisi ~


Aku langsung menyeka bibirku dengan punggung tangan, menggosoknya berulang kali seolah bisa menghapus rasa anyir yang masih tertinggal di sana.

Hish, bau darah!

Aku ingin muntah. Dadaku terasa sesak, perutku melilit, dan rasa logam itu masih melekat di lidahku, seakan menempel di sana untuk selamanya. Aku terbatuk, mencoba mengeluarkan sisa-sisa cairan menjijikkan itu, tetapi semakin aku berusaha, semakin rasa itu menguasai mulutku.

Tunggu...

Mataku membelalak ketika melihat apa yang Lucas lakukan.

Dia mengangkat tangannya sendiri, lalu tanpa peringatan, mencakar telapak tangannya dengan kukunya yang tajam.

Darah segar merembes dari luka itu, menetes perlahan di antara jarinya yang panjang. Namun, dia tidak meminumnya. Tidak seperti yang kuduga.

Sebaliknya, dia membiarkan darah menetes dari lukanya, lalu mengusapkannya ke lehernya sendiri dengan gerakan perlahan, bukan sekadar luka, tapi sebuah tanda. Saat cairan merah itu menyentuh kulit lehernya, udara di sekitar mereka seolah memberat, seakan sesuatu yang tak terlihat teejadi.

Aku tersentak.

Lucas menatapku dengan mata merah yang semakin menyala, refleksi cahaya di irisnya tampak berdenyut seperti bara api yang baru saja ditiup.

"Jangan bergerak."

Suara itu terdengar rendah, hampir seperti bisikan, tetapi perintahnya begitu mutlak.

Aku refleks mundur, tapi sebelum aku bisa berbuat lebih jauh, sesuatu mencengkeram pergelangan tanganku.

Sial.

Dalam satu tarikan, Lucas menarikku lebih dekat, mengurungku di antara dirinya dan dinding di belakangku.

Seketika, aroma logam darah bercampur dengan udara dingin yang menggigit kulitku.

Tangannya yang berlumuran darah meluncur ke daguku, lalu dengan gerakan lembut yang bertolak belakang dengan intensitas matanya, dia mengusap cairan hangat itu di sana.

Aku menegang.

Aku merasakan basahnya darah yang baru saja meninggalkan tubuhnya, melekat di kulitku, meresap perlahan.

Aku menggigit bibir, jantungku berdetak tak terkendali.

"Kau tahu apa yang terjadi jika darahku menyentuhmu?" bisiknya.

Aku tidak menjawab.

Lucas tersenyum, dingin dan penuh kepastian. Lalu dia mengecup bekas darah itu di leherku dengan gerakan yang nyaris menyentuh, namun cukup untuk membuat sensasi panas merayap di tubuhku.

Aku menahan napas.

Bukan ciuman biasa.

Itu adalah tanda.

Darahnya meresap ke dalam kulitku, mengalir di pembuluh darahku, menyatu denganku.

Panas.

Terasa seperti bara api yang menyala dalam tubuhku, membakar perlahan dari dalam.

Aku tersentak, mencoba menggerakkan tubuhku, tetapi sensasi itu terlalu kuat, terlalu menjerat.

Lucas menyeringai, puas melihat reaksiku.

"Sejak saat ini," suaranya terdengar dalam dan berbahaya, "kau milikku."

Aku ingin membantah, ingin menghapus jejak darahnya dari kulitku, tetapi tubuhku tak bisa diajak bekerja sama.

The Sacred Connection [TAMAT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang