Revisi ~
Eveline masih terengah-engah, tubuhnya terasa lemas setelah pelariannya yang nyaris berakhir tragis. Jantungnya berdetak kencang, bukan hanya karena ketakutan terhadap serigala-serigala liar di luar pagar, tetapi juga karena pria asing yang kini berdiri di ambang pintu mansion.
Cahaya lampu di depan mansion menerangi wajah pria itu sebagian, memperlihatkan fitur tajam dan ekspresi yang sulit ditebak. Mata gelapnya mengunci pandangan pada Eveline, seolah menelanjangi ketakutan dan kelelahan yang masih menguasai tubuhnya.
Langkah pria itu tenang dan terkontrol saat ia melangkah ke luar. Sepatunya menginjak batu kerikil di halaman depan, suara gesekan kecil itu terdengar jelas di telinga Eveline yang masih dalam mode siaga.
Lari?
Tidak mungkin. Tubuhnya masih terlalu lemah. Lagipula, pergi ke mana? Di belakangnya hanya ada hutan gelap dengan hewan buas yang masih mengintai.
Tetap di sini?
Pilihan itu pun terasa tidak lebih baik. Mansion ini terasa lebih menyeramkan daripada hutan di belakangnya.
Pria itu berhenti beberapa langkah di depannya, menunduk sedikit, memandang Eveline dengan senyum tipis yang tak bisa diartikan.
"Menarik," gumamnya pelan. Suaranya dalam, sedikit serak, tetapi memiliki daya tarik yang aneh. "Kau berani masuk ke wilayahku tanpa izin, melompati pagar seakan tempat ini taman bermainmu sendiri, dan sekarang kau berdiri di sana, menatapku seolah akulah monster yang akan memangsa dirimu."
Eveline menelan ludah. Oke, pria ini jelas bukan orang biasa. Sikapnya terlalu tenang, terlalu percaya diri, seolah ia tahu persis bahwa dirinya memiliki kuasa atas segalanya.
"Maaf..." suara Eveline serak, hampir berbisik. Tenggorokannya terasa kering, mungkin karena terlalu banyak berlari. "Aku... hanya butuh tempat berlindung. Ada-" ia melirik ke belakang, ke pagar tinggi yang memisahkan dirinya dari serigala-serigala buas yang masih menggeram marah. "-mereka mengejarku."
Pria itu melirik sekilas ke arah pagar, lalu kembali menatapnya. Senyumannya bertambah lebar, tetapi justru semakin terasa berbahaya.
"Apa kau tahu di mana kau berada, gadis kecil?" tanyanya dengan nada bermain-main.
Eveline mengerutkan kening. Apa maksudnya?
"Tentu saja," jawabnya dengan suara yang lebih tegas. "Aku tahu ini mansion di tengah hutan. Tapi aku tidak punya waktu untuk bertanya-tanya kenapa tempat ini ada di sini. Aku hanya butuh-"
"Perlindungan?" potong pria itu.
Eveline mengangguk.
"Tolong... Biarkan aku tinggal di sini malam ini saja. Aku akan pergi begitu pagi tiba."
Pria itu terdiam sesaat, menatapnya lama seolah sedang mempertimbangkan sesuatu. Lalu tiba-tiba-
CREEEAK
Pintu besar di belakang pria itu terbuka lebih lebar, seakan memberi jawaban sebelum ia sendiri berbicara.
"Masuk," ucapnya akhirnya.
Eveline menegang.
"Tunggu, semudah itu?" tanyanya curiga.
Pria itu tertawa kecil, tetapi ada nada misterius dalam tawa itu. "Apa kau ingin kembali ke hutan dan mencoba peruntunganmu dengan mereka?"
Eveline kembali melirik ke pagar. Ketiga serigala itu masih di sana, mondar-mandir, menggeram dengan frustrasi karena kehilangan mangsanya.
Pilihan yang ia miliki sangat terbatas.
Mengambil napas panjang, Eveline akhirnya melangkah masuk, melewati pria asing itu dan memasuki mansion yang sejak awal sudah menarik perhatiannya.
Begitu ia masuk-
BAM!
Pintu di belakangnya tertutup dengan sendirinya.
Eveline membeku.
Pria itu masih berdiri di belakangnya, tetapi kali ini lebih dekat. Ia bisa merasakan auranya yang mendominasi, seolah udara di sekitarnya semakin menipis.
Pria itu mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan, mendekati telinga Eveline, membuat bulu kuduknya berdiri.
"Mine."
Satu kata, tetapi terasa seperti belenggu yang mengikat seluruh tubuh Eveline.
Ia menoleh dengan mata membelalak, tetapi pria itu hanya tersenyum tipis, seakan puas dengan reaksi yang diberikan Eveline.
"Apa maksudmu?" Eveline berusaha tetap tenang meski suara hatinya berteriak waspada.
Pria itu tidak menjawab langsung. Ia hanya memiringkan kepala sedikit, matanya mengamati Eveline seperti seorang pemangsa yang baru saja mendapatkan buruannya.
"Kau memasuki wilayahku tanpa izin, kau melompat pagar milikku, dan sekarang kau berdiri di dalam rumahku," suaranya rendah, tetapi ada sesuatu yang membuatnya terasa mengguncang. "Menurutmu, apa yang terjadi pada seseorang yang memasuki sarang seekor predator?"
Eveline mundur selangkah, tubuhnya menegang.
"Tidak ada yang pernah pergi begitu saja dari tempat ini," lanjut pria itu. "Dan kau..." jemarinya terangkat, menyentuh dagu Eveline secara tiba-tiba, membuatnya terkesiap. "Sekarang kau milikku."
Eveline menahan napas, tubuhnya membeku di tempat.
Matanya menatap pria di depannya dengan ketakutan dan keterkejutan.
Apa yang baru saja ia masuki...?
🍁
🍁
🍁
🍁
🍁
🍁
🍁
🍁
🍁
🍁
🍁
🍁
🍁
🍁
🍁
BERSAMBUNG...
PLEASE VOTE AND COMMENT...
KAMU SEDANG MEMBACA
The Sacred Connection [TAMAT]
Fantasy[sebagian chapter diprivat mohon follow dahulu] Eveline, seorang putri konglomerat, menjalani hidup tanpa batasan. Tidak ada tuntutan dari orang tuanya, tidak ada tekanan untuk bekerja, dan tidak ada dorongan untuk mencari pasangan. Sayangnya, kebeb...
![The Sacred Connection [TAMAT]](https://img.wattpad.com/cover/210257834-64-k948484.jpg)