Revisi~
***
Cahaya bulan memantul di permukaan sungai yang jernih, menciptakan kilauan seperti kristal yang bergerak mengikuti aliran air. Eveline dan Lucas duduk di pinggir sungai, menikmati pemandangan air terjun bercahaya yang memancarkan keajaiban yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
Sungguh luar biasa.
Eveline tidak bisa berhenti tersenyum. Semakin lama ia berada di dunia ini, semakin banyak hal yang membuatnya takjub.
Lucas meliriknya dari samping, memperhatikan bagaimana senyum itu bertahan lebih lama dari biasanya.
"Kau menyukainya?" tanyanya pelan.
Eveline menoleh ke arah Lucas, matanya berbinar dalam cahaya bulan.
"Sangat," jawabnya jujur, "terima kasih, Luke."
Lucas terdiam sejenak saat mendengar panggilan itu keluar begitu alami dari bibir Eveline. Luke. Bukan Lucas, bukan sesuatu panggilan yang formal. Tapi Luke, seolah-olah mereka telah mengenal satu sama lain sejak lama.
Senyuman kecil terukir di bibir Lucas.
Eveline menyenderkan kepalanya ke bahunya, menghirup aroma khas pria itu yang selalu membuatnya merasa aman.
Jujur saja, Eveline semakin nyaman berada di sisi Lucas. Bahkan, ia mulai berpikir…
Bagaimana jika ia benar-benar menerima takdirnya di sini?
Lucas bilang dia sudah menjadi istrinya, tapi di hati Eveline, ia masih menganggap hubungan mereka seperti sepasang kekasih yang baru jatuh cinta.
Karena satu hal…
Ia ingin menikah seperti manusia pada umumnya.
"Terima kasih juga," suara Lucas terdengar dalam, penuh ketulusan, "karena kau sudah mulai menerimaku."
Eveline tersenyum tipis. Tatapannya kembali terfokus pada air terjun di depannya. Cahaya bulan yang memantul di permukaan air seakan menjadi saksi dari perasaannya yang perlahan tumbuh.
Jantungnya berdetak lebih cepat.
Ia menggigit bibirnya, menimbang-nimbang sesuatu di dalam hatinya.
Haruskah ia mengatakannya?
Ataukah lebih baik disimpan saja?
Tapi jika ia tidak mengatakan sekarang, kapan lagi?
Dengan suara lirih, hampir seperti bisikan yang hanya bisa didengar oleh Lucas…
"I love you~"
Lucas tersentak.
Matanya melebar saat menatap gadis di sampingnya, yang kini wajahnya memerah hingga ke telinga.
Eveline tetap menatap ke depan, menghindari tatapan Lucas.
Jantung mereka berdua berdetak begitu cepat, seakan-akan bisa terdengar di tengah kesunyian malam.
Lucas masih dalam keadaan terkejut. Ia bahkan sempat berpikir bahwa ia hanya salah dengar.
"Sayang… apa kau baru saja…" Lucas mencondongkan tubuhnya sedikit, mencoba menangkap ekspresi Eveline.
Eveline menghela napas panjang, menutup matanya erat-erat seolah ingin melawan rasa malunya.
"Aku tidak tahu kenapa," ucapnya akhirnya, masih tidak berani melihat Lucas, "apa karena kita mate? Apa karena perasaanmu juga mempengaruhiku? Atau… karena aku benar-benar jatuh cinta padamu dengan caraku sendiri?"
KAMU SEDANG MEMBACA
The Sacred Connection [TAMAT]
Fantasy[sebagian chapter diprivat mohon follow dahulu] Eveline, seorang putri konglomerat, menjalani hidup tanpa batasan. Tidak ada tuntutan dari orang tuanya, tidak ada tekanan untuk bekerja, dan tidak ada dorongan untuk mencari pasangan. Sayangnya, kebeb...
![The Sacred Connection [TAMAT]](https://img.wattpad.com/cover/210257834-64-k948484.jpg)