Revisi ~
***
Eveline duduk di tepi tempat tidur, kedua tangannya mengepal di atas pahanya. Wajahnya merah padam bukan karena malu, tetapi karena amarah yang membara di dadanya.
Ia menendang udara berulang kali, seolah-olah sedang menghajar seseorang yang tidak kasat mata.
Tentu saja, dalam bayangannya, sosok itu adalah Lucas.
“Brengsek!” gerutunya sambil menghentakkan kakinya ke lantai. “Sialan! Menyebalkan! Ugh, kenapa aku menerima tantangan bodoh itu?!”
Eveline mengacak rambutnya frustasi. Ia benar-benar menyesali keputusannya. Jika saja ia menolak permainan konyol temannya, ia tidak akan terjebak di rumah pria gila yang menganggapnya sebagai milik!
Eveline masih sibuk menggerutu, menendang-nendang udara seolah-olah Lucas ada di depannya. Ia mendengus kesal, lalu menghempaskan tubuh ke tempat tidur.
Namun, ada sesuatu yang membuatnya merasa tidak nyaman.
Seperti... ada yang mengawasinya.
Perlahan, perasaan itu semakin kuat, membuat bulu kuduknya berdiri. Ia menoleh ke sekeliling kamar, matanya menyapu setiap sudut ruangan.
Dan saat itulah—
"APA YANG KAU LAKUKAN?!"
Eveline berteriak panik begitu matanya menangkap sosok Lucas yang duduk santai di sofa.
Sejak kapan dia ada di sana?!
Lucas hanya menatapnya dengan ekspresi tenang, satu tangan bertumpu di sandaran sofa, sementara kaki panjangnya disilangkan dengan santai.
menatapnya dengan ekspresi tenang tapi penuh arti.
Mata Eveline membulat. “Kau?!”
Lucas mengangkat alisnya. “Apa?”
Eveline menunjuknya dengan geram. “Apa yang kau lakukan di kamarku?!” teriaknya, suaranya dipenuhi emosi.
Lucas hanya mengedikkan bahu, lalu berdiri dan melangkah santai ke arahnya. “Ini rumahku.”
Eveline mundur selangkah, lalu menyadari dirinya terlalu reaktif. Ia mendongak menatap Lucas dengan tatapan penuh perlawanan.
Lucas berdiri tepat di hadapannya, menyeringai kecil. “Aku akan pergi sebentar,” katanya, nada suaranya terdengar ringan. “Tapi ingat satu hal, sayang…”
Lucas mengulurkan tangan dan mengelus kepala Eveline dengan lembut, bertolak belakang dengan aura mencekam yang tiba-tiba mengelilinginya.
“Jangan sekali-kali menginjakkan kaki keluar rumah ini,” bisiknya pelan namun mengandung ancaman tersirat. “Jika kau melakukannya…”
Ia berhenti sejenak, lalu menggelengkan kepalanya dengan smirk mengerikan.
“Kau tahu akibatnya.”
Eveline menahan napas. Jantungnya berdebar tidak karuan, bukan karena terpesona, tetapi karena takut.
Lucas menarik tangannya, lalu berbalik pergi, meninggalkan Eveline yang masih berdiri kaku di tempatnya.
***
Dari balik jendela kamarnya, Eveline mengamati Lucas yang berjalan keluar rumah dengan santai, masuk ke dalam mobil, lalu mengendarainya hingga menghilang di kejauhan.
Kesempatan!
Eveline langsung beraksi. Ia sudah memikirkan rencana ini sejak tadi. Jika Lucas tidak ada, maka ini adalah waktu yang tepat untuk kabur.
Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan jantungnya yang berdebar kencang.
Baik, dia bisa melakukan ini.
Eveline melangkah keluar kamar dengan hati-hati, celingak-celinguk ke segala arah. Anehnya, rumah ini terasa sangat sepi, seolah semua penghuni di dalamnya menghilang begitu saja.
Tapi itu lebih baik.
Tanpa membuang waktu, ia mempercepat langkahnya menuju pintu utama yang menjulang besar. Tangannya gemetar saat menggenggam gagang pintu, takut-takut pintu itu akan berbunyi dan menarik perhatian siapa pun yang ada di rumah ini.
Namun, ketika ia memutarnya…
Klik.
Pintu itu terbuka!
Eveline tidak berpikir dua kali. Ia berlari keluar dengan napas memburu, melewati halaman luas yang terasa begitu menyesakkan.
Pagar besar ada di depan matanya. Ia hampir sampai!
Tapi begitu tangannya menyentuh terali besi…
Terkunci!
“Sial!” Eveline mengumpat pelan, menggoyangkan pagar dengan panik, berharap bisa membukanya dengan paksa. Namun, pagar itu sama sekali tidak bergerak.
Matanya liar mencari alternatif lain. Mungkin dia bisa memanjatnya seperti saat pertama kali masuk ke dalam hutan ini?
Ia menoleh ke samping, mencari celah…
Dan di sanalah dia.
Lucas.
Berdiri di sisi pagar dengan ekspresi santai, tangan terlipat di dada, dan seringai khasnya yang mengerikan.
Aura hitam yang menyeramkan mulai menyelimuti tubuhnya, membuat udara di sekitar terasa lebih berat.
Eveline membeku.
Jantungnya seakan berhenti berdetak.
“Ba-bagaimana bisa…?” bisiknya lemah.
Lucas menatapnya tajam, seringainya semakin melebar.
“Kau pikir bisa lari dariku, sayang?”
***
Spam komen plz😭
BERSAMBUNG...
PLEASE VOTE AND COMMENT...
KAMU SEDANG MEMBACA
The Sacred Connection [TAMAT]
Fantasía[sebagian chapter diprivat mohon follow dahulu] Eveline, seorang putri konglomerat, menjalani hidup tanpa batasan. Tidak ada tuntutan dari orang tuanya, tidak ada tekanan untuk bekerja, dan tidak ada dorongan untuk mencari pasangan. Sayangnya, kebeb...
![The Sacred Connection [TAMAT]](https://img.wattpad.com/cover/210257834-64-k948484.jpg)