chapter 3⚜️

14.1K 874 7
                                        

Revisi~

Dikejar oleh Kegelapan

Eveline melihat tiga serigala besar dengan bulu kasar berdiri tak jauh darinya. Nafas mereka terengah-engah, air liur bercampur busa menetes dari taring tajam yang mencuat dari mulut mereka. Mata mereka merah menyala, seolah haus akan darah.

Oh Tuhan...

Jantung Eveline berdegup kencang, tangannya mulai gemetar hebat. Ia ingin berteriak, ingin meluapkan rasa takut yang mendekapnya, tapi suaranya tertahan di tenggorokan.

Ketiga serigala itu mulai mendekat. Tubuh mereka rendah ke tanah, siap menerkam kapan saja.

Aku harus pergi dari sini!

Eveline menarik napas dalam dan-

LARI!!

Ia langsung berbalik dan berlari secepat mungkin. Ranting-ranting tajam mencambuk wajah dan lengannya, tetapi ia tidak peduli. Hanya ada satu hal dalam pikirannya Jangan berhenti! Jangan biarkan mereka menangkapmu!

Langkah kakinya menghantam tanah dengan keras, tubuhnya melesat di antara pepohonan yang rapat. Jantungnya berdebar kencang, dan napasnya mulai tersengal. Tapi ia tidak bisa berhenti.

Terdengar suara langkah berat dan cepat di belakangnya-serigala-serigala itu masih mengejarnya!

Sial! Mereka masih di belakangku!

Eveline melirik ke belakang sekilas, dan itu adalah kesalahannya.

BRUK!

Ia tersandung akar pohon besar dan tubuhnya menghantam tanah dengan keras. Lututnya tergores, kulitnya sobek, darah merembes ke kain celana yang robek di bagian lutut.

"Ughh..." Eveline meringis, rasa perih menusuknya. Nafasnya semakin berat, dan tubuhnya terasa lemah. Namun, suara geraman tajam di belakangnya membuatnya segera sadar-ini bukan waktunya untuk menyerah!

Dengan sekuat tenaga, ia bangkit dan kembali berlari, meskipun kakinya berdenyut nyeri. Keringat membanjiri tubuhnya, membuat pakaian yang ia kenakan menempel erat pada kulit.

Di ujung jalan setapak yang sempit dan dipenuhi akar-akar menjulur, Eveline melihat sesuatu yang bersinar samar di kejauhan.

Cahaya?

Hatinya dipenuhi harapan baru. Itu berarti ada sesuatu di depan! Mungkin seseorang, atau tempat yang bisa memberinya perlindungan.

Ia mempercepat langkahnya, rasa sakit di tubuhnya tidak lagi menjadi fokusnya. Hanya ada satu tujuan: mencapai sumber cahaya itu.

Dan akhirnya-

Ia tiba di sebuah jalan yang lebih luas. Tanahnya tidak beraspal, tetapi cukup rata dibandingkan jalur yang baru saja ia lalui.

Namun, yang membuatnya terpana bukanlah jalan itu.

Di hadapannya, berdiri sebuah bangunan megah dengan arsitektur klasik yang misterius.

Sebuah mansion.

Bangunan itu besar dan menjulang, dengan jendela-jendela tinggi dan pintu gerbang besi hitam yang kokoh. Cahaya redup dari lampu-lampu luar menciptakan bayangan-bayangan panjang di sekitarnya, memberikan kesan suram sekaligus anggun.

Apa yang dilakukan mansion sebesar ini di tengah hutan terkutuk seperti ini?

Eveline tidak punya waktu untuk bertanya.

Geraman di belakangnya semakin keras. Ketiga serigala itu sudah sangat dekat. Nafas mereka terdengar kasar, dan tatapan mereka penuh dengan niat membunuh.

Tidak ada pilihan lain!

Dengan tangan yang masih gemetar, Eveline bergegas menuju pagar besi tinggi yang mengelilingi mansion. Ia meraih batang besi pagar dan mencoba mendorongnya.

Terkunci.

"Tidak... tidak... tidak!" bisiknya panik, menarik dan menggoyangkan pagar dengan sia-sia.

Ia menoleh ke belakang.

Serigala pertama sudah berada kurang dari lima meter darinya. Dua lainnya mengekor di belakang, siap menerkam kapan saja.

Aku tidak bisa mati di sini!

Tanpa pikir panjang, Eveline meraih batang besi pagar dan mulai memanjat. Tangannya mencengkeram erat, tubuhnya bergerak cepat meski jari-jarinya hampir kehilangan kekuatan.

Aku bisa melakukannya! Aku harus melakukannya!

Kakinya menendang pagar untuk mendapatkan pijakan lebih tinggi.

Serigala pertama melompat-taringnya hampir mengenai pergelangan kakinya.

"Aaahh!" Eveline menjerit, nyaris kehilangan keseimbangan, tetapi ia memaksakan diri untuk terus memanjat lebih cepat.

Serigala kedua dan ketiga ikut melompat, cakarnya mencakar pagar, mengeluarkan suara berdecit yang mengerikan.

Dengan napas tersengal, Eveline akhirnya berhasil mencapai bagian atas pagar.

Ia tidak berpikir lama.

Dengan sisa tenaga yang ia miliki, ia melompat ke sisi lain, tubuhnya terhempas ke tanah dengan keras.

BRUK!

Eveline meringis, merasakan sakit menjalar ke seluruh tubuhnya. Namun, ia tidak punya waktu untuk mengeluh.

Ia segera berguling ke samping dan menoleh ke belakang.

Ketiga serigala itu menggeram marah, mencakar pagar besi dengan buas. Mata mereka yang merah menyala menatapnya penuh kebencian, tetapi mereka tidak bisa melewati pagar tinggi itu.

A-aku selamat?

Napas Eveline masih berat. Keringat menetes di pelipisnya, tetapi akhirnya, ia bisa merasa sedikit lega.

Namun, sebelum ia bisa sepenuhnya merasa aman-

CREAAAKKK-

Pintu depan mansion perlahan terbuka.

Eveline menoleh dengan cepat, jantungnya kembali berdetak lebih cepat.

Di ambang pintu, sesosok pria tinggi berdiri di bawah cahaya remang-remang. Matanya yang tajam berkilat seperti predator yang baru saja menemukan mangsanya.

Bibir pria itu sedikit melengkung ke atas.

"Selamat datang, tamu tak diundang."

Eveline menahan napas.

Siapa dia...?

💤
💤
💤
💤
💤
💤
💤
💤
💤
💤
💤
💤
💤
💤

Bersambung...
Jangan lupa vote and comment...

The Sacred Connection [TAMAT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang