Revisi~•°
Baru saja Damian, ayah Eveline ingin mempersilakan semua orang untuk mulai makan, suara keras tiba-tiba terdengar dari luar rumah.
"AKU PULANG!!"
Suara itu menggema di seluruh ruangan, membuat Eveline seketika membeku dengan sendok masih di tangannya. Ia mengenali suara itu dengan sangat baik.
Tak lama kemudian, seorang bocah laki-laki berusia 14 tahun muncul di pintu ruang makan. Rambut coklatnya sedikit berantakan lepek, wajahnya tampak berkeringat, dan pakaiannya sudah basah akibat keringat, menandakan bahwa ia baru saja bermain di luar cukup lama. Di tangannya, ia menenteng skateboard yang tampak sudah sering dipakai, dengan beberapa goresan di sisi-sisinya.
"KAKAK!?"
Alister, adik Eveline dari ayah dan ibu tirinya membelalakkan mata tak percaya saat melihat siapa yang duduk di meja makan.
Tanpa pikir panjang, ia segera berjalan cepat ke arah Eveline, bahkan hampir berlari. Eveline yang sedang duduk langsung berdiri, menyambut Alister dengan pelukan erat.
"Aku merindukanmu!" gumam Eveline sambil tersenyum.
Alister mendengus kecil, seolah ingin mengatakan bahwa ia kesal karena kakaknya menghilang tanpa kabar, tapi pada akhirnya ia tetap memeluk Eveline erat. Setelah beberapa detik, ia akhirnya melepas pelukan itu, lalu melirik Lucas yang duduk tepat di sebelah Eveline.
Matanya menyipit curiga, lalu mulai meneliti Lucas dari kepala hingga kaki beberapa kali.
Setelah beberapa detik menilai pria itu, Alister mendekatkan wajahnya ke telinga Eveline dan berbisik pelan.
"Beruang jenis apa yang duduk di sebelahmu?"
Eveline menahan tawa sekuat tenaga. Alister duduk di sebelahnya.
Ia ingat betul, saat pertama kali bertemu Lucas, ia juga berpikir hal yang sama.
Lucas dengan tubuh tegapnya, bahu lebar, serta aura dinginnya memang bisa terlihat seperti beruang besar yang mengintimidasi.
"Kukira kau akan berkencan dengan Kak Max," bisik Alister lagi sambil mengambil sepotong ayam goreng di piringnya dan mengunyah santai.
Mata Lucas yang sejak tadi fokus pada makanannya, tiba-tiba berhenti bergerak saat mendengar nama yang disebut Alister.
Dengan ekor matanya, ia melirik sekilas ke arah Eveline dan Alister.
Namun, dalam hitungan detik, ia kembali melanjutkan makannya dengan ekspresi datar, seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
Eveline yang menyadari perubahan kecil itu hanya berdeham pelan, lalu menyikut lengan Alister agar diam.
***
Setelah selesai makan, mereka semua berpindah ke ruang keluarga.
Suasana terasa hangat, dengan aroma teh dan berbagai camilan yang disajikan di meja. Eveline duduk bersandar nyaman di sofa, sementara Lucas duduk di sebelahnya, dengan sikap tenang seperti biasa.
Di sisi lain, Damian dan Anna terlibat dalam percakapan santai dengan Eveline, menanyakan kabarnya selama sebulan terakhir.
Namun, di antara mereka semua, ada satu orang yang tampak tidak menikmati percakapan ini.
Alister.
Bocah itu duduk terbalik di sofa, dengan kepalanya di bawah dan kakinya di atas sandaran, menciptakan posisi yang absurd.
Lucas yang sedari tadi memperhatikannya mulai bertanya-tanya, kenapa anak ini tidak pergi saja ke kamarnya jika bosan?
Namun, jawabannya segera ditemukan.
Tentu saja Alister tidak diperbolehkan meninggalkan ruang keluarga.
Ini adalah pertemuan pertama antara keluarga dengan kekasih Eveline, dan sebagai bagian dari keluarga, Alister harus ikut serta dalam momen ini.
Mau tidak mau.
Lucas mengangkat alis saat melihat bocah itu memasukkan kacang ke dalam mulutnya satu per satu sambil menatap mereka tanpa ekspresi.
Tiba-tiba, Lucas teringat sesuatu.
"Oh, ya." Lucas akhirnya bersuara, memecah keheningan.
Semua orang di ruangan menoleh ke arahnya, termasuk Alister.
"Aku membawa oleh-oleh untuk Alister," ucap Lucas santai.
Alister langsung mengubah posisi duduknya dengan cepat, kini duduk tegap dengan mata berbinar.
Eveline mengernyit bingung.
Setahunya, mereka tidak membeli apapun sebelum datang ke rumah ini.
Lucas menoleh ke arah Eveline, lalu mengedipkan sebelah matanya.
Eveline menatapnya curiga, tapi ia memilih untuk diam dan melihat apa yang akan terjadi selanjutnya.
Sementara itu, Alister yang mendengar kata ‘oleh-oleh’ langsung menatap Lucas dengan penuh antusiasme.
"Benarkah?!" tanyanya dengan semangat.
Lucas mengangguk. "Tentu. Kau bisa mengambilnya sendiri di bagasi mobil."
Mata Alister berkilat penuh harapan, dan tanpa ragu sedikit pun, ia langsung melompat dari sofa.
"YES! Aku akan ambil sekarang juga!" serunya.
Dalam hitungan detik, bocah itu sudah berlari keluar dengan kecepatan luar biasa, nyaris menabrak meja kecil di sudut ruangan.
Eveline hanya menghela napas panjang melihat betapa mudahnya adiknya dipancing dengan sesuatu yang menarik.
Ia lalu menoleh ke Lucas. "Kau benar-benar membawa sesuatu untuknya?" tanyanya dengan nada penasaran.
Lucas menyandarkan tubuhnya ke sofa, bibirnya melengkung misterius.
"Tunggu dan lihat saja."
Eveline menyipitkan mata, semakin curiga dengan rencana Lucas.
Sementara itu, dari luar rumah, terdengar suara langkah kaki Alister yang berlari menuju garasi.
Apa yang sebenarnya sudah disiapkan Lucas untuk adiknya?
🎀
Tbc~
Lop yu readers
Padahal tiap chapter dikit banget, kok kalian masih baca sampe sini🕊️
KAMU SEDANG MEMBACA
The Sacred Connection [TAMAT]
Fantasy[sebagian chapter diprivat mohon follow dahulu] Eveline, seorang putri konglomerat, menjalani hidup tanpa batasan. Tidak ada tuntutan dari orang tuanya, tidak ada tekanan untuk bekerja, dan tidak ada dorongan untuk mencari pasangan. Sayangnya, kebeb...
![The Sacred Connection [TAMAT]](https://img.wattpad.com/cover/210257834-64-k948484.jpg)