Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
**
"Ini hari terakhir ya?" Naya bertanya.
"Jangan bilang yang terakhir." Logan menyergah, terdengar tak suka.
"Kenapa?"
"Gue jadi sedih," jawabnya dengan sorot mata sendu.
Sorot mata yang berhasil membuat Naya jatuh cinta berkali-kali.
"Hgh, terus gue harus bilang apa kalau bukan hari terakhir?"
"Hmm."
Logan terdiam cukup lama. Agaknya mencari kata yang tepat untuk diucap, tapi dia tak menemukan apa-apa.
Naya tersenyum tipis. Mengalihkan pandangan dari sorot mata sendu Logan. Itu sudah cukup menjelaskan apa yang sebenarnya mereka sebut hari terakhir.
Naya refleks meraba jari manisnya. Merasakan jejak cincin yang pernah tersemat di sana. Cincin yang cantik, pilihannya sendiri. Logan yang memasangkannya dan mencium jari Naya setelahnya.
Itu adalah salah satu hari paling bahagia yang Naya alami.
Namun sayang, kini sudah berakhir.
Toh, Naya memang sudah kalah sejak awal. Memangnya bagaimana bisa dia menang dari sosok cinta pertama Logan?
"Lo suka makanannya?" tanya Logan yang sejak tadi fokus melihat Naya, tanpa memedulikan makanan di hadapannya.
Naya mengangguk. Mulutnya masih mengunyah potongan steak.
"Enak, dagingnya juicy." Naya berkomentar.
Setelah memastikan Naya menyukai makanannya, Logan pun mulai makan.
"Jadi, lo bakal pindah ke Aussie?"
"Iya, eyang mau gue lanjutin cabang perusahaan di sana."
"Kapan?"
"Hm?"
"Kapan lo pergi?"
Sebenarnya Logan mendengar dengan jelas, tapi dia sedikit tak menyangka sosok Naya yang acuh tak acuh itu, penasaran dengan dirinya.
"Tiga hari lagi. Kenapa?"
"Enggak, cuman nanya aja. Dia juga ikut?"
Logan mengernyitkan kening. Kedua alisnya hampir menyatu. Keheranan terpampang jelas di wajahnya.
Sangat amat jarang terjadi, sosok Naya yang banyak tanya dan penasaran seperti ini.
"Sorry sorry, gue banyak nanya ya. Gak usah dijawab."
Logan menggeleng. Tentu saja dia tidak keberatan. Dia hanya heran dengan sikap mantan tunangannya yang berbeda, tidak seperti yang dia kenal.
"Gak papa. Dia ikut, eyang yang minta."
Sebagai respon, Naya mengangguk pelan. Kemudian, hening. Tak ada obrolan hingga makanan di piring habis tak bersisa.
"Thanks makanannya."
"No problem. Gue yang harusnya berterimakasih sama semuanya."