Buku Catatan

32 4 0
                                        

Inspired by Instagram post @.pledis_boos

pledis_boos

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

**(Prev eps Simbiosis Mutualisme)

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

**
(Prev eps Simbiosis Mutualisme)

**

Usai kelas sorenya, Lia buru-buru ke belakang kampus untuk menemui Wanda. Ada beberapa buku catatan kumpulan soal milik cowok itu yang ingin Lia pinjam.

Area taman belakang tampak lengang saat Lia tiba. Wanda sedang bersandar di pagar pembatas tanaman. Cowok itu mendongak menatap langit.

Sontak Lia menghentikan langkah. Sejenak dia terdiam menatap keindahan di hadapannya. Wanda tampak luar biasa tampan.

Setelah bisa menenangkan hatinya yang bergemuruh, Lia kembali melangkah. Saat itulah Wanda menoleh, tersenyum tipis.

Lantas Lia menunduk, menyembunyikan rona merah di wajahnya. "Sialan! Ganteng banget," umpatnya dalam hati.

"Lama banget sih," gerutu Wanda setibanya Lia di hadapan cowok itu.

Lia cemberut. "Iya maaf, dosen gue ngoceh terus ga berenti-berenti."

"Ck, nih." Wanda menyerahkan setumpuk buku.

Kedua mata Lia berbinar senang. "Wah! Makasih banyak Wanda."

"Bilang makasih banyak Wanda yang ganteng maksimal plus pinter," kata cowok itu dengan ekspresi tengil yang menyebalkan.

"Ck, gak mau!" Lia menggeleng kuat-kuat.

"Yaudah, balikin buku gue!" ancamnya dan berancang-ancang merebut buku dalam pelukan Lia.

Lia buru-buru membalikkan tubuhnya, menjauhkan buku itu dari jangkauan Wanda. Dia menggerutu.

"Ck, dasar haus pujian! Iya iya! Makasih banyak Wanda yang ganteng maksimal plus pinter gak ada lawan," ucapnya setengah hati.

Wanda tergelak puas. Cowok itu menepuk puncak kepala Lia dengan senyum bangga.

"Nah gitu dong!"

"Seneng lu!" Lia mencibir, sembari menepis tangan Wanda dari kepalanya dengan ekspresi jijik.

Wanda hanya tergelak, sama sekali tak tersinggung. Lalu, dia mulai mengoceh seperti biasa. "Hari ini Kak Juni ngisi kuliah umum. Udah cantik, jago public speaking, terus pinter lagi."

"Iya dong, kakak gue gitu loh!" sahut Lia bangga.

Wanda mengulum bibir. Menatap Lia lamat menunggu kalimat selanjutnya dari cewek itu.

Namun, Lia tetap diam. Balas menatap Wanda. Sejenak keduanya saling tatap.

Lia yang lebih dulu mengalihkan pandangan. Menatap outfit yang Wanda kenakan dari atas ke bawah. "Jadi lo sengaja dandan gini biar di notice kak Juni? Paling dia cuman senyum terus buru-buru pergi."

"..." Wanda menghela napas pelan, matanya memicing tak suka.

"Dari ekspresi lo kayaknya omongan gue bener deh," kekehnya.

Wanda berdecak. "Diem! Yang penting gue udah usaha."

"Usaha sih usaha, tapi kalo gak dilirik sih percuma."

"Mulut lo tuh bener-bener ya!"

"Apa? Kenyataannya gitu kan, yaudah bye, minggu depan gue balikin bukunya. Sekali lagi makasih."

Gadis itu segera berbalik, melambaikan tangan acuh tak acuh. Namun, Wanda langsung menahannya.

"Ets, tunggu dulu. Lo udah makan?"

"Ngapain nanya-nanya gue udah makan?"

"Jawab aja napa sih!" balas Wanda gemas.

"Belom. Kenapa?"

"Ayo makan sama gue, gue traktir!"

"Tumben baik, oh gue tau nih, lo pasti mau minta sesuatu kan?"

"Gak ada. Gue cuman pengen makan bareng lo, gue tau lo dari tadi siang belom makan."

"Dih, kok tau? Lo merhatiin gue ya?"

"Udah diem, gue laper, cepetan!"

Tanpa aba-aba, Wanda menggenggam tangan Lia dan setengah menyeret gadis itu untuk mengikuti langkahnya.

(Next eps Ajakan Nonton Terselubung)

CampfireCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang