Simbiosis Mutualisme

49 4 0
                                        

Inspired by Instagram post @.pledis.boos

boos

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

**

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

**

Lia melambaikan tangan ke arah Wanda yang tampak kebingungan di depan pintu kafe. Saat cowok itu mendapati kehadirannya, Lia dibuat menahan napas.

Wanda tampan sekali. Cowok itu mengenakan kemeja stripe lengan panjang paduan warna cream dan coklat yang sangat cocok dikenakan cowok itu. Ketampanan Wanda naik berkali-kali lipat. Membuat Lia lagi-lagi jatuh cinta.

Namun, bukannya memuji secara gamblang, Lia malah memasang ekspresi heran sambil bertanya. "Bukannya kita mau belajar ya?"

"Ember, lo pikir kita mau ngapain?"

"Kenapa baju lo niat banget, kayak mau ngedate." Gadis itu melarikan tatap ketika Wanda balas menatap matanya. Lia takut Wanda memergoki rona merah di pipinya.

"Ck, suka-suka gue lah! Lo ribet banget peduliin baju gue."

"Ck."

Wanda tak berkomentar lagi. Cowok itu mengeluarkan buku dari dalam tasnya. Begitu pula Lia. Karena tujuan mereka bertemu adalah untuk belajar bersama.

"Mana soal yang gak lo bisa?"

"Yang ini." Lia menunjuk soal nomor tujuh dengan ujung pensilnya.

Senyum cerah terbit di wajah Wanda. "Ini mah gampang, jadi caranya tuh ...." Dengan penuh pengertian, cowok itu menjelaskan cara menyelesaikan soal tersebut dengan rumus yang super gampang.

Lia dibuat takjub, tak menyangka di balik mulutnya yang julid, otak Wanda lebih pintar darinya. Nilai plusnya adalah cowok itu tanpa pamrih mengajari Lia sampai gadis itu bisa. Atau tidak?

"Udah bisa kan?"

"Udah, thanks ya Wanda."

"Ets, lo kira gue capek-capek ngajarin lo cuman dapet thanks doang?"

"Terus lo mau apa?"

Wanda tersenyum manis. Senyum yang membuat hati Lia gemetar. Juga senyum yang membuat Lia tertampar kenyataan.

"Kasih gue nomor WA nya Kak Juni, kakak lo."

"Oh, gak ikhlas banget ngajarin gue." Lia menggerutu.

"Bukannya gak ikhlas, ini tuh namanya simbiosis mutualisme. Masa lo gak tau? Simbiosis mutualisme itu ...."

"Stop! Cerewet banget, sini mana hp lo, gue ketikin nomor Kak Juni."

Wanda langsung sumringah. Dia memberikan ponselnya ke Lia dan membiarkan gadis itu mengetik sederet nomor yang diinginkannya.

"Nih, udah."

Wanda nyengir kesenangan. Dia menundukkan kepalanya penuh hormat dan mengambil kembali ponselnya dengan kedua tangan menandakan kesopanan. "Terima kasih, seneng banget gue sama hubungan simbiosis mutalisme kita ini. Lain kali kalau ada soal yang gak lo ngerti, chat gue aja kapanpun."

Lia berdecih. "Males ah, nanti lo minta imbalan lagi."

Wanda tersenyum kalem. "Asal lo tau Khalia Ayunda, gak ada yang gratis di dunia ini."

(Next eps Buku Catatan)

CampfireCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang