Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
**
(Prev eps Pendekatan Sama Player)
**
K
ala baru tahu kalau menyukai seseorang bisa berdampak besar bagi hidupnya. Contohnya saja, mood Kala jadi amat baik seharian, dia bisa tersenyum kapan saja dan jadi lebih suka bercermin.
"La, ini udah yang keseratus kali lo ngaca loh," sahut Jeha di dalam kereta.
Keduanya sudah menyelesaikan kelas hari ini. Memutuskan pulang bersama.
"Gak sampai seratus kali juga ah!" Kala membantah.
"Ck, emang ya orang kalo jatuh cinta tuh jadi gak waras!"
"Emangnya gue gila?"
"Bukan gila secara harfiah, tapi lo jadi beda, hal-hal yang biasanya gak lo lakuin malah lo lakuin, contohnya ngaca tiap saat." Jeha menjelaskan dengan sabar.
Kala mangut-mangut, lalu terkekeh.
Kira-kira sudah tiga hari berlalu sejak Kala nonton Sean dan bandnya manggung. Itu artinya sudah tiga hari juga Kala tidak bertemu Sean.
Di kampus pun Kala tak pernah bertemu dengan Sean. Agaknya karena fakultas mereka yang berbeda dan jadwal kuliah yang tak sama.
Namun, keduanya tetap intens mengirim chat dan sesekali bertelepon.
Kemarin, Sean cerita kalau nanti malam dia akan manggung lagi di kafe dekat asrama Kala.
Sean tak berharap Kala datang, mengingat banyaknya tugas kuliah gadis itu. Tapi, kalau memang ada waktu luang Kala bebas datang menemuinya.
Kemarin, Kala tak memberikan jawaban pasti. Selain memang karena banyaknya tugas yang harus dia kerjakan, Kala merasa dia ingin membuktikan perkataan Sean tempo hari.
Cowok itu pernah bilang kalau dia senang ketika manggung, Kala menontonnya.
Jadi, Kala berencana akan datang diam-diam dan mengejutkan cowok itu saat sedang manggung.
Apakah Sean akan senang dengan kehadirannya atau biasa-biasa saja.
Kala sih berharap cowok itu akan senang dan menggenggam tangannya erat seolah tak mau berpisah.
Di chat, Sean bilang dia akan mulai manggung jam delapan malam. Dari jam tujuh, Kala sudah bersiap.
Gadis itu sudah lima kali mengganti baju. Membuat kasurnya berantakan dengan baju yang berserakan.
Untungnya malam ini Jeha pulang kampung, jadi tidak ada yang mengomelinya karena sudah membuat kamar berantakan.
Di percobaan ke enam, akhirnya Kala menemukan baju yang cocok. Kali ini dia memadukan vest hitam dengan kemeja strip warna putih dan celana jeans abu-abu gelap.
Gadis itu mulai memoles makeup, tipis saja seperti tiga hari yang lalu. Tapi, kali ini Kala membuat rambutnya lebih bervolume.
Semua persiapannya selesai tepat lima menit sebelum jam delapan. Gadis itu mulai bergegas, menyemprot parfume dan memasang sepatu.
Usai mengunci pintu kamar, Kala langsung pergi ke kafe yang dimaksud.
Jaraknya hanya lima menit berjalan kaki. Area asrama Kala dekat dengan pusat kota. Selain deretan kafe dan minimarket, juga ada beberapa hotel bintang tiga dan pusat perbelanjaan. Band Sean baru mulai bertepatan dengan Kala yang masuk ke kafe. Gadis itu mengedarkan pandangan mencari tempat duduk yang tak terlalu terlihat dari panggung. Sebab dia mau memberi suprise ke Sean.
Setelah memesan, gadis itu memilih duduk di meja paling sudut di samping jendela. Dari posisinya, Kala bisa melihat Sean cukup jelas.
Malam ini Sean mengenakan kacamata tanpa lensa. Penampilannya jadi lebih menggemaskan karena bingkai kacamata itu membuat wajahnya jadi lebih soft.
Selang beberapa menit, meja-meja di area depan panggung penuh. Kala mengamatinya satu per satu. Saat itulah dia melihat ada seorang perempuan yang duduk bersama teman Sean yang tiga hari lalu dimintai tolong Sean untuk menjaga Kala.
Seketika perasaan Kala jadi tak enak. Entah kenapa semua peringatan dari Jeha dan nasihat gadis itu terasa benar sekarang.
Kala gelisah. Duduknya jadi tak nyaman. Ada sensasi dingin tak nyaman yang menjalar di punggungnya.
Gadis itu berusaha menenangkan diri dan mengenyahkan segala pikiran buruk dengan mengatur napasnya.
Tiga lagu yang dibawakan band Sean sama sekali tak bisa Kala nikmati. Pandangannya tak lepas dari perempuan itu dan Sean.
Tepat setelah penampilan band selesai, Sean turun panggung. Dia langsung menghampiri perempuan itu lalu membawanya keluar kafe.
Pandangan Kala tak lepas dari mereka berdua.
Di depan pintu kafe, Sean tampak menoleh ke kanan dan kiri. Keduanya mengobrol dan si perempuan menunjuk ke kiri. Mungkin menunjuk suatu tempat yang mau mereka tuju setelahnya.
Sean mengangguk, lalu merangkul perempuan itu di pinggang seperti yang cowok itu pernah lakukan pada Kala. Kemudian melangkah bersisian di trotoar samping kafe.
Posisi duduk Kala yang di samping jendela membuat gadis itu bisa melihatnya dengan jelas.
Terlebih lagi ketika Sean lewat, sepersekian detik cowok itu menatap ke arahnya. Tapi, kemudian bersikap acuh seolah tak terjadi apa-apa.
Kala dibuat speechless. Tak menyangka dengan apa yang baru saja terjadi.
"Lo tau kan Sean itu player ...."
Penggalan nasihat dari Jeha terngiang di dalam kepalanya. Membuat Kala merasa pening dan panas.
Namun, yang paling buruk adalah retakan di hatinya yang amat menusuk.