Kayana Adhigana.
Rajata Arya Danadipa, berani sumpah demi apapun kalau pria itu sungguh sangat membenci pemilik nama itu. Perempuan yang tidak pernah ia kenal sebelumnya, tau-tau masuk ke dalam kehidupannya dan secara ajaib menjadi istrinya sekaligu...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Kamu pasti sudah dapat penyebabnya kan, Nu?" tanya Raja dengan nada suara bergetar.
Rasa-rasanya, dia tidak sanggup jika harus menyampaikan berita buruk ini pada sang istri yang perasaannya baru saja membaik setelah kejadian kemarin. Raja takut kalau Kayana akan menyalahkan dirinya sendiri.
"Sudah, Pak." Wisnu terdengar menarik napas dalam sejenak.
"Sekitar jam dua dini hari, satpam yang jaga semalam dipukuli hingga pingsan oleh beberapa orang yang turun dari sebuah mobil, Pak. Lalu setelah dipukuli, dia dikunci di dalam pabrik."
"Karena letak pabrik yang lumayan jauh dari pemukiman, kebakaran baru diketahui oleh warga sekitar setelah api benar-benar membesar. Kita beruntung karena satpam yang pingsan itu berteriak-teriak dan sempat diselamatkan oleh warga yang menghubungi petugas damkar, Pak."
"Ya Tuhan..." Raja memijat pelipisnya yang berdenyut-denyut nyeri. Sudah tidak diragukan lagi bahwa kebakaran ini adalah ulah dari Alatas yang ingin membalas dendam pada Kayana.
"Lalu bagaimana keadaan satpam itu sekarang, Nu?" tanya Raja lagi.
"Sudah dilarikan ke rumah sakit, Pak. Keadaannya cukup memprihatinkan karena dia terlalu banyak menghirup asap. Apa Bapak perlu saya jemput sekarang?"
"Tidak perlu, Nu. Lalu bagaimana dengan Ayah, apa beliau tahu masalah ini?"
"Maaf, Pak. Untuk masalah Pak Pramana saya kurang tahu."
Raja mengangguk-anggukan kepalanya, lalu menarik napas panjang sebelum berkata. "Selain kamu, siapa saja yang mengetahui masalah satpam dipukuli itu?"
"Saya tidak bisa memastikan siapa saja yang mengetahui perkara satpam yang dipukuli hingga pingsan itu, Pak. Tapi menurut kepala pabrik, dia sudah meminta tolong pada warga sekitar untuk tidak menyebarkan berita bohong. Apa bapak mengkhawatirkan sesuatu?"
"Iya, Nu." Raja menghela napas pendek. "Saya tidak mau Kayana dengar soal satpam yang dipukuli atau orang-orang yang sengaja membakar pabriknya. Bisa tolong sembunyikan masalah ini dari istri saya, Nu?"
"Tentu, Pak."
"Bereskan apa yang bisa kamu bereskan, Nu. Saya segera jalan ke sana."
"Baik, Pak."
"Terima kasih, Nu."
"Sudah menjadi tugas saya, Pak Raja."
Selepas meletakkan gagang telepon tersebut pada tempatnya, Raja sempat berpikir untuk merahasiakan masalah kebakaran pabrik dari Kayana. Namun setelah berpikir ulang, sepertinya tidak baik menyembunyikan masalah sebesar ini dari sang istri. Apalagi, pabrik tersebut adalah milik Kayana.
Sembari memikirkan alasan yang paling masuk akal yang bisa ia sampaikan pada Kayana, Raja melangkah lamban menuju ruang makan. Namun di dalam langkahnya, Raja justru memikirkan Alatas yang bisa bertindak sangat rendah seperti ini untuk menghukum Kayana. Kalau pria itu memang punya nyali dan kekuasaan, kenapa Alatas tidak menyentuhnya saja?