bab tiga puluh

379 11 0
                                        

Alvendra duduk termenung di dalam kamar nya sambil terus menyesali apa yang sudah dia perbuat,namun sekarang menyesal pun tidak ada gunanya,apalagi disaat dia melihat ekspresi ayah nya tadi membuat nya semakin dirundung rasa menyesal,biasanya alan tak pernah semarah itu padanya.

Yang bisa ia lakukan sekarang adalah ia harus tetap menikahi Luna dan itu adalah keputusan haris semalam,pria itu menegaskan padanya untuk cepat cepat menikahi putrinya agar aib tersebut cepat tertutupi tak peduli jika Al sudah memiliki istri.

Di satu sisi Al juga teringat perkataan Sahila waktu itu,gadis itu pernah meminta padanya untuk segera menggugat cerai dirinya,namun Al tak mau mengiyakan ucapan tersebut walaupun ia tak punya alasan tetapi sampai kapan pun Al tak akan mau menceraikan gadis itu.

Al mengusap wajah nya kasar tak tau harus melakukan apa sekarang, kepalanya terasa pening karena terlalu banyak memikirkan masalah.

Cowok itu bangkit berdiri,menenteng tas di bahu lalu keluar dari dalam kamar,dia berjalan melewati ruang tamu yang untung nya tidak ada siapa siapa disana,pasti ayah dan ibu nya sedang sarapan sekarang dan itu kesempatan Al untuk bisa pergi sekolah tanpa sarapan seperti biasanya.

Hari ini Al memutuskan untuk tidak membawa kendaraan ke sekolah karena mengingat perkataan ayah nya semalam,bahwa ia tak di perbolehkan membawa motor atau pun mobil kesekolah nya,entah ini sebuah hukuman atau apa yang jelas Al tak peduli.

Cowok bertubuh tinggi itu berjalan disisi trotoar,pandangan cowok itu tiba tiba tertuju pada seorang gadis yang tengah berdiri dengan jarak yang terpantau cukup jauh dari keberadaan nya,Al melihat gadis itu sedang melambaikan tangan nya pada kendaraan yang lewat.

"Ngapain Lo?"tanya Al ketika sampai di hadapan gadis itu.

"Mau naik angkot kak,soalnya dari tadi aku liat angkot nya penuh terus"jawab gadis itu dengan mata yang terus memperhatikan kendaraan di depan,berharap ada angkot yang bisa ia tumpangi.

Tetapi tunggu,Sahila merasa ada yang aneh,ia pun kembali memandangi Al."kenapa kak Al jalan kaki,motor nya mana?"

"Kepo banget Lo,mau gue naik motor atau jalan kaki ya suka suka gue"ucap Al sewot,cowok itu pun berlalu dari sana.

"Kak"panggil Sahila sambil berlari berusaha menyamakan langkah nya dengan laki laki itu.

"Kak,kita tunggu angkot nya dulu"ucap gadis itu sambil terus berlari di belakang Al.

"Ogah gue,mending Lo sana"jawab cowok itu masih terus melangkah lebih jauh lagi.

"Tapi kak,sekolah kita jauh kalo jalan kaki kita bisa terlambat"

"Bomat"

Pantang menyerah Sahila terus berlari walaupun ia sudah kelelahan tetapi akhirnya ia bisa menyamakan langkah nya dengan Al meskipun nafasnya hampir habis.

"K-kak t-tung-gu d-dulu"ucap nya sambil terengah engah.

"Apa"

"Berhenti bentar kak aku capek"Sahila berhenti melangkah karena sudah tak kuat untuk berjalan.

"Suruh siapa lari?"tanya Al, ikut menghentikan langkah.

Gadis itu menarik nafas dalam lalu mengeluarkan nya perlahan,setelah berhasil menormalkan pernafasan nya baru lah dia kembali berbicara."kak Al yakin mau terus jalan kaki? Sekolah kita masih jauh loh"

AlvendraTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang