Jumat kliwon, Agustus 1999. Pukul dua pagi.
Di langit, bulan menggantung seperti lampu kamar kos yang setengah mati. Di ruang bersalin Puskesmas Pembina Bangsa (yang sudah lama tidak membina siapa pun), Nurjanah menggenggam pinggiran ranjang sekuat tenaga. Keringatnya mengalir seperti iklan minuman isotonik yang tidak disponsori siapa pun. Bidan Jubaedah berdiri di ujung ranjang dengan ekspresi gabungan antara profesionalisme dan kantuk yang suci.
“Tarik napas, Bu Nur… heeup… tahan… dorooong…”
“ARGGHH! Aku nggak mau hamil lagi, Mas! Aku kapok! Kalau mau anak lagi, silakan kamu yang hamil!” teriak Nurjanah, memeras udara sekaligus harga diri.
Di luar, Purwanto menempelkan telinga ke daun pintu seperti agen rahasia yang terbentuk dari kebiasaan salah tempat. Mukanya pucat. Tangannya gemetar memegang termos berisi air panas yang tidak pernah diminta siapa pun.
“Iya, Nur! Nanti gantian aku yang hamil! Tapi sekarang kamu keluarin dulu bayinya!” jawab Purwanto, spontan, tulus, dan tidak logis.
Tiga detik hening. Hanya jam dinding yang berbunyi tek… tek… tek…—ritme yang pas untuk membuat orang menyesali keputusan hidupnya.
Di dalam, Nurjanah menoleh ke pintu dengan pandangan tajam yang bisa memotong tali pusat pakai niat. Keinginannya untuk bangkit dan menjambak rambut suaminya hampir sebesar keinginannya untuk melahirkan manusia dari tubuhnya. Untung dorongan berikutnya datang seperti gelombang pasang yang sopan.
“Dorong lagi, Bu. Dikit lagi… kepala sudah nongol…”
“Kalau kepalanya udah nongol, suruh sekalian salam ke aku!” gerutu Nurjanah, lalu—
“AAAAAAAAAA—”
Tangisan bayi pecah, tinggi, bening, agak dramatik.
Bidan Jubaedah mengangkat paket mungil itu, memeriksa, lalu mengangguk ke perawat Magang Siti, yang selama ini berdiri memeluk clipboard seperti memeluk rahasia negara.
“Alhamdulillah, perempuan,” kata Bu Bidan.
Perawat Siti menambahkan data ke formulir: Jenis kelamin: P. Catatan: lahir Jumat Kliwon, pukul 02.07. Catatan tambahan: aura agak terang, mungkin efek lampu neon.
Di koridor, Purwanto melompat seperti ikan lele yang salah tempat. “Bu Bidan! Halo! Nur! Kamu sudah lahir?!”
Pintu terbuka. Perawat Siti muncul, tersenyum resmi, seperti pegawai bank yang akan menolak pinjaman. “Tenang, Pak Purwanto. Ibu sudah melahirkan. Bayinya perempuan.”
Purwanto ingin tertawa, ingin menangis, ingin pingsan, ingin mengucapkan syair, ingin makan sate. Ia memilih masuk.
Di dalam, wajah Nurjanah pucat dan capek, tapi matanya jernih. Purwanto bersimpuh di samping ranjang, merangkul istrinya dengan hati berkecamuk.
“Nur, kamu nggak apa-apa? Maaf kalau sakit. Aku nggak tau kalau melahirkan sesakit ini. Anak kita pasti jagoan,” katanya, membubuhkan kecupan di pipi Nurjanah sampai pipi itu dipenuhi tanda cinta seperti perangko.
“Mas… aku nggak apa-apa,” jawab Nurjanah lirih, suaranya rapuh tapi matanya masih menyala seperti lilin terakhir di kue ulang tahun yang diniatkan.
Purwanto menoleh ke kain bedong kecil di troli. “Ini anak kita?”
Nurjanah mengangguk, menatap makhluk mungil itu—makhluk yang baru lima menit hidup tapi sudah bersuara lebih lantang daripada Ketua RT saat lomba siskamling.
Dengan gerakan yang kikuk dan khidmat, Purwanto mengangkat bayi itu. Bayi tertidur lagi dalam genggaman—memilih tidur saja, keputusan cerdas untuk semua bayi.
“Mau dikasih nama apa?” tanya Purwanto, menatap masa depan yang mengecil dalam bedong.
“Terserah kamu, Mas,” kata Nurjanah. Ia sudah terlalu lelah untuk berdebat, dan percaya pada nasib, yang terkenal suka plot twist.
KAMU SEDANG MEMBACA
IYEMRELA
Mystery / Thriller- dongeng modern tentang cinta, kelas sosial, dan karma yang tak pernah tamat - Iyem hanyalah gadis kampung biasa, sampai Madam Juliet-wanita berkuasa dengan gaya bicara seperti kontrak kredit macet-menjodohkannya dengan pewaris PT DEWO. Demi kelan...
