29- Warisan Kutukan & Sedikit Kebodohan Genetik

35 1 2
                                        

Evi membuka mata dengan napas memburu, menatap dua wajah asing—eh, bukan, satu sepupu panik dan satu pria tampan yang seolah baru keluar dari lukisan Barok.

Refleks, ia duduk tegak seolah bangkit dari peti mumi yang salah rute pengiriman.

"Kita di mana? Berapa lama gua pingsan?"

Alice memekik. "Evi! Lo tuh bikin jantung gue mau copot!" Sambil gemas, dia menepuk lengan Evi dengan tenaga cinta—yang kebetulan rasanya seperti tamparan ringan dari Tuhan.

"Aduh, sakit!" seru Evi sambil melotot. "Berapa lama gua pingsan?"

"Dua puluh menit," jawab Alice, setengah kesal, setengah kagum. "Tapi, kayaknya cukup lama buat lo pergi liburan ke masa lampau."

Evi diam sejenak, matanya kosong—versi manusia yang sedang buffering. Lalu perlahan dia menoleh ke Jonathan. "Jonathan, aku liat Isabella mati. Siapa dia sebenarnya? Apa hubungannya sama Julia dan siapa itu Elisa?! Aku harus tahu semuanya. Aku nggak bisa nunggu, waktuku nggak banyak."

Jonathan menatapnya lama. Napasnya pelan, tapi matanya tajam seperti orang yang menyimpan kunci dunia—dan trauma keluarga.
"Sebaiknya kita keluar dari ambulans ini dulu dan kembali ke hotel," katanya tenang, tapi jelas sedang menyembunyikan badai.

Mereka pun turun dari ambulans. Supirnya cuma melongo — mungkin berpikir, pasiennya baru saja sembuh dari koma spiritual dan langsung pesan kamar.

Malam itu, di kamar hotel dengan lampu kuning lembut dan wallpaper bunga-bunga yang tampak terlalu polos untuk menampung misteri abad ke-16, Jonathan duduk di kursi, menatap Evi dan Alice yang bersiap dengan catatan dan ekspresi seperti dua jurnalis gosip.

"Jadi," kata Evi, "ayo mulai. Ceritakan semuanya, dari akar, batang, sampai daun kebusukannya."

Jonathan menghela napas panjang.
"Baiklah. Tapi setelah ini, kalian mungkin nggak akan bisa tidur tenang. Karena Madam Anne, Isabella, dan Julia... mereka bukan cuma legenda."

Evi mencondongkan badan. Alice menatap seolah menonton serial favorit yang akhirnya buka rahasia season finale-nya.

Jonathan menatap mereka berdua, lalu berkata pelan, hampir berbisik:
"Mereka semua... keluarga."

Dan seperti biasa, Evi hanya bisa menatapnya dengan wajah setengah kaget, setengah ingin minta refund takdir.

Jonathan menatap kosong ke lantai, lalu mulai bercerita — nada suaranya datar tapi matanya penuh sejarah. Seolah di balik pupilnya ada museum kecil berisi dosa keluarga bangsawan.

"Julia dan Elisa adalah anak kembar dari seorang raja Perancis dan selirnya, Charlotte," ujarnya pelan. "Tapi tak ada yang tahu, Charlotte bukan manusia sepenuhnya. Ia adalah jelmaan penyihir tua dari abad ketujuh belas—jenis makhluk yang tidak menua, hanya berganti nama dan paspor."

Evi dan Alice saling pandang. Alice sudah setengah menyesal kenapa dia ikut mendengarkan cerita ini malam-malam begini.

Jonathan melanjutkan, "Charlotte bisa hidup berabad-abad karena satu hal sederhana: ia makan jiwa manusia yang putus asa. Dan, jujur saja, di dunia ini, menu seperti itu tak pernah habis."

Nada suaranya ringan, tapi kamar hotel mendadak dingin. Bahkan AC-nya pun mendadak ikut menyesuaikan suasana.

"Charlotte punya dua anak: Elisa dan Julia. Elisa mewarisi hampir seluruh darah sihir ibunya—gelap, ambisius, dan, yah, tidak cocok kalau diajak piknik keluarga. Sedangkan Julia... terlalu lembut. Terlalu manusia. Charlotte membencinya karena kelembutan berarti kelemahan."

Jonathan menatap jauh. "Charlotte ingin menelan jiwa Julia agar Elisa menjadi penyihir utuh. Tapi Julia tahu rencana itu. Saat mereka membawanya ke hutan, dia membiarkan semuanya terjadi — hanya untuk membuktikan sejauh mana ibunya tega."

Alice meneguk Guinness-nya keras-keras.
"Gue udah tahu ini bakal kayak dongeng versi gagal sensor."

Jonathan tersenyum tipis. "Begitu Charlotte dan Elisa menyerang, Julia berubah. Wajahnya ditumbuhi bulu hitam, matanya menyala merah, tubuhnya membesar. Ia menjadi makhluk yang bahkan iblis pun mungkin malas tantang."

"Serigala?" sela Evi.

"Lebih buruk. Sesuatu antara kemarahan dan penyesalan yang punya kuku."

Alice mendesis. "Kayak mantan lo, Vi."

Evi menatapnya datar. "Lanjut, Jon."

Jonathan mengangguk. "Julia membunuh Charlotte dan Elisa. Tapi sebelum hancur, Charlotte hanya tersenyum dan bilang: 'Aku akan tetap hidup lewat darahmu.' Elisa pun mengucap sumpah serupa sebelum mati. Dan begitulah... kutukan keluarga dimulai."

Suasana kamar jadi sunyi. Hanya suara detak jam dinding yang entah kenapa terdengar seperti hitungan mundur menuju malapetaka.

Jonathan menarik napas panjang. "Julia hidup sendirian di hutan sampai tua. Ia mati dengan tenang, tubuhnya ditemukan oleh seorang bangsawan bernama Eddy. Lelaki itu menulis kisah tentangnya, The Princess White Heart and the Witch. Dari situlah semua legenda bermula."

Evi dan Alice sama-sama diam. Mulut Alice sedikit terbuka — seperti baru sadar kalau kisah ini tidak pantas didengar sambil ngemil keripik.

"Apa hubungan mereka dengan Madam Anne dan Isabella?" tanya Evi akhirnya.

Jonathan menatapnya lurus. "Madam Anne adalah jelmaan Charlotte. Dan Isabella... kau pasti tahu jawabannya."

Evi terdiam. Perlahan, kepingan puzzle di kepalanya mulai membentuk wajah seseorang.
"Iyem."

Jonathan mengangguk. "Dan Thomas mencintainya, bahkan setelah tahu siapa dia sebenarnya. Dia tidak pernah menikah. Mungkin cinta seperti itu hanya lahir sekali setiap kutukan."

Hening sejenak. Lalu Evi berkata lirih, "Kenapa kita berdua bisa melihat masa lalu mereka?"

Jonathan tersenyum pahit. "Karena mungkin, Sayang, kita berdua masih membawa darah mereka di tubuh ini. Sedikit saja, tapi cukup untuk membuat mimpi jadi portal."

Alice menatap keduanya bergantian. "Ya ampun, jadi kita ini apa? Reunion keturunan nenek sihir gagal?"

Tak ada yang menjawab.

Evi mengambil ponselnya, lalu membuka galeri. "Jonathan, aku mau nunjukkin sesuatu." Ia menyerahkan ponselnya padanya.

Jonathan menatap layar, lalu mengernyit. "Wanita ini... kenapa wajahnya seperti—"
Ia terdiam. Napasnya memburu.
"Dia... dia mirip sekali dengan Isabella."

"Dia bosku," kata Evi. "Namanya Iyem."

Jonathan menatapnya lama. "Apa itu alasanmu datang ke sini?"

Evi menggeleng. "Bukan. Karena ini." Ia membuka foto lain — gambar cincin tua berukir lambang bulan sabit.
"Cincin ini tiba-tiba muncul di tangannya waktu dia pingsan di hari ulang tahunnya. Aku khawatir. Karena cincin ini ada di lukisan Isabella."

Jonathan menatap gambar itu lama, seperti menatap sejarah yang kembali bernafas.
"Setahuku, Lorenzo dan Isabella tak pernah bertunangan. Jadi bagaimana cincin itu bisa sampai ke Iyem?"

Keduanya diam. Hanya lampu kamar yang bergetar halus — entah karena angin, atau karena kisah ini terlalu berat untuk dinding hotel tua itu.

"Jonathan," kata Evi pelan.
"Ya?"

"Kau mau ikut aku ke Paris?"

Jonathan menatapnya tajam. Ada ragu, ada magnet. "Untuk apa?"

Evi tersenyum samar. "Untuk memastikan legenda tidak bangkit lagi di negara orang."

Alice yang sejak tadi diam, langsung menenggak sisa birnya. "Kalau gitu gue ikut. Gue nggak mau ninggalin lo berdua jadi bahan berita kriminal internasional."

Jonathan menatap dua perempuan itu — satu waras dengan cara aneh, satu aneh dengan cara waras — dan akhirnya mengangguk pelan.

"Baiklah," katanya. "Ke Paris."

* * *


IYEMRELACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang