25- Awal Penglihatan dan Rumah Tua

36 2 1
                                        

Angin musim semi berhembus lembut, menggoyangkan rambutnya. Ia menatap tiang itu lama, berharap ada sensasi apa pun—getaran, bisikan, atau minimal Wi-Fi spiritual.
Tapi nihil. Hanya dingin, dan sedikit bau lumut.

“Aneh,” gumamnya pelan.

Alice menoleh sambil sibuk memotret tiang itu untuk Instagram Story.
“Apanya yang aneh?”

Evi menggeleng. “Biasanya aku ngerasa sesuatu. Sekarang kayak mati rasa.”
“Yah, mungkin arwahnya udah pindah tempat. Udah bosen jadi objek wisata,” sahut Alice ringan.

Evi pura-pura tak dengar. Ia berjalan mengitari pekarangan kecil di belakang tiang. Di sana berdiri rumah batu kecil dengan jendela berdebu dan pintu kayu yang tampak lelah menahan sejarah.

Langkahnya melambat. Ada sesuatu di udara—bukan aroma mistis, tapi semacam getaran samar yang membuat kulitnya menegang.

“Rumah siapa ini?” tanyanya tanpa menoleh.

Alice mengangkat bahu. “Nggak tahu. Tapi kalau kita ketahuan masuk, aku pura-pura nggak kenal kamu.”

Evi mendekat. Tangannya terulur ke tembok rumah itu. Permukaannya dingin, lembap, tapi ada sesuatu yang aneh—semacam denyut, seperti napas.

Dan saat jarinya menyentuh batu pertama, klik—pintu rumah terbuka perlahan, menimbulkan suara berderit yang terdengar terlalu dramatis untuk kenyataan.

Angin tiba-tiba berhenti.
Udara menipis.
Dan dari balik pintu, sosok wanita bergaun putih muncul. Wajahnya pucat, matanya kosong tapi indah.

Isabella.

Evi membeku.
Alice di belakang menatap bingung, setengah takut, setengah menilai kostum si hantu.

“Ev… itu orang cosplay, kan?”

Evi tak menjawab.
Sosok Isabella menatapnya lama—dan bibirnya bergerak, mengucapkan sesuatu tanpa suara.

Untuk pertama kalinya sejak tiba di Castle Combe, Evi merasa seluruh tubuhnya tidak sepenuhnya miliknya sendiri. Ada sesuatu yang bangun dalam dirinya.
Sesuatu yang sudah lama menunggu untuk dikenali.

“Halo, Detektif Thomas? Ada yang bisa saya bantu?”

Thomas menatap gadis di hadapannya. Wajahnya lembut, tapi matanya seperti menyimpan ratusan tahun rahasia yang enggan dibuka.
“Isabella,” ucap Thomas pelan. “Ya. Saya butuh bantuanmu.”

Ia tidak tahu harus memulai dari mana. Rumor tentang gadis ini sudah membuatnya kehilangan tidur, makan, dan keyakinan bahwa cinta tidak selalu berujung mayat. Tapi malam ini, di rumah kecil yang berdebu dan beraroma kayu basah, rumor itu tiba-tiba terasa terlalu nyata.

Isabella berjalan perlahan menuju dapur, menyiapkan teh. Thomas menatap punggungnya yang kurus, lalu menoleh ke ruangan. Semua benda di sana tampak seperti sedang menunggu giliran untuk roboh.

“Teh panas, Detektif?”

Thomas mengangguk, tersenyum tipis. “Terima kasih. Saya kira, di dunia seperti ini, teh masih bisa jadi alasan orang bertahan hidup.”

Saat ia bicara, seorang anak kecil tiba-tiba muncul dari balik tembok. Bajunya lusuh, matanya waspada. Thomas menatapnya lembut. “Halo, siapa namamu, Nak?”

Anak itu tak menjawab—malah berlari memeluk Isabella dari belakang.
“Edward, hati-hati, Sayang. Ibu lagi masak air panas,” kata Isabella lembut.

Thomas menegang. Kata “ibu” membuat ruangan mendadak mengecil. Ia menatap gadis itu, menunggu penjelasan yang entah kenapa terasa seperti nasibnya sendiri.

IYEMRELACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang