Sejak usia setahun, kecantikan Iyem sudah diramalkan oleh para dukun kampung. Mereka bilang anak itu kelak akan menjadi ratu kecantikan dunia yang mewakili kampung mereka—meski tak satu pun dari mereka tahu di mana ajang pemilihannya nanti.
Hanya Purwanto yang paham kenapa dukun-dukun itu begitu perhatian. Ia pelanggan tetap. Bukan untuk pesugihan atau politik, tapi urusan yang jauh lebih pelik: jodoh.
Suatu malam Kamis Kliwon, selepas berdoa di makam istrinya, Purwanto kembali datang ke gubuk si Mbah dukun.
"Apakah saya masih ada jodoh lagi, Mbah?" tanyanya dengan nada khidmat sekaligus ngeri pada jawabannya sendiri.
Kliwon, katanya, malam yang disukai roh-roh cantik. Mungkin itu sebabnya anaknya juga cantik: roh-roh itu salah alamat waktu Nurjanah melahirkan.
Si Mbah hanya mengangguk, matanya tertutup, tangannya sibuk memintal asap rokok kretek yang berpola misterius di udara.
"Kamu bakal dapat jodoh lagi," katanya tenang. "Lebih baik dari mendiang istrimu. Tunggu tanggal mainnya."
Kalimat itu menenangkan sekaligus menimbulkan rasa bersalah. Purwanto pulang dengan hati campur aduk antara harapan dan rasa takut membuat cemburu arwah Nurjanah di surga—kalau di surga masih berlaku konsep cemburu.
Beberapa malam berikutnya, kata-kata si Mbah terus terngiang. Tapi bagaimana ia bisa dapat jodoh kalau keluar rumah saja tidak pernah? Pagi sampai malam hanya mengurus toko material dan anak kecil yang kadang lebih cerewet dari pelanggan.
Kadang Purwanto menangis diam-diam di kamar, mengeluh kepada langit yang tak peduli.
"Wahai yang di atas, kenapa hidupku begini nelangsa? Punya uang dan anak cantik, tapi istri tidak punya. Apakah ini bentuk ujian, atau sekadar hiburan buat malaikat?"
Ia begitu khusyuk sampai tak sadar ada yang berdiri di belakangnya.
"Bapak ngomong sama siapa?" tanya Iyem kecil.
"Sama kodok, Yem," jawab Purwanto cepat, menjaga wibawa spiritualnya. "Kamu udah selesai les?"
"Udah, Pak."
Purwanto menatap anaknya—apel yang jatuh jauh dari pohon, tapi entah kenapa lebih mengilap. Ia bangga sekaligus minder. Dulu orang bilang dia jelek, tapi sekarang mereka menyesal karena wajahnya ternyata berguna untuk menonjolkan gen istrinya.
Dua belas tahun ia menduda, dua belas tahun pula ia setia pada kenangan Nurjanah. Tapi kesepian itu keras kepala.
Temannya, Jono, selalu bilang, "Pur, cari istri lagi. Biar Iyem punya teman curhat."
Dan setelah ratusan tawaran dari gadis, janda, hingga calon jompo, akhirnya Purwanto menyerah juga.
Jono mengenalkannya dengan Dahlia—janda beranak dua yang hidupnya lebih rumit daripada sinetron religi bulan puasa.
Pertemuan pertama mereka berlangsung syahdu sekaligus salah arah.
Dahlia dikenal seantero kampung bukan hanya karena ayunya, tapi karena gosip suaminya meninggal tertimpa dua buah kelapa di kebun sendiri. Warga menuduh itu karma dari pesugihan gagal. Dahlia tentu kesal—bukan pada kelapanya, tapi pada gosip yang tak mati-mati.
Ia berniat pindah kampung, tapi dua anaknya menahan. Maka ketika ada tawaran perjodohan dengan duda mapan yang punya dua toko material, sawah, dan masa lalu menyedihkan, Dahlia menimbang dengan hati, kalkulator, dan insting bertahan hidupnya.
Saat bertemu Purwanto, Dahlia sempat kecewa. Wajah lelaki itu tidak sepadan dengan imajinasinya—lebih mirip pekerja toko daripada pemiliknya. Tapi lalu ia mengingat ucapan Jono:
"Duitnya banyak, anak cuma satu."
dan semua keraguan sirna seperti kabut yang menemukan motivasi.
Beberapa pertemuan kemudian, mereka menikah.
Pernikahan Purwanto dan Dahlia jadi topik paling panas di kampung—lebih panas dari gosip kelapa maut.
Ada yang bilang Purwanto menikah karena kesepian, ada yang bilang Dahlia menikah karena uang.
Kenyataannya: dua-duanya benar, dan semesta tersenyum karena akhirnya dua kebutuhan dasar manusia—afeksi dan cicilan—bisa bersatu.
Purwanto jatuh cinta dengan cara yang tak rasional. Bibir merah Dahlia, suaranya yang serak-manja, caranya menyentuh lengan, semua membangunkan sisi purba dalam dirinya. Ia belum pernah merasa sehidup itu bahkan dengan almarhum istrinya.
Dahlia, di sisi lain, mulai menghitung luas kamar dan harga bedcover baru.
Pernikahan mereka berlangsung tujuh hari tujuh malam—lebih lama dari pesta kampung normal, lebih pendek dari penyesalan Purwanto kelak.
Ia tahu pesta itu terlalu meriah; ia tahu rasa bersalah pada arwah istrinya tak hilang hanya karena lampu kelap-kelip dan musik dangdut. Tapi Dahlia menyentuh pipinya dan berkata lembut:
"Kenapa murung, Mas? Menyesal nikahin aku?"
Purwanto menggeleng. "Nggak, sayang."
Dahlia tersenyum, mulai membuka kancing kemeja suaminya satu-satu dengan kesabaran religius.
"Mas," bisiknya, di sela napas.
"Hm?"
"Nanti kamar buat Santel sama Rosi dibesarin, ya."
Purwanto mengangguk, mabuk cinta dan logika.
"Apapun yang kamu minta, sayang."
Dahlia tersenyum puas. Dalam hatinya, masa depan terlihat cerah—dan sedikit berhantu.
Begitulah awalnya.Cinta bersemi di antara batu bata, pesugihan, dan cicilan toko material.Dan di luar rumah, malam Kliwon bergeser pelan, membawa angin yang menciumkan wangi bunga Dahlia ke arah kuburan Nurjanah.Kalau arwah bisa mengernyit, mungkin malam itu surga sedikit berisik.
* * *
KAMU SEDANG MEMBACA
IYEMRELA
Mystery / Thriller- dongeng modern tentang cinta, kelas sosial, dan karma yang tak pernah tamat - Iyem hanyalah gadis kampung biasa, sampai Madam Juliet-wanita berkuasa dengan gaya bicara seperti kontrak kredit macet-menjodohkannya dengan pewaris PT DEWO. Demi kelan...
