Evi terbelalak.
Bukan karena setan muncul dari cermin, tapi karena berita daring baru saja mengumumkan: tanggal resepsi pernikahan Dewa dan Iyem resmi ditetapkan.
Seminggu lagi.
Ia membaca ulang judul beritanya, seolah berharap huruf-huruf itu mau berganti jadi mimpi buruk biasa.
Tidak. Masih sama.
Masih tentang cinta abadi yang disponsori properti mewah dan gaun seharga dua apartemen.
Evi meletakkan ponsel, berdiri, dan berjalan cepat menuju kamar Iyem-dengan langkah seperti detektif yang baru menyadari tersangkanya adalah sahabat sendiri.
"Yem, kamu udah baca berita?" sergahnya sambil membuka pintu tanpa ketuk.
Iyem menoleh dari depan meja rias. Rambutnya jatuh rapi, wajahnya tenang seperti orang yang baru meneken kontrak rahasia dengan semesta.
Ia meletakkan sisirnya, berdiri, lalu menghampiri Evi dengan senyum yang terlalu lembut untuk berita seaneh itu.
"Evi, maaf aku nggak sempat diskusi dulu. Aku sama Dewa udah tetapkan tanggal resepsi. Jangan marah, ya."
Nada suaranya halus, tapi Evi merasa seperti baru ditampar pakai bunga.
"Yem..." ucapnya, separuh napas, separuh gugatan.
"Aku tahu kamu marah," potong Iyem. "Tapi aku mencintai Dewa, dan Dewa mencintai aku. Masa semua harus aku laporin ke kamu?"
Evi menghela napas panjang. Ia ingin menjelaskan bahwa ini bukan tentang cinta, tapi tentang sesuatu yang jauh lebih menyeramkan: logika.
Namun mulutnya hanya sanggup berkata pelan, "Selamat, deh."
Pelukan pun terjadi-dingin, sopan, dan setengah hati.
"Aku bantu siapkan resepsi, ya?" tawar Evi datar.
Iyem menggeleng, masih tersenyum seperti orang yang baru pulang dari hipnosis.
"Nggak usah repot. Dewa udah atur semuanya. Kamu dan geng duduk manis aja. Oke?"
Duduk manis. Dua kata yang membuat darah Evi naik setengah derajat.
Begitu keluar dari kamar, Evi langsung memanggil Jonathan dan Alice, dengan nada suara seperti ibu negara yang baru mendengar negara mau dijual murah.
"Aku ngerasa ada yang nggak beres sama pernikahan ini," katanya pelan tapi pasti.
Jonathan diam. Alice menatap kosong, tapi pikirannya sudah melompat jauh ke dunia yang lebih gelap dari catatan sejarah.
"Mungkin nggak sih... semua ini rencana yang udah disiapin Charlotte?" ujar Alice tiba-tiba, seperti tanpa sadar baru menekan tombol bahaya.
Ruangan mendadak senyap.
Evi dan Jonathan saling pandang-tatapan orang yang baru menyadari mereka mungkin sudah tidur di bawah ranjang iblis.
"Alice..." panggil Evi lirih.
"Ya, mungkin nggak masuk akal sih," lanjut Alice kalem. "Tapi kalau menurut buku yang aku baca, Charlotte itu tipe penyihir yang nggak pernah mati. Dia suka kekuasaan, suka tampil glamor, dan punya obsesi aneh sama manusia cantik yang hidupnya tragis. Biasanya dia balik lagi, entah lewat reinkarnasi, merger, atau gosip media."
Evi melotot. "Dari mana kamu tahu semua itu?!"
Pertanyaan yang bahkan dirinya tahu... bodoh sekali untuk dilontarkan.
Karena tentu saja: ini Alice.
Perpustakaan berjalan yang bisa mengutip sejarah demonologi sambil makan keripik singkong.
Evi tersenyum miring lalu mencium pipi sepupunya.
"Gua tahu, lo pasti bisa diandalkan," ujarnya, setengah sayang, setengah ancaman lembut.
"Sekarang cari tahu siapa itu Charlotte-kalau memang dia masih eksis di dunia ini."
Alice menatapnya lama. Bibirnya terangkat pelan.
"Evi," katanya pelan, "aku rasa aku udah tahu siapa dia."
Jonathan dan Evi sama-sama terdiam.
Sebuah ketegangan halus menetes di antara mereka-tipis, bergetar, dan samar-samar berbau melati.
Tanda bahwa masa lalu sedang membuka matanya lagi.
KAMU SEDANG MEMBACA
IYEMRELA
Mystère / Thriller- dongeng modern tentang cinta, kelas sosial, dan karma yang tak pernah tamat - Iyem hanyalah gadis kampung biasa, sampai Madam Juliet-wanita berkuasa dengan gaya bicara seperti kontrak kredit macet-menjodohkannya dengan pewaris PT DEWO. Demi kelan...
