Sudah sebulan sejak Evi mengirimkan sampel DNA-nya ke laboratorium, dan hari ini ia resmi kehabisan logika. Di satu sisi, ia tahu hasilnya pasti menunjukkan bahwa dirinya 100% Indonesia Asli—dengan kadar cabe rawit dan mental gotong royong yang menetes di tiap selnya. Di sisi lain, bagian otaknya yang suka overthinking berbisik: “Tapi bagaimana kalau ternyata aku keturunan bangsawan abad keenam belas yang reinkarnasinya nyangkut di Bekasi?”
Evi terbaring di kasur, menatap layar ponsel seperti orang menatap masa depan yang baru saja mengetuk pintu. Begitu notifikasi email muncul, jantungnya berpacu. Ia membuka lampiran—dan seketika pandangannya kabur.
Hasilnya… aneh.
Britania. Spanyol.
Persentasenya kecil, tapi cukup untuk membuat Evi kehilangan keimanan pada pelajaran sejarah di sekolah. Ia buru-buru menyalakan komputer, berharap layar yang lebih besar bisa membuat hasilnya terlihat lebih masuk akal. Tidak. Masih sama.
“Luar biasa,” gumamnya getir. “Ternyata aku kombinasi nasi uduk dan paella.”
Malam itu juga, ia menyerbu ruang kerja ayahnya, menyerahkan lembaran hasil tes dengan gaya seseorang yang baru menemukan bukti konspirasi keluarga.
Pak Maruli menatap kertas itu santai, lalu tersenyum seperti sedang menonton sinetron rerun.
“Wah, keren juga. Ternyata kamu ada keturunan Eropa.”
“Dari siapa?” tanya Evi, waspada.
“Mungkin dari mamamu. Katanya dia punya darah Portugis. Rambutnya aja agak pirang, kan?”
Evi mendengus. Rambut pirang bukan bukti genealogis, pikirnya. Tapi malam itu, untuk pertama kalinya, dia percaya: mungkin mamanya tidak sepenuhnya sedang halu waktu bicara soal darah Eropa.
Sedikit lega, tapi juga makin bingung, Evi bersandar di kursi. Sebagian teka-teki hidupnya terjawab, tapi bagian lainnya malah membengkak. Kalau darahnya setengah Britania, mengapa mentalnya tetap separuh chaos?
Ia menatap hasil tes itu lama-lama, lalu mendesah:
“Baiklah, kalau genku memang jalan-jalan sejauh ini, aku juga harus pergi mencari asalnya.”
Rencana itu membuat Eddy terdiam sejenak ketika mendengarnya. Lalu dia tersenyum samar—senyum orang yang tahu sesuatu tapi terlalu malas menjelaskan.
“Good luck in searching the answers,” tulis Eddy lewat pesan.
Evi membaca pesan itu sambil mengerling.
“Yeah, gua butuh banyak keberuntungan buat nyari jawaban dari cerita lo,” gumamnya sambil menatap ponsel—antara kagum dan pengen lempar.
Sementara itu, Iyem—yang tak pernah peduli dengan urusan genetik selain warna rambut lawan mainnya—memandang Evi dengan dahi berlipat.
“Untuk apa sih tes DNA segala?” tanyanya polos.
Evi menyodorkan kertas hasil tes tanpa penjelasan. Iyem membaca dengan mata melebar.
“Wah, kamu ada keturunan Inggris toh? Terus, apa hubungannya sama aku?”
Evi menatapnya datar.
“Kalau kamu percaya sama aku, kerjain aja apa yang aku minta.”
Iyem menatapnya lama, menimbang antara percaya atau lapor BNN. Tapi akhirnya ia mengangguk. Entah kenapa, batinnya bilang Evi tahu apa yang sedang ia lakukan—meski wajahnya terlihat seperti orang yang baru gagal ujian logika.
Menjelang keberangkatannya ke Eropa, Evi mulai melatih Ika sebagai pengganti sementara. Tentu saja Ika menerima tawaran itu dengan riang gembira—apalagi setelah mendengar nominal gajinya.
“Akhirnya kerjaan yang bikin bahagia dan nggak nyuci piring orang,” katanya sambil menandatangani kontrak.
Evi mengumpulkan geng Ganesha dan memberi instruksi terakhir seperti seorang jenderal yang tak percaya pasukannya.
“Kalian nggak boleh lengah. Kalau Cindy hilang lagi, kalian semua tanggung jawab. Ingat malam ulang tahunnya? Itu karena kelengahan kita semua.”
Geng Ganesha menatapnya serius, meski di kepala mereka masing-masing, kata “koma” dan “reinkarnasi” masih berseliweran seperti iklan sampo.
Mereka mengangguk-angguk dengan wajah antara serius dan bingung—seperti sekelompok mahasiswa yang pura-pura paham dosen statistik. Tapi ketika Evi menatap mereka satu per satu dengan pandangan yang nyaris religius, mendadak suasana jadi khidmat. Mungkin memang ada sesuatu yang lebih besar dari mereka semua. Atau mungkin Evi saja yang terlalu lama kurang tidur.
Yang jelas, kejadian di rumah sakit—saat Iyem mendadak bangun dari koma tepat setelah mereka menyentuhnya—telah mengubah cara pandang Evi. Ia tidak lagi menganggap geng Ganesha sekadar pengacau bersuara cempreng, melainkan… semacam alat spiritual lintas dimensi yang sayangnya tidak punya manual book.
Evi sempat mendapat kilasan aneh malam itu: sebuah bayangan samar, seperti potongan film tua yang hanya bertahan sepersekian detik. Ia sudah berusaha fokus, tapi hasilnya sama saja—kosong. Otaknya menolak memutar ulang kejadian yang belum sempat direkam.
Eddy tentu tahu cerita itu. Tapi bukannya membantu, pria itu malah mengeluarkan satu lagi kalimat khasnya—campuran antara petuah hidup dan teka-teki silang.
“Semua itu harus kamu temukan sendiri, Evi. Ingat, memori masa laluku terbatas… sejak tragedi itu.”
Tragedi apa? Evi tidak tahu. Eddy tidak bilang. Dan semesta tidak beritikad baik menjelaskan.
Ia mengeluh pelan. Sebenarnya ia ingin berhenti saja dari semua ini, kembali jadi manajer yang cuma repot ngurus kontrak artis dan endorsement vitamin rambut. Tapi entah kenapa, teka-teki ini menolak ditinggalkan.
Menurut Eddy, Evi adalah kunci dari semuanya.
Kunci dari apa, juga belum jelas. Tapi kata “kunci” terdengar terlalu berat untuk seseorang yang masih menabung buat beli motor baru.
Tanda-tanda aneh yang dialami Evi rupanya sudah lebih dulu menghantui Eddy sejak usia sembilan belas. Ia sering bermimpi aneh dan mengalami dejavu—seolah hidupnya adalah siaran ulang yang diputar di kanal berbeda. Lama-lama, ia mulai menyadari pola aneh itu mengarah pada satu nama: Isabella.
Dan pertemuannya dengan Iyem—yang tiba-tiba muncul di hidupnya tanpa aba-aba—membuka tirai masa lalu yang selama ini cuma terlihat samar. Dalam penglihatannya, ada kisah lama yang berputar di balik semua ini: Isabella dan Lorenzo. Cinta yang manis, hancur, lalu mewariskan kutukan pada siapa pun yang terlibat setelahnya.
Eddy menelusuri semuanya. Ia mencari tahu latar belakang Iyem, membaca catatan lama, bahkan menyogok petugas arsip (dengan donat, tentu saja). Hasilnya nihil—tapi satu hal ia yakini: hidup gadis itu bukan kebetulan.
Yang tak ia duga, bayangan masa lalu yang muncul di kepalanya justru lebih sering menampilkan sosok Evi. Dalam setiap mimpi, ia melihat Evi sebagai seorang pria dari abad lampau—Detektif Thomas—yang menyelidiki kematian Lorenzo.
Dan malam gala itu menjadi titik balik. Saat mereka berdua berdiri di aula hotel, keduanya menyadari satu hal yang sama: mereka sedang melihat masa lalu… dari dua arah berbeda.
* * *
KAMU SEDANG MEMBACA
IYEMRELA
Mystère / Thriller- dongeng modern tentang cinta, kelas sosial, dan karma yang tak pernah tamat - Iyem hanyalah gadis kampung biasa, sampai Madam Juliet-wanita berkuasa dengan gaya bicara seperti kontrak kredit macet-menjodohkannya dengan pewaris PT DEWO. Demi kelan...
