5- Menuju Jakarta

63 5 0
                                        

"Ingat ya, Yem, kamu harus kasih kabar! Jakarta itu lebih kejam daripada pacar yang selingkuh!"

Kalimat Ika itu berputar-putar di kepala Iyem, menimbulkan senyum kecil di bibir yang sedang berjuang menahan mual di dalam bus ekonomi yang berguncang seperti perahu tambal-sulam.

Kemarin siang, geng Ganesha melepasnya di sekolah. Pemandangan itu seperti upacara perpisahan dadakan dengan koreografi air mata dan tisu basah.
Tak ada yang menyangka: anak juragan material yang dulu sibuk menyisir rambut di jam pelajaran kini berangkat ke Jakarta bukan untuk kuliah, tapi untuk bekerja. Dunia, rupanya, punya selera humor yang aneh.

Mereka sempat mencari cara agar Iyem tetap tinggal di kampung.
Dari ide bergiliran menampungnya di rumah masing-masing, sampai rencana heroik meminta orang tua mereka mengadopsinya.
Iyem menolak semua dengan sopan-dan sedikit geli.

"Aku baik-baik saja. Mungkin ini memang bagian kisah hidupku sekarang,"
katanya, terdengar seperti tokoh sinetron yang baru pulang dari motivator.

Ucapan itu membuat gengnya terdiam.
Bukan karena kagum, tapi karena bingung kapan tepatnya Iyem yang sok manja berubah jadi bijak kilat.
Sebelum ini, ia lebih rajin menyisir poni ketimbang menulis tugas sekolah.
Kalau diberi pilihan antara PR dan bedak tabur, ia akan memilih bedak-dua kali.

Linda, si lembut berhati tipis dan kulit sensitif, mulai menangis terlebih dahulu. Disusul Ika dan Wiwi yang menangis lebih keras supaya tidak kalah dramatis.
Hanya Santi yang diam-bukan karena kuat, tapi karena sibuk menghitung risiko. Dalam pikirannya, Jakarta terdengar seperti kota yang bisa menelan Iyem bulat-bulat.

Rambut saja minta disisiri. PR saja minta ditulisi,
gumamnya dalam hati.
Semoga kecantikan sahabatnya cukup jadi mata uang di ibu kota.

"Pokoknya kamu harus kasih kabar! Kita pasti nyusul ke Jakarta, oke?!" teriak Ika sambil menghapus air mata yang sudah menodai bedaknya sendiri.
Iyem tersenyum. Untuk pertama kalinya, perpisahan tidak terasa seperti akhir, tapi seperti jeda lucu di tengah hidup yang berlebihan.

Di dalam bus, Iyem menghela napas panjang. Dadanya masih sesak, tapi ia tahu: sesesak apa pun udara kota nanti, itu tetap lebih lega daripada serumah dengan Dahlia dan dua anaknya yang menganggap empati sebagai penyakit kulit.
Setidaknya di Jakarta, penderitaan datang dengan pemandangan baru.

"Yem?" suara lembut Bude Tien membuyarkan pikirannya.
"Kita sudah sampai."

Iyem menegakkan tubuh, merapikan rambut, dan menatap keluar jendela. Terminal itu ramai, bising, dan bau gorengan campur solar-aroma yang bisa membuat siapa pun merasa miskin seketika.
Mendadak perutnya berontak. Ia turun dari bus dan berlari ke arah pohon terdekat untuk memuntahkan sisa keberanian.

Bude Tien sigap menepuk punggungnya sambil mengoleskan minyak angin, seperti tabib spiritual yang sedang membuka aura.
"Masuk angin ini. Nanti Bude kerok, ya," katanya tenang, meski matanya sibuk menatap sekeliling seperti menunggu tanda dari semesta.

Tak lama, seorang pria tinggi berpenampilan rapi menghampiri.
"Ibu Titien?"
Bude menoleh curiga, lalu mengangguk.
"Saya Aji, disuruh Madam Juliet menjemput Ibu."

Nama itu-Madam Juliet-terdengar seperti gabungan antara toko parfum dan dalang takdir.
Bude langsung tersenyum lega. "Oh iya, iya... Ayo, Nak!"

Mobil yang menjemput mereka bukan sembarangan mobil.
Begitu duduk, Bude Tien langsung merasa seperti naik kasta sosial:
aroma kabin lebih wangi dari sabun mandi yang pernah ia beli,
dan joknya lebih empuk dari kasur rumahnya sendiri.
Naik angkot saja sudah mewah, apalagi ini.

Aji menatap dari spion, tersenyum sopan.
"Nyaman, Bu?"
Bude Tien mengangguk malu-malu. "Iya, Nak. Kalau lama-lama, saya bisa ketiduran."

Iyem bersandar di sebelahnya, menatap langit-langit mobil yang tak berguncang. Matanya perlahan terpejam, dan dunia yang baru mulai terasa jauh lebih senyap.
Bude Tien memandangi wajah anak itu-masih muda, masih polos, tapi sudah dipaksa menelan pahitnya dunia.

IYEMRELATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang