35- Percaya, Tapi Jangan Terlalu

30 2 2
                                        

Santi tersenyum membaca satu per satu pesan yang masuk dari geng Ganesha. Bahkan dari Evi dan Bude Tien. Tentu saja, niatnya bukan benar-benar meninggalkan rumah. Ia hanya ingin menguji kadar kekacauan kelompok itu — dan, sayangnya, hasilnya sesuai dugaan: semua orang punya rahasia masing-masing, tapi semua pura-pura jujur demi kebaikan bersama.

Padahal tujuan mereka satu: melindungi Iyem.
Tapi bagaimana mau melindungi seseorang kalau antar pelindung saling mencurigai?

Santi mengirim pesan ke Bude Tien, menanyakan keadaan rumah. Balasannya datang cepat, penuh kalimat panjang dan sedikit bumbu melodrama: katanya, Iyem dan yang lain masih sedih, rumah seperti kehilangan induk bebek. “Cepat pulang, San. Mereka kayak anak itik kedinginan,” tulisnya.

Santi mengembuskan napas, tersenyum kecil.
Lalu membaca pesan dari Ika — satu-satunya manusia yang bisa membuat kekacauan terdengar seperti niat baik.

Santi, jangan musuhi semua orang cuma karena aku yang bego. Kalau perlu, aku aja yang keluar. Tapi aku gak bisa ninggalin Iyem. Lagian aku butuh kerjaan ini. Aura juga butuh uang. Maafin temanmu yang suka kebablasan.


Pesan yang polos, tapi tulus. Kalimat yang tidak rapi, tapi entah kenapa bisa menampar lebih keras dari nasihat motivator.

Santi menutup ponselnya dan mulai mengepak pakaian. Sudah cukup. Drama sudah disiarkan, pelajaran sudah dibagikan. Saatnya kembali ke markas besar — tempat di mana kekacauan terasa seperti rumah.

Bude Tien menyambut kedatangannya dengan senyum lebar yang mengandung doa, lega, dan sedikit ancaman supaya jangan kabur lagi. Yang lain ikut senang, kecuali Ika, yang berdiri kikuk seperti murid menunggu nilai ujian.

“Makasih sudah balik, San,” kata Iyem pelan.

Santi tersenyum, lalu beralih ke arah Ika. Gadis itu nyaris menunduk sampai lantai. Santi menghampirinya dan memeluknya. Ika pun pecah, air matanya tumpah seperti pipa bocor. Semua yang menonton ikut menghela napas lega. Dalam rumah itu, keheningan akhirnya terasa seperti tanda perdamaian, bukan pertengkaran.

Hari itu juga, Santi langsung menggelar rapat darurat di ruang tengah. Dengan nada ketua geng yang terlalu serius untuk usianya, ia mengeluarkan semua uneg-uneg yang sempat ia tabung selama masa “pelarian spiritual” di hotel.

“Kalau kita benar-benar mau jagain Iyem,” katanya, “semua rahasia harus dihapus. Dan Iyem—” ia menatap langsung pada sang bintang utama — “kamu juga gak boleh merahasiakan apa pun dari kita. Satu hal aja disembunyikan, semua bisa berantakan. Oke?”

Iyem mengangguk pelan, wajahnya tampak lelah tapi juga pasrah — seperti seseorang yang tahu hidupnya sudah jadi proyek publik.

“Sebenarnya aku gak bermaksud merahasiakan apa-apa,” kata Evi, menatap kosong seperti detektif yang kehilangan petunjuk. “Aku cuma belum yakin dengan semua penemuanku. Lagian... aku takut kalian pikir aku gila. Karena akhir-akhir ini aku sering mengalami hal-hal aneh.”

Alice dan Jonathan, yang selama ini lebih mirip pengamat pasif ketimbang anggota tim, mengangguk penuh wibawa, seperti ingin menegaskan bahwa aneh adalah kata yang terlalu sopan untuk menggambarkan apa yang mereka lihat di London dan Paris.

“Kalian gak akan percaya,” tambah Alice, “apa yang dialami Evi di sana... itu udah di luar akal sehat manusia normal.”

Mereka semua terdiam.
Lalu Bude Tien, dari dapur, tiba-tiba bersuara lantang, “Ya kalau udah di luar akal sehat, jangan dikejar! Masuk angin nanti!”

Dan untuk pertama kalinya, sore itu rumah kembali dipenuhi suara tawa.
Tipis, canggung, tapi cukup untuk menandai bahwa badai mungkin belum selesai — hanya sedang istirahat sejenak untuk minum teh.

IYEMRELACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang