40- Ketika Surga Menyalakan Kamera

41 3 1
                                        

Evi berdiri di tengah hutan yang sepi.
Tidak ada suara, kecuali napasnya sendiri dan dengung samar dari sesuatu yang tidak perlu dijelaskan.

Ia menatap sekeliling. Pohon-pohon di sana tampak terlalu rapi untuk alam liar, terlalu simetris untuk dunia nyata.
Ia menampar pipinya pelan. Sekali. Dua kali.
“Bangun, Evi. Ini pasti cuma mimpi.”

Sayangnya, mimpi sering kali lebih disiplin daripada realitas—karena tepat setelah kalimat itu keluar, seorang wanita muda muncul dari balik kabut. Cantik, lusuh, dan berwajah seperti seseorang yang pernah ia temui di cermin yang salah.

“Julia?” gumam Evi, separuh takut, separuh kesal.

Wanita itu tersenyum. “Selamat datang, Evi.”
Nada suaranya lembut—jenis kelembutan yang membuat orang ingin minta maaf tanpa tahu salahnya apa.

“Aku… di mana, tepatnya?”
“Di rumahku. Rumah kita,” jawab Julia tenang.

Rumah kita. Kalimat yang terdengar hangat dan menyeramkan sekaligus.
Tapi karena logika jarang bekerja di dunia semacam ini, Evi memilih untuk mengikuti Julia saja.

Mereka berjalan menyusuri jalan tanah yang basah, menuju sebuah rumah kecil dengan kebun bunga di depannya. Bunga-bunganya tumbuh terlalu rapi, terlalu bersih—seperti hasil kerja tukang kebun yang takut mati.

“Masuklah,” kata Julia.

Evi menurut. Di dalam rumah itu, seorang nenek terbaring di atas kasur jerami, tubuhnya kurus, kulitnya pucat seperti kertas.
Ketika nenek itu membuka mata, pandangannya langsung jatuh pada Evi.

“Evi,” panggilnya pelan. Suaranya gemetar seperti daun tua di angin sore.
Evi mendekat, berlutut, menggenggam tangan yang terasa nyaris tak berbobot.

“Terima kasih sudah datang,” bisik nenek itu.
Evi hanya mampu mengangguk. Entah kenapa, matanya terasa panas. Ini bahkan bukan orang yang ia kenal, tapi kesedihannya terasa pribadi—seperti sedang menatap dirinya sendiri di masa depan yang salah alamat.

“Nangis itu manusiawi,” kata sang nenek pelan. “Tapi kalau bisa, jangan boros.”
Lalu, dengan napas terakhir yang lebih mirip gumaman doa, ia berkata,
“Evi… kendalikan amarahmu. Jangan biarkan kebaikanmu kalah suara.”

Evi menunduk. Air matanya jatuh satu per satu—rasa kehilangan yang datang dari sesuatu yang belum pernah dimiliki.
Saat ia mengangkat kepala, nenek itu sudah hilang. Tempat tidurnya kosong, jeraminya dingin. Rumah yang tadi indah kini berubah kusam, retak, dan berdebu.

Evi menatap Julia, kebingungan bercampur ngeri.
Julia menatap balik dengan senyum lembut yang membuat semuanya terasa semakin aneh.

“Nenek itu aku,” katanya pelan. “Begitulah caraku meninggalkan dunia ini. Damai, meskipun jelek.”

Evi terdiam. “Kau… bahagia?”

Julia mengangguk. “Bahagia itu bukan kondisi. Itu keputusan—biasanya keputusan orang yang sudah terlalu capek untuk marah.”

Evi mencoba tersenyum, tapi bibirnya menolak kerja sama.
Julia mendekat, menepuk pundaknya perlahan.

“Rumah ini berubah karena hatimu sedang kotor, Evi. Jangan tersinggung, semua manusia memang begitu. Kalau hati bersih, dunia tampak indah. Kalau hati kusut… bahkan pelangi pun kelihatan seperti lampu diskotik.”

Evi mengangguk pelan. Ia tahu Julia benar.
Dan seperti biasa, kebenaran terasa memalukan—karena datang dari orang lain.

Evi masih menatap wanita itu seperti menatap notifikasi tagihan di tanggal tua—bingung, panik, tapi tidak bisa diabaikan.
Apa maksud dari semua ini? Mengapa ia harus mendapat khutbah motivasi spiritual di tengah hutan dari seseorang yang jelas-jelas berasal dari bab dongeng yang salah?

IYEMRELACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang