37- Charlotte, Sang Korporat Gaib

27 2 1
                                        

Di kamarnya, Iyem duduk termenung di tepi jendela.
Langit sore menggantung seperti pikiran yang enggan diselesaikan.
Sudah dua hari berlalu sejak kejadian di lokasi syuting, tapi dadanya masih terasa berat — seperti ada sesuatu yang belum pulang.

Ia ingat saat tubuhnya mendadak terasa ringan, seperti ditarik ke arah yang tidak diketahui.
Jiwanya seperti copot dari badannya, lalu terdampar di tempat asing yang terasa akrab.
Dan di sana — di batas antara sadar dan tidak — ada suara perempuan yang memanggilnya:

“Kau tidak akan pernah bisa lari dariku, Juliet. Aku akan tetap mengejarmu ke mana pun kau pergi.”

Nada suaranya lembut.
Tapi lembut yang membuat tengkuk dingin.

Iyem memejamkan mata, menarik napas panjang.
Yang lebih mengusik sebenarnya bukan suara itu, tapi percakapan yang ia dengar di parkiran puskesmas.
Evi dan Jonathan.
Tentang Thomas, tentang masa lalu, tentang inkarnasi.
Keduanya bicara serius seperti dua orang yang baru saja menemukan naskah kehidupan dan membacanya tanpa izin Tuhan.

Dan mereka pikir dia tak mendengar apa-apa. Padahal ia berdiri di balik pintu, diam, seperti bayangan yang pura-pura tidak ada.

Ketukan di pintu membuyarkan lamunannya.
Evi muncul dengan nampan di tangan — dua cangkir jahe mengepul dan wajah yang seperti baru saja kalah debat dengan pikirannya sendiri.

“Aku bikin jahe,” katanya pendek.

“Thanks,” balas Iyem, menerima cangkir itu.
Keduanya duduk dalam diam.
Minuman jahe menguarkan aroma pedas yang menenangkan, tapi hawa di antara mereka justru semakin dingin.

“Apa yang sebenarnya terjadi sama aku, Vi?” suara Iyem pelan.
“Kenapa aku bisa tiba-tiba koma, terus bangun gitu aja? Kenapa aku sering mimpi perempuan yang sama?”

Evi tidak langsung menjawab.
Ia hanya menatap permukaan jahe yang berputar pelan, seperti sedang membaca nasib dari air panas.
“Perempuan apa?” tanyanya akhirnya.
Padahal ia sudah tahu jawabannya, tapi kadang pertanyaan adalah cara paling aman untuk menunda kenyataan.

“Dia selalu manggil aku Juliet,” ujar Iyem. “Katanya dia bakal ngejar aku ke mana pun aku pergi.”

Evi menatap Iyem lama.
Tatapan serius itu terasa aneh di wajahnya — seperti melihat kucing pakai jas formal.

“Yem,” katanya pelan, “kamu percaya inkarnasi?”

Pertanyaannya melayang di udara, ringan tapi berbobot.
Iyem menatapnya balik. “Kenapa?”

Evi mengangkat bahu. “Nggak tahu. Aku cuma mikir aja.”
Ia menyesap jahenya, menatap ke kebun. “Mungkin kita lahir lagi ke dunia ini cuma buat memperbaiki kesalahan masa lalu.”

Iyem terdiam, lalu mengangkat bahunya. “Mungkin juga. Mungkin inkarnasi itu kayak... kesempatan kedua dari Tuhan yang agak males ngasih penjelasan.”

Evi nyaris tersedak. Itu kalimat paling waras yang keluar dari mulut Iyem sejauh yang ia ingat.
Ia menatap gadis itu seperti baru sadar: kadang orang yang paling sering diam justru menyimpan kalimat paling berbahaya.

“Kalau kamu dikasih kesempatan lahir lagi,” tanya Evi, “kamu mau jadi apa?”

Iyem tersenyum tipis. “Mungkin ikan.”

“Ikan?” Evi mengerutkan kening.

“Iya. Biar bisa keliling dunia tanpa beli tiket.”

Evi mencibir kecil. “Kamu tau, Yem, bahkan ikan pun masih dikejar nelayan.”

“Ya, setidaknya mereka nggak dikejar karma,” balas Iyem santai.

Keduanya tertawa kecil, tawa yang tidak lucu tapi menenangkan.
Untuk sesaat, dunia terasa normal lagi — meski mereka tahu, tidak ada yang benar-benar normal di rumah itu.

IYEMRELACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang