Perayaan tiga puluh tahun perusahaan Shiam berlangsung megah di hotel berbintang lima. Tamu-tamunya datang dari segala kasta sosial yang biasa menyebut dirinya “kalangan.” Para karyawan terbaik Madam Juliet ikut diundang, termasuk satu nama baru: Iyem, si tukang bersih-bersih yang baru saja dinobatkan sebagai employee of the year.
Siti, juara tahun sebelumnya, justru girang. Itu tanda anak didiknya sudah lulus dengan nilai “kinclong cumlaude.” Lisa, manajer salon, juga bangga — meski sedikit pahit — karena lagi-lagi piala itu jatuh ke tangan bagian kebersihan, bukan terapis.
“Kayaknya salon ini diganti aja jadi jasa bersih-bersih,” gumam Lisa di depan semua karyawan.
Tak satu pun yang berani protes. Mereka tahu ucapan itu bukan lelucon, melainkan bentuk frustrasi yang diberi make-up tipis.
Iyem sendiri gugup bukan main. Bayangkan: gadis kampung yang dulu berfoto di depan minimarket kini harus berpose di karpet merah diapit politikus, selebritas, dan konglomerat yang hobi beramal untuk citra.
Lisa ditugasi mendampingi Iyem dan memastikan semuanya sempurna. Ia menyiapkan gaun, sepatu, dan polesan rias yang membuat gadis itu tampak seperti hasil percampuran Cinderella dan mbok jamu organik.
Tiga hari penuh Lisa berburu gaun. Semua tampak cocok di tubuh Iyem — tinggi semampai, pinggang ramping, tegak seperti tiang jemuran premium. Akhirnya Madam Juliet menyuruh mereka langsung ke toko Chanel.
“Mbak Lisa, ini harganya dibaca bagaimana?” tanya Iyem polos ketika melihat angka nol yang seperti barisan semut.
Lisa nyaris pingsan, tapi transaksi berjalan mulus. Mereka tak perlu membayar apa-apa, sebab kedatangan mereka sudah dijadwalkan “atas nama Madam.”
Mereka pulang dengan gaun seharga seratus lima puluh juta dan sepatu yang nilainya cukup untuk membeli sawah dua petak. Dalam perjalanan, keduanya membisu, mungkin sama-sama menghitung berapa kali reinkarnasi yang dibutuhkan untuk melunasinya.
Lisa terpaku melihat hasil akhirnya. Kecantikan Iyem tidak butuh polesan — bahkan lampu neon salon pun tampak minder.
“Kamu kayak Cinderella, Yem.”
“Iyemrela,” jawab gadis itu cekikikan.
Lisa terbahak. Mereka pun berpegangan tangan menuju pintu keluar. Semua mata menoleh, dan Aji sang sopir langsung jatuh cinta seketika.
“Ya ampun, Yem. Kamu cocok jadi istri konglomerat,” ujarnya, separuh bercanda, separuh berdoa.
Hotel malam itu seperti sirkus beraroma parfum mahal. Lampu gantung berkilau, musik mengalun, dan tamu-tamu berlomba tampil seolah ada kamera di tiap sudut. Iyem menikmati semuanya. Ia menari dengan beberapa tamu, tersenyum, dan sedikit heran kenapa tak satu pun menanyakan siapa dia. Tapi mungkin memang begitulah dunia kelas atas: semua sibuk memperkenalkan diri, tak sempat mengenal siapa pun.
Dari kejauhan, Madam Juliet memandangi Iyem. Ada senyum kecil di bibirnya, senyum yang sulit dibedakan antara kebanggaan dan eksperimen sosial yang sukses.
Setelah satu jam berdansa, Iyem mulai pincang. Sepatu Chanel ternyata tidak bersahabat dengan tumit manusia.
Lisa berjongkok memeriksa kakinya, dan di saat itulah datang seorang pelayan membawa nampan. Suaranya tenang, wajahnya… seperti aktor Korea yang tersesat di dunia nyata.
“Sepatu baru?” tanya pria itu ramah.
“Iya, lecet,” jawab Iyem dengan senyum yang tak kalah manis dari sakitnya.
Pelayan itu berlutut memeriksa luka di tumitnya.
“Sebentar, saya carikan sandal,” katanya, lalu menghilang secepat drama tiga episode.
Iyem terpana.
KAMU SEDANG MEMBACA
IYEMRELA
Mystery / Thriller- dongeng modern tentang cinta, kelas sosial, dan karma yang tak pernah tamat - Iyem hanyalah gadis kampung biasa, sampai Madam Juliet-wanita berkuasa dengan gaya bicara seperti kontrak kredit macet-menjodohkannya dengan pewaris PT DEWO. Demi kelan...
