Jonathan sebenarnya tidak ingin ke Jakarta. Tapi di hadapan Evi—yang kini berperilaku seperti detektif reinkarnasi sambil memegang boarding pass—tak ada banyak ruang untuk menolak. Ia mengikutinya, bukan hanya karena penasaran dengan proyek “mistik-arkeologis” gadis itu, tapi karena diam-diam ia sudah jatuh cinta pada ketegasan absurd yang melekat padanya.
Lucunya, dari semua orang yang mungkin mendapat penglihatan masa lalu, kenapa justru Evi—perempuan yang DNA-nya cuma punya tiga persen darah Britania—yang paling sering kesurupan sejarah?
Padahal Jonathan sendiri adalah keturunan langsung Thomas, sang detektif legendaris yang mungkin sekarang sedang berputar di kuburannya, mengamati cicitnya terseret drama lintas zaman bersama seorang perempuan keras kepala.
Menurut Jonathan, Evi seperti magnet bagi hal-hal yang tak rasional. Ia bisa pingsan di pub, bangun di abad ke-18, lalu minta tiket ke Louvre lima menit kemudian.
Ia sudah memperingatkan Evi soal bahaya itu: bahwa setiap kali penglihatan datang, jiwanya sebenarnya sedang berjalan-jalan di alam lain. Di tempat itu, batas antara “melihat masa lalu” dan “diambil alih oleh masa lalu” bisa setipis tisu hotel murah.
Namun Evi hanya tersenyum dan menjawab ringan,
“Aku akan mengontrol penglihatanku. Mereka nggak akan bisa ambil jiwaku.”
Jonathan hampir menjatuhkan kopinya.
“Kau tidak bisa mengontrol penglihatan yang datang begitu saja,” katanya.
“Kenapa tidak? Ini tubuhku. Jiwaku. Aku nggak akan membiarkan siapa pun ngatur—apalagi nenek sihir menopause dari abad ke-17.”
Sejenak Jonathan terpaku. Di wajah gadis itu, ada keyakinan yang bahkan lebih tajam dari logika. Sesuatu yang membuatnya berpikir: mungkin, justru Evi-lah yang ditunggu oleh seluruh roh gentayangan dalam legenda itu.
Dan di titik itu, Jonathan memutuskan satu hal sederhana tapi bodoh:
kalau gadis ini memang mau menantang masa lalu,
maka ia akan ikut—
meski artinya mati penasaran di tangan roh Inggris beraksen kuno.
Jonathan nyaris tak percaya dirinya naik pesawat ke Jakarta—negeri tropis yang dulu cuma dia dengar dari dosennya di London (“a land of humidity and mystery”). Sekarang dia terbang ke sana bersama Evi, perempuan yang bisa pingsan di satu benua dan bangun di abad lain, dan entah kenapa… ia merasa aman.
Evi menatapnya di kursi kelas utama—tempat di mana manusia biasanya berdoa agar tak ketahuan makan kacang lebih dari jatah.
“Seberapa sering kamu ngalamin penglihatan?”
Jonathan menoleh, wajahnya agak menegang. “Tiga tahun lalu… dan aku nyaris mati.”
“Gimana bisa?”
“Mungkin aku nggak sekuat kamu. Aku nggak bisa ngontrol kekuatan dari luar.”
Evi menegakkan badan, nada suaranya seperti pengacara di ruang sidang.
“Santai. Aku bakal lindungin kamu, Jon.”
“Jangan bilang hal yang nggak bisa kamu tepati,” gumamnya pelan.
“Tenang. Aku nggak pernah main-main soal dua hal: uang dan janji. Jadi hidupmu aman selama di sebelahku.”
Jonathan hanya bisa tersenyum—campuran antara terharu dan pasrah—sementara Evi menenggak jus jeruk seperti heroin film laga yang baru memenangkan argumen terakhirnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
IYEMRELA
Misteri / Thriller- dongeng modern tentang cinta, kelas sosial, dan karma yang tak pernah tamat - Iyem hanyalah gadis kampung biasa, sampai Madam Juliet-wanita berkuasa dengan gaya bicara seperti kontrak kredit macet-menjodohkannya dengan pewaris PT DEWO. Demi kelan...
