15- Malam yang Terlalu Berkilau untuk Diingat

39 4 0
                                        

Hari pertama syuting adalah momen penting bagi semua aktor.
Bagi Iyem, itu mirip ujian praktik hidup — bedanya, tidak ada kisi-kisi, hanya naskah tebal, sutradara galak, dan make-up yang bisa membuatnya tampak seperti manusia hasil perawatan laboratorium.

Jantung Iyem berdebar begitu tiba di lokasi. Kru berlarian seperti lebah tanpa bunga, kamera bergoyang, dan seseorang berteriak, “Lighting, jangan nyorot muka artis kayak interrogasi polisi!”
Iyem berdiri kaku, seperti patung gips yang baru sadar dirinya bukan bagian dari set.

Ia mencoba mengingat pesan Jono: “Jangan takut kamera, kamera itu cuma mata orang yang dibayar untuk melihatmu dari sudut paling jelek.”
Kalimat itu seharusnya menenangkan. Tapi sayangnya, tidak semua nasihat Jono bekerja di lapangan.

Ketika kamera mulai merekam, Iyem merasa setiap pori-porinya ikut diawasi. Mulutnya kering, matanya kosong, dan tangannya gemetar seperti sinetron religi menjelang adzan magrib.

Jono menghela napas panjang, berjalan mendekatinya sambil tersenyum—senyum sutradara yang sudah terlalu sering menolong aktor yang hampir tumbang.
“Cindy, rileks,” katanya lembut. “Kau bukan sedang diadili. Kau cuma berpura-pura menderita. Sesuatu yang sudah dilakukan banyak orang tanpa bayaran.”

Iyem tertawa gugup. Ia menutup mata, menarik napas, lalu berkata dalam hati, “Kalau gagal, paling cuma malu se-Indonesia.”
Itu cukup membantu.

Dan seperti adegan klise di film motivasi murahan, ia mulai menemukan ritmenya. Kalimat keluar lebih lancar, tatapan lebih hidup, dan tangisnya — oh, tangisnya — bahkan membuat bagian tata rias meneteskan air mata. Mungkin karena ikut stres.

Ketika sutradara akhirnya berteriak, “CUT!” ruangan hening sejenak, lalu Jono menepuk tangannya.
“Lihat? Aku bilang juga apa. Kamera itu cuma mata orang kaya yang kesepian.”

Sore itu Iyem berjalan ke ruang ganti dengan langkah ringan. Untuk pertama kalinya dalam hidup, ia merasa menjadi seseorang — meski seseorang itu adalah karakter fiktif yang baru saja ditinggal tunangannya dan kehilangan ayam peliharaannya di adegan dua.

Hari-hari berikutnya berjalan seperti roller coaster yang dikelola oleh biro perjalanan spiritual: capek, menegangkan, tapi membuat ketagihan.
Iyem belajar berteriak dengan air mata, tersenyum dengan luka, dan menunggu lampu hijau kamera seperti menunggu takdir yang sabar.

Lisa dan Evi, dua pengawal yang lebih sering berdebat daripada berdoa, tetap menemaninya di lokasi.
Lisa sibuk mengatur jadwal makan sehat Iyem, sementara Evi memastikan Iyem tidak jatuh cinta pada pemain utama pria (karena itu pekerjaannya).
Keduanya seperti dua bidadari yang diutus dari dunia HRD — cantik, cerewet, dan saling ingin memecat satu sama lain.

Setelah tiga bulan, syuting akhirnya selesai.
Iyem menatap poster pertama filmnya dengan wajah tak percaya.
Ia yang dulu cuma tukang sapu salon kini berdiri di depan kamera dengan nama baru, wajah baru, dan potensi skandal baru.

Jono memandangnya dari jauh sambil menghembuskan asap rokok, separuh bangga, separuh cemas.
Dalam hati, ia tahu:
semua bintang bersinar sebelum akhirnya terbakar.

Tak ada yang memberi tahu Iyem bahwa mimpi bisa datang dalam bentuk undangan gala dinner—dan berakhir dengan rasa hangover moral keesokan paginya.
Malam itu, Jakarta tampak seperti perempuan tua yang baru keluar dari klinik kecantikan: berkilau di luar, rapuh di dalam.

Lampu hotel berpendar di kaca mobil, menyilaukan mata dan logika. Di kursi belakang, Iyem menatap pantulannya sendiri. Ia tampak seperti dirinya, hanya lebih mahal. Gaun hitam, sepatu hak sembilan senti, dan senyum yang ia latih selama seminggu di depan cermin—senyum yang harus bertahan bahkan jika dunia runtuh, atau eyeliner-nya luntur.

Beruntung, malam itu dunia belum runtuh.
Baru saja berguncang sedikit, waktu Dewa menggenggam tangannya dengan cara yang membuat jantung Iyem lupa tugasnya.

Begitu keluar dari mobil, serbuan blitz kamera membuat keduanya tampak seperti pasangan kerajaan yang baru turun dari mimpi buruk bergaya haute couture. Iyem melangkah di karpet merah dengan senyum yang setengah gugup, setengah “tolong jangan sampai aku jatuh.”

Di dalam ruangan, kristal bergantungan dari langit-langit seperti hujan beku yang lupa mencair. Musik lembut mengalun, para tamu meneguk sampanye dengan percaya diri orang yang tidak tahu harga beras.
Iyem menatap langit-langit itu lama. “Aku yakin pernah di sini,” gumamnya pelan.
Lalu, agar tidak terlihat aneh, ia cepat-cepat menambahkan, “Mas, berapa kira-kira harga satu kristalnya?”

Dewa terkekeh kecil. “Mungkin satu juta?”
“Serius?”
Dewa mengangguk dengan senyum yang terlalu tenang untuk laki-laki yang baru saja menyebut angka tujuh digit.

Sepanjang malam, Iyem tidak berhenti menghitung.
Bukan doa atau kenangan—tapi jumlah kristal dikali satu juta.
Dan di antara percikan tawa dan kilau blitz, ia seperti lupa bahwa malam itu seharusnya tentang dirinya.

Acara berakhir dengan cara yang hanya bisa dilakukan oleh orang kaya: terlalu lama, terlalu riuh, dan terlalu banyak alkohol untuk disebut elegan.
Iyem tertawa, menari, lalu lupa bagian mana yang nyata.
Yang ia ingat hanya Dewa—dan bibirnya yang mendekat seperti janji yang tidak bisa ditarik kembali.

Cincin berlian menyusul kemudian, muncul dari kotak kecil seolah-olah hidup bisa diselesaikan dengan batu berkilau.
“Menikahlah denganku,” kata Dewa.
Iyem, dalam keadaan antara mabuk dan tersihir, hanya bisa mengangguk.
“Iya… aku mau.”

Dan dunia pun berputar sedikit lebih cepat dari seharusnya.

Ia terbangun keesokan paginya, dengan kepala berat dan dinding asing di sekelilingnya. Tirai jendela terbuka, menampilkan pemandangan Jakarta dari ketinggian—cantik, tapi tidak ramah.
Suara ponselnya berdering.
“Yem! Lo udah baca berita? Lo viral!” Suara Evi terdengar seperti alarm kebakaran di pabrik micin.

Iyem mendehem. “Nanti, Evi. Aku… sibuk.”
“Ngapain sibuk? Buka aja portal gosip, lo bakal—”
Teleponnya mati. Iyem menatap layar sebentar, lalu baru menyadari sesuatu di jarinya.
Cincin berlian. Benar-benar ada.

Ia menatapnya lama, mencoba mengingat. Gala. Dewa. Anggur. Ciuman. Lampu-lampu.
Lalu—gelap.

Ia mendongak.
Kamar asing. Seprai wangi. Dan dari arah kamar mandi, muncul seorang pria hanya dengan kimono putih.
Rambutnya basah. Senyumnya tenang. Wajahnya… tidak asing. Tapi bukan Dewa.

“Good morning,” katanya dengan suara rendah, seperti barista yang terlalu percaya diri.

Iyem terpaku.
“Oh no,” gumamnya pelan, lalu menutup tubuhnya dengan tirai jendela.

Ada tiga hal yang tak bisa dijelaskan dengan logika manusia:
mimpi yang terasa nyata, kenyataan yang terasa mimpi,
dan bagaimana seorang gadis bisa bangun di kamar orang asing dengan cincin pertunangan di jarinya.

Dan untuk pagi itu, Iyem mengalami ketiganya sekaligus.

* * *


IYEMRELACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang