Kepergian Santi mendadak seperti sinyal Wi-Fi mati saat rapat online: semua orang mendadak bego dan tidak tahu harus ngapain.
Iyem kecewa, Evi naik pitam, dan geng Ganesha terlihat seperti sekumpulan ayam kehilangan induk — tapi masih sempat gosip di sela panik.
Begitu Ika dan Wiwi menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi — soal kamera pengintai tersembunyi di seluruh rumah — suasana hening seperti rapat RT yang menemukan malingnya sendiri.
“Ya sudah, biarin aja dia pergi,” kata Evi akhirnya, dengan nada dingin yang lebih mirip ancaman diplomatis.
Tapi Iyem tidak bisa membiarkan Santi begitu saja. Tidak saat semua mulai terasa aneh, dan dia sendiri mulai takut tidur sendirian.
Setelah panggilannya tak diangkat, Iyem mengetik pesan panjang — kalimat yang lebih mirip surat cinta darurat daripada pesan WhatsApp.
Santi, anak-anak di sini butuh kamu. Terutama aku.
Akhir-akhir ini aku sering mengalami hal yang aneh,
tapi aku nggak mau bikin yang lain khawatir.
Kembalilah.
Ganesha tanpa kamu seperti pagar tanpa kunci — nggak aman.
Temanmu yang sangat membutuhkanmu,
Iyem.
Pesan terkirim.
Iyem membaca ulang seperti orang menatap puisi yang baru ia tulis dari perut ketakutan.
“Semoga kamu belum pergi, San,” bisiknya.
Tak lama kemudian, Ika dan Wiwi datang. Keduanya bersimpuh di kaki Iyem seperti anak kecil yang baru ketahuan main lilin di kamar mandi.
“Kami mau minta maaf, ’Yem. Semua ini salah kami,” kata Ika, dengan air muka yang cukup meyakinkan untuk jadi bintang sinetron religi sore hari.
Iyem tersenyum tipis. “Dia pasti balik,” katanya pelan.
Ika dan Wiwi saling pandang — ekspresi mereka campuran antara harapan dan keputusasaan.
Mereka tahu Santi keras kepala. Jenis orang yang kalau bilang “selamat tinggal,” berarti benar-benar sudah ganti nomor.
Hari berganti malam, tapi balasan dari Santi tak kunjung datang.
Iyem mencoba menelepon, tapi yang menyambut hanya suara otomatis yang terdengar seperti ejekan lembut dari semesta: “Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif.”
Ia memandangi ponselnya lama-lama, lalu berbaring di kasur.
Ada rasa tidak aman yang pelan-pelan tumbuh di dadanya, seperti jamur di dinding kamar mandi — diam tapi mematikan.
Karena, sejak ulang tahunnya, hal-hal aneh itu tak berhenti menghantui.
Malam itu, di kamar mandi hotel, Iyem sedang mencuci muka ketika tiba-tiba merasa tidak sendiri.
Dari pantulan cermin, ia melihat seorang wanita berambut panjang berdiri di belakangnya — tersenyum lembut.
“Iyem, anakku. Jangan takut. Ini Ibu,” kata wanita itu.
Iyem gemetar. Ia berbalik perlahan, dan benar — wajah itu adalah wajah ibunya, yang selama ini hanya ia kenal dari foto-foto lama.
Tangisnya pecah, ia memeluk sosok itu erat. Wanita itu membalas pelukannya, menepuk punggungnya lembut.
Ada aroma melati yang menenangkan — sampai sebuah suara lain terdengar dari arah belakang.
“Lepaskan dia.”
Suaranya identik dengan wanita yang sedang memeluknya.
Iyem ingin menoleh, tapi pelukan itu menahan kepalanya di dada, makin kuat, makin mencekik.
Lalu, tawa. Tawa yang pelan tapi menggema di kepala, seperti orang tertawa di dalam sumur.
“Ibu… lepaskan aku,” bisik Iyem, napasnya tersengal.
“Aku tidak akan pernah melepaskanmu, Iyem.”
Suara itu berubah. Lebih berat, lebih dingin.
Iyem mendongak — dan wajah ibunya tetap sama, tapi suaranya bukan lagi suara ibu.
Lalu, muncul suara lain dari arah tak terlihat.
“Kau tidak akan pernah bisa mengambil jiwanya, Charlotte.
Kekuatanmu tak ada artinya dibanding kekuatannya.”
KAMU SEDANG MEMBACA
IYEMRELA
Mystery / Thriller- dongeng modern tentang cinta, kelas sosial, dan karma yang tak pernah tamat - Iyem hanyalah gadis kampung biasa, sampai Madam Juliet-wanita berkuasa dengan gaya bicara seperti kontrak kredit macet-menjodohkannya dengan pewaris PT DEWO. Demi kelan...
