30- Bonjour, Julia

27 1 2
                                        

Bersama Jonathan dan Alice, Evi tiba di sebuah hotel kecil di pusat kota Paris — hotel yang konon “berbintang empat”, tapi bintangnya sepertinya hasil imajinasi admin situs booking.
Begitu check-in, ketiganya langsung bergegas menuju Louvre Museum.

Antrian sudah seperti barisan manusia yang menunggu wahyu. Untungnya, Jonathan sudah membeli tiket daring. Evi memujinya seperti pahlawan, Alice menyebutnya “makhluk berguna pertama yang kutemui di benua ini.”

“Udah lama gue pengin ke Louvre,” komentar Alice sambil menatap antrean. “Tapi nggak nyangka kesininya malah sama dua titisan nenek sihir yang mau lihat lukisan nenek sihir.”

“Ssst! Kamu jangan sembarangan ngomong, Alice!” bisik Evi, setengah malu, setengah takut beneran dipanggil penjaga museum pakai pentungan suci.

Mereka mengambil headset dan katalog, lalu melangkah ke ruang lukisan. Di depan pintu sayap Denon, mereka menemukan lukisan yang dicari. Di bawahnya tertera nama pelukis: Curtis.
Lukisan itu berjudul The Forbidden Love — menggambarkan pria bangsawan dan pelayan cantik yang jatuh cinta tanpa restu siapa pun, termasuk Tuhan.

Evi dan Jonathan saling pandang. Di jari Isabella dalam lukisan itu, berkilau cincin bermata biru — sama persis dengan yang dimiliki Iyem. Bedanya, di dunia nyata cincin itu muncul entah dari mana, sementara di lukisan ini tampak seperti pameran dosa yang artistik.

“Jonathan,” gumam Evi, “rumah di lukisan ini... mirip rumah Isabella di mimpiku. Tapi kenapa di sini kelihatannya mewah banget?”

“Mungkin waktu itu dia belum bangkrut?” jawab Jonathan datar.

Evi mendesah. “Atau belum mati.”

Ia menatap lagi lukisan itu — rumah hangat, langit lembut, cinta abadi, semua hal yang tidak pernah terjadi di kehidupan nyata. “Kita harus cari tahu siapa pelukis ini,” ujarnya mantap.

Jonathan ragu. “Dia hidup tahun 1825. Kamu mau email siapa?”

Tapi Evi bukan tipe yang menyerah hanya karena manusia itu sudah meninggal dua abad lalu. Keras kepala adalah warisan genetik keluarga besarnya — keluarga yang seluruhnya bekerja di dunia hukum. Ayahnya pengacara sukses, kakeknya hakim, pamannya jaksa, bibinya notaris.
Hanya Alice yang menyimpang: jadi sales herbal dengan diskon buy one get satu penyakit gratis.

Pencarian mereka membawa ke sebuah rumah yang kini disegel tali kuning polisi. “Tanda resmi bahwa di sini pernah ada kebodohan ekstrem,” kata Alice sambil selfie.

Begitu membuka ponsel dan melihat hasil foto, wajah Alice langsung berubah. “Ev, lo liat deh.”

Rumah itu ternyata milik keluarga bangsawan yang seluruh penghuninya mati dengan peluru di kepala masing-masing. Hanya suaminya yang selamat—kalau bisa disebut selamat—karena berakhir di rumah sakit jiwa. Saat ditangkap, pria itu menjerit menyebut nama Charlotte sebagai pelaku.

Pria itu bernama Martin, keturunan dari pelukis Curtis — dan Curtis sendiri adalah keturunan dari bangsawan bernama Eddy, penulis kisah The Princess White Heart and the Witch.

Evi terduduk, menyentuh keningnya. “Kutukan itu nggak ada habisnya. Kayak cicilan.”

Alice menimpali, “Kenapa sih nenek sihirnya dendam banget sama keturunan Eddy?”

Jonathan menjawab tenang, seperti dosen di seminar absurd:
“Menurut legenda, saat Eddy menemukan tubuh Julia, dia juga menemukan dua kuburan bertanda silang hitam — tanda bahwa dua nenek sihir sudah dikubur di sana. Eddy membakar tubuh mereka. Tapi dia nggak tahu, Julia sengaja membiarkan penguburan itu... karena api nggak bisa membunuh mereka. Sihir mereka cuma bisa mati kalau jantungnya ditikam emas.”

IYEMRELATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang