11- Lamaran di Ujung Lift

39 4 0
                                        

Pertemuan mendadak dengan Madam Juliet membuat Iyem nyaris kehabisan oksigen. Selama tiga tahun, ini baru kali kedua ia bertatap muka dengan wanita itu. Di pesta perusahaan kemarin pun, Iyem hanya sempat melihat sang Madam memberi sambutan sebelum lenyap seperti hantu bersetelan Chanel.

Kali ini pertemuan diadakan di kantor Madam—gedung tinggi yang seolah berambisi menusuk awan. Iyem belum pernah masuk gedung semegah itu. Bahkan lift-nya saja terasa seperti alat penyiksaan. Setiap lantai yang dilewati membuat jantungnya melompat lebih tinggi daripada kabel penyangga lift.

Untunglah ada satpam yang baik hati, bukan hanya menemani sampai lantai teratas, tapi juga dengan polosnya melaporkan ke Madam bahwa “non kita takut ketinggian, Bu.”
Iyem ingin segera menghilang dari muka bumi. Tapi Madam Juliet hanya menatapnya datar, seperti sedang menilai saham yang sedang turun, lalu berkata tanpa nada:

“Kalau kamu tidak suka sama Dewa, kamu boleh menolak. Saya sudah bilang ke Pak Agung, keputusan di tangan kamu.”

Iyem masih terdiam. Perjodohan dengan pewaris PT DEWO? Itu bukan sekadar kejutan—itu seperti ditawari tiket pesawat ke surga tanpa tahu cara check-in.
Siapa yang menolak pria tampan dan kaya? Mungkin hanya perempuan dengan gangguan kejiwaan atau trauma sandal hotel. Tapi anehnya, Ia sama sekali tidak merasakan getaran apa pun saat berdansa dengannya. Tidak seperti saat bersama pelayan tampan mirip aktor Korea itu… siapa ya namanya? Rendi? Dendi? Sandi?

Iyem menghela napas panjang. Dari kaca depan mobil, Pak Aji yang setia mengamatinya seperti ayah yang baru saja membaca nilai rapor anaknya.

“Kenapa, Non?”

Iyem terlonjak. “Pak Aji, kenapa panggil saya Non sekarang?”

“Memang dari dulu pantasnya Non, bukan Mbak. Non itu… lebih berkelas,” katanya sambil menyeringai.

Iyem menahan tawa. “Pak Aji kenal Dewa?”

“Siapa yang tidak kenal Dewa, Non. Dia yang tidak kenal saya.”

Iyem tertawa kecil. Tapi begitu menyebut nama Dewa, tawa itu terasa hambar. “Madam mau menjodohkan saya sama dia.”

Kali ini Aji menatap serius dari kaca spion. “Non sendiri suka?”

Iyem mengangkat bahu—jawaban universal dari orang yang bingung antara cinta dan nasib.

“Mungkin coba dulu, Non,” kata Aji bijak. “Kalau sudah kenal, baru diputuskan mau lanjut atau mundur pelan-pelan. Madam pasti punya alasan.”

Lampu merah menyala. Seorang perempuan dengan anak kecil mengetuk kaca mobil. Tanpa pikir panjang, Iyem mengulurkan uang. Bayangan di kaca menatapnya kembali—seorang gadis muda yang bahkan belum tahu mau jadi siapa, tapi sudah diminta jadi istri siapa.

“Makasih, Pak Aji. Saya akan pikirkan baik-baik.”

Sebijak-bijaknya pikiran, tetap kalah matang dibanding intuisi seorang wanita sukses yang sudah kenyang makan manusia. Dan Madam Juliet termasuk di dalamnya.
Maka setelah sebulan penuh perenungan, Iyem akhirnya mengambil keputusan yang akan menentukan hidupnya—sebuah keputusan yang mungkin terdengar romantis, tapi berpotensi menjadi bencana berskala korporat.

Madam Juliet sama sekali tidak terkejut ketika Iyem mengemukakan syarat-syarat sebelum menerima perjodohan itu. Malah ia tampak puas—seolah baru saja menemukan bukti bahwa gadis kampung itu tidak sebodoh yang dunia kira.

“Saya akan sampaikan syarat-syarat yang kamu berikan,” katanya tenang, seperti sedang menutup negosiasi bisnis.

Beberapa jam kemudian, Madam Juliet langsung menelpon Agung, pemilik PT DEWO. Di ujung sana, terdengar suara tawa seorang pria yang sudah terlalu sering menganggap dunia sebagai lelucon pribadi.

“She’s so cute,” kata Agung sambil menyeringai.
“Syarat dari gadis kampung? Lucu juga, Madam. Tapi tentu saya setuju.”

Namun tawanya mendadak terhenti saat Madam Juliet membalas dengan suara dingin yang bisa membekukan saham:

“Semua persyaratan dari Iyem akan ditulis dan ditandatangani secara legal oleh kedua pihak. Pengacara saya akan menghubungi Anda. Okay?”

Agung tercekat. Dunia tiba-tiba terasa seperti ruang sidang.

Esoknya, di ruang rapat beraroma parfum mahal dan pendingin udara yang kelewat dingin, Iyem duduk kaku di antara dua dunia: hukum dan cinta. Di depannya terbentang selembar dokumen dengan judul besar yang membuatnya menelan ludah.

PERSYARATAN DARI PIHAK PERTAMA (IYEM) SELAMA PENJODOHAN

1. Pihak Kedua (Dewa) wajib membiarkan Pihak Pertama menyelesaikan pendidikan minimal hingga SMA.

2. Perkenalan dan pendekatan dilakukan minimal tiga kali seminggu, menyesuaikan jadwal Pihak Pertama.

3. Masa pendekatan berlangsung minimal satu tahun.

4. Apabila pendekatan tidak berjalan baik, Pihak Pertama berhak membatalkan perjodohan tanpa konsekuensi hukum maupun moral.

Iyem membaca kembali keempat pasal itu. Apakah aku baru saja membuat kontrak magang untuk cinta?
Ia melirik ke arah Madam Juliet yang duduk tak jauh dari sana, menatapnya dengan ekspresi seorang CEO yang sudah memprediksi semua angka laba rugi.
Tatapan itu berkata tanpa suara: “Tanda tangan saja, Nak. Dunia memang begini.”

Dengan tangan bergetar, Iyem menandatangani kertas itu. Pena mahal itu terasa seperti sumpit emas di tangan petani. Lalu giliran Dewa—sang pewaris, sang pangeran korporat—menandatangani dengan gaya santai seorang yang terbiasa menandatangani nasib banyak orang.

“Senang akhirnya kita bisa bertemu lagi,” katanya lembut, seperti dialog sinetron yang direkam dengan pencahayaan berlebihan.

Iyem tersipu. Ia tidak tahu bagian mana yang membuatnya gugup—perjodohan yang rasanya seperti kontrak merger, atau caranya Dewa mencium tangannya saat berpamitan.

“Sampai ketemu lagi, ya. Kabarin kalau kamu sempat.”

Suaranya halus, tapi meninggalkan gema aneh di dada Iyem—sesuatu antara degupan dan tanda tanya. Malam itu, untuk pertama kalinya dalam sejarahnya yang belum panjang, Iyem mengirim pesan cinta.

“Mas Dewa, tidak punya persyaratan juga selama penjodohan ini?”

Tak lama kemudian ponselnya bergetar. Balasan singkat muncul di layar:

“Boleh dinner minimal seminggu sekali?”

Iyem tersenyum. Dan malam itu, untuk pertama kalinya sejak kecil, ia tidak bermimpi tentang ayahnya—melainkan tentang meja makan dengan taplak putih, dua sendok berkilau, dan seseorang yang mungkin—mungkin saja—bisa mencintainya sesuai pasal tiga ayat dua.

* * *










IYEMRELACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang